Omset Penjualan Pedagang Pasar Tradisional Melorot 30 Persen

0
112 views
Masih Berlangsung Penurunan Omset Penjualan Ragam Komoditi Para Pedagang Grosir.

“Daya Beli Penduduk Garut Hanya Rp19 Ribu/Hari”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 08/07 – 2017 ).

Masih Berlangsung Penurunan Omset Penjualan Ragam Komoditi Para Pedagang Grosir.
Masih Berlangsung Penurunan Omset Penjualan Ragam Komoditi Para Pedagang Grosir.

Foto Berita Garut News pada akhir pekan ini, Sabtu (08/07-2017), memotret banyaknya kalangan pedagang di Pasar Tradisional Guntur Ciawitali Garut, Jawa Barat, yang kini kian berkeluh-kesah lantaran masih terjadinya penurunan omset penjualan ragam komoditi yang mereka perdagangkan.

Kondisi tersebut diperparah berlangsungnya sejak menjelang Shaum Ramadlan 1438 H/2017 hingga Sabtu (08/07-2017) setiap harinya rata-rata terjadi penurunan omset penjualan mencapai 30 persen.

Pedagang Khusus Mata Dagangan Asin di Pasar Tradisional Kadungora.
Pedagang Khusus Mata Dagangan Asin di Pasar Tradisional Kadungora.

Keluhan itu, antara lain dikemukakan Ny. Dadang yang selama ini menyediakan ragam mata dagangan termasuk sembilan bahan pokok, dengan sebagian besar konsumennya para pemilik warung maupun kios di pemukiman penduduk.

“Penurunan omset penjualan rata-rata mencapai 30 persen ini bernilai sekitar Rp4 juta setiap harinya, sedangkan dalam kondisi normal total omset penjualan setiap hari rata-rata bisa mencapai Rp15 juta,” ungkapnya.

Ungkapan keluhan senada juga disampaikan para pedagang grosir lainnya di pasar tradisional tersebut, termasuk pedagang khusus komnoditi ikan asin di Pasar Tradisional Kecamatan Kadungora.

Di Pasar Ciawitali Guntur, Harga Jengkol Rp40 Ribu/kg, dan Petay Rp6 Ribu/Papan.
Di Pasar Ciawitali Guntur, Harga Jengkol Rp40 Ribu/kg, dan Petay Rp6 Ribu/Papan.

Menurut mereka, masih terjadinya penurunan omset penjualan antara lain diperkirakan akibat sulitnya sosial perekonomian masyarakat.

Sebab para pemilik warung dan kios pun, juga banyak yang berkeluh kesah masih terjadinya penurunan omset penjualan ragam komoditi yang diperdagangkannya itu.

“Daya Beli Penduduk Garut Hanya Rp19 Ribu/Hari”

Rata-rata kemampuan pengeluaran maupun daya beli penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya Rp19 ribu/hari/per kapita.

Kerap Sepi Pembeli.
Kerap Sepi Pembeli.

Jika daya beli tersebut, hanya dimanfaatkan memenuhi kebutuhan makan  dan minum.

Maka alokasi biayanya Rp6 ribu rupiah setiap makan. Agar setiap individu warga Garut bisa menikmati tiga kali makan dalam sehari-semalam.

Maka bisa dipastikan sangat rendahnya kualitas menu makanan bernilai Rp6 ribu itu, kondisi sangat memprihatinkan ini, juga kian diperparah rata-rata lama sekolah penduduk kabupaten setempat hanya 6,88 tahun, sedangkan harapan lama sekolahnya 11,69 tahun.

Berdasar sumber BPS RI menunjukan, kondisi daya beli penduduk Garut tersebut,  bertengger pada urutan kedua terparah dari 27 kabupatenb/kota di Provinsi Jabar setelah kabupaten Cianjur.

Karena pengeluaran maupun daya beli penduduk Garut 2016 itu Rp7.079.000 per kapita per tahun, dengan rata-rata lama sekolahnya bertengger pada posisi keenam terbawah dari 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.

Penduduk Miskin Kota Garut mengais Rezeki Menjadi Pemulung.
Penduduk Miskin Kota Garut mengais Rezeki Menjadi Pemulung.

Sedangkan kondisi “Indeks Pembangunan Manusia” (IPM) Garut, 63,64 atau pada urutan ketiga dari bawah pada 27 kabupaten/kota di Jabar, setelah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Tasikmalaya.

Sehingga diperlukan survey kepuasan konsumen oleh konsultan publik, sebab status “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) dari BPK merupakan penilaian pada lingkungan intern pemerintahan.

Sejauh ini pun Kabupaten Garut, tak memiliki target capaian angka kelulusan sekolah pada setiap jenjang pendidikan, khususnya lulusan SD dan SMP maupun sederajat.

Penurunan Omset Penjualan Juga Dialami Pedagang Daging Ayam.
Penurunan Omset Penjualan Juga Dialami Pedagang Daging Ayam.

Dalam pada itu, rendahnya IPM Garut, sangat didominasi rendahnya kontribusi komponen indeks kesehatan, menyusul angka kematian ibu dan anak baru melahirkan di Kabupaten Garut paling tinggi di Provinsi Jawa Barat.

Terkait dimensi umur panjang dan hidup sehat, sangatlah dipengaruhi angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka kematian kasar.

Pada 2016 di Kabupaten Garut terjadi 74 kasus kematian ibu, serta 333 kasus kematian bayi.

Yang menyebabkan posisi kabupaten tersebut, berkasus kematian ibu dan bayi tertinggi di Provinsi Jawa Barat, dan jabar tertinggi di Indonesia.

 

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here