Omset Penjualan Pakaian Adat Sunda Terus Melorot

0
17 views

Garut News ( Selasa, 05/08 – 2014 ).

Wakil Bupati, Helmi Budiman Juga Setiap Rabu Mengenakan Pakaian Adat Sunda. (Foto: John Doddy Hidayat).
Wakil Bupati, Helmi Budiman Juga Setiap Rabu Mengenakan Pakaian Adat Sunda. (Foto: John Doddy Hidayat).

Omzet penjualan pakaian adat khas Sunda di Garut, Jawa Barat, terus melorot.

Terasa berlangsung sejak Mei lalu.

“April lalu, penjualan masih bagus. Tetapi memasuki Mei hingga kini terus anjlok. Susah sekali dapat pembeli,” kata Yuyu Wahyu(49), pedagang pakaian khas Sunda di Jalan Ahmad Yani, asal Kampung/Desa Cangkuang Leles, Selasa (05/08-2014).

Menurut Yuyu, penyebab anjloknya omzet penjualan pakaian khas Sunda tersebut antara lain bermunculannya pedagang musiman, terutama lantaran kini para PNS banyak memiliki pakaian tersebut.

Dikatakan, pakaian khas Sunda dijajakannya diserbu banyak pembeli bahkan dipesan sejumlah kantor di lingkungan Pemkab Garut pada Februari, Maret, dan April.

Menyusul diwajibkannya para PNS di lingkungan Pemkab/Setda setempat, oleh Bupati mengenakan pakaian khas Sunda, setiap Rabu.

“Selama tiga bulan itu, setiap hari pakaian nyunda bisa habis lusinan. Kantor-kantor bahkan memesan puluhan lusin. Tetapi sekarang, dalam sepekan pun, paling-paling hanya dua laku. Itu juga susah,” keluh Yuyu.

Meski omzet penjualan pakaian pangsinya sepi, Yuyu mengaku masih bertahan dalam usahanya.

Terutama lantaran penjualan penutup kepala berupa iket kain batik, atawa blangkon masih diminati masyarakat.

Harganya pun bervariasi juga terjangkau masyarakat, mulai Rp15 ribu hingga Rp40 ribu per buah.

“Kalau ikat kepala dan blangkon masih suka yang beli setiap hari juga, tiga hingga lima buah. Tetapi pangsi sepi. Dijual sesuai modal seharga Rp100.000 pun sangat susah,” kata Yuyu.

Ungkapan senada dikemukakan pedagang lain, biasa berjualan sekitar lingkungan kantor Pemkab Garut, Asep Sutisna(55).

“Sekarang ini, saya hanya bisa mengandalkan pendapatan menjual blangkon. Itu juga mesti dilakukan berkeliling masuk keluar kantor. Kalau mangkal di satu tempat, nggak ada yang beli,” katanya.

Yuyu dan Asep berharap keharusan mengenakan pakaian adat Sunda juga diterapkan lebih luas, bukan hanya pada kalangan PNS.

Jika itu diberlakukan, keduanya yakin omzet penjualannya kembali meningkat.

*******

Noel, Jdh.