Nuansa Panorama Alam Garut Penuhi Harapan Wisatawan

0
25 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 15/05 – 2016 ).

Koswara.
Koswara.

M.A.W Brouwer, selama ini antara lain dikenal sebagai kolumnis handal sejumlah media cetak Ternama Indonesia.

Bahkan nama besarnya juga diabadikan pada gedung laboratorium psikologi milik perguruan tinggi negeri di Bandung, Jawa Barat.

Ungkapannya yang terkenal di antaranya : “Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum”.

Tak ada harapan yang menggembirakan, selain hubungan manusia. (Antoine de Saint-Exupery, Penulis dan Penerbang Berkebangsaan Prancis).
Tak ada harapan yang menggembirakan, selain hubungan manusia. (Antoine de Saint-Exupery, Penulis dan Penerbang Berkebangsaan Prancis).

Bumi “Pasoendan” atawa termasuk “Tatar Priangan Timoer” beribukota di “Garoet”, sehingga barangkali lantunan lagu “Halo-halo Bandoeng Ibukota Periangan” itu “keliru”, yang benar mungkin menjadi “Halo-halo Garoet”…..he.he.

Lantaran Garut pun, nuansa panorama alamnya memesona sesuai yang diungkapkan Brouwer.

Bisa memenuhi harapan kalangan wisatawan menikmati suasana “reus” (Bahasa Sunda asal Bahasa Belanda) maupun “Rest” (Inggris).

Fenomena berlimpah-ruahnya ragam sumber daya alam destinasi wisata tersebut, juga antara lain diakui Kepala Seksi Informasi dan Kumunikasi pada “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata” (Disbudpar) kabupaten setempat, Drs Koswara.

Memesona.
Memesona.

Koswara mengakui hal itu kepada Garut News, Ahad (15/05-2016) di Kebun Mawar Kecamatan Samarang, saat mendampingi kunjungan kalangan wisatawan.

Sejauh mata memandang hingga berbataskan awan jingga langit biru, hamparan aneka flora mewarnai angan serta “asa” (harapan) terjamahnya kenikmatan “surga” dijanjikan Allah SWT.

“Manakala menikmati miniatur keindahannya disajikan marcapada alam Tatar Priangan ini”

Terlebih lagi, jika senantiasa sumber daya tersebut. Dijaga, dipelihara, ditata, serta dikelola dengan hati dan jari-jemari keshalehan manusia.

Indah Merekah, "Mawar Berduri".
Indah Merekah, “Mawar Berduri”.

Dipastikan, alam beserta lingkungannya bakal memberikan kenikmatan pada setiap individu penghuni Bumi Pasoendan itu.

Menyusul, perlakuan manusia yang bersahabat dengan alam dan lingkungan dimanapun dan kapanpun, tak mengenal dimensi ruang dan waktu. Maka alam beserta yang tumbuh di permukaannya juga bakal ikhlas dinikmati manusia.

Sebab alam beserta lingkungan juga merupakan “amanah” yang patut mendapatkan perlakuan sebaik mungkin.

Apalagi sekarang, “volume bisnis pariwisata setara atau bahkan melampaui ekspor minyak, produksi makanan atau mobil” (United Nations World Tourism Organization).

Menawan.
Menawan.

Karena itu, “ketika kita menanam pepohonan, kita menanam benih-benih perdamaian dan benih-benih harapan” (Wangari Maathai, Pendiri Gerakan Sabuk Hijau).

Meski, “pada akhirnya kita hanya akan mengonservasi apa yang kita sayangi, kita hanya akan menyayangi apa yang kita pahami, dan kita hanya akan memahami apa yang diajarkan” (Baba Doum, Tokoh Lingkungan Senegal).

Padahal, “semua orang di dunia bergantung pada alam dan jasa yang disediakan oleh ekosistem guna mendapatkan kehidupan yang layak, sehat dan aman” (Millenium Ecossystem Assessment 2005).

Kebersamaan.
Kebersamaan.

Namun, “bila anda ingin kemakmuran selama satu tahun, tanamlah jagung. Bila anda ingin kemakmuran selama sepuluh tahun, tanamlah pohon. Bila anda ingin kemakmuran selama seratus tahun, Didiklah manusia” (Peribahasa Cina).

Dan, “ketika saya melihat bumi dari angkasa, dengan seluruh keindahan tak terlukiskan dan kerapuhannya, saya baru menyadari bahwa tugas terpenting umat manusia adalah mensyukuri dan memeliharanya bagi generasi masa depan” (Sigmund Jahn, Kosmonaut Jerman).

 

*******