Novel John Grisham dan Pesta Demokrasi

by

Garut News ( Jum’at, 22/11 ).

ILUSTRASI Pemilu. | SERAMBI/M ANSHAR
ILUSTRASI Pemilu. | SERAMBI/M ANSHAR

Muak dengan politik?

Menganggap pemilu hanya kepentingan para calon mendapatkan kursi empuk jabatan idaman?

Berpendapat, pemilu tak ada urusan dengan kita setiap hari berjibaku di jalanan, dan tempat kerja sekadar bisa makan?

Maka, paling tidak bacalah novel The Appeal karya John Grisham.

Tidak, novel ini tak bertele-tele bicara soal pemilu, dan jabatan politik diperebutkan.

Alih-alih bercerita soal pesta demokrasi sebatas pemilu sebagaimana dipahami sebagian besar dari kita, The Appeal menjalin cerita dari sebuah kasus hukum pencemaran lingkungan.

Awal cerita

Adalah sebuah perusahaan kimia multinasional, membayar murah para pekerja di suatu wilayah dan membuang limbah langsung ke tanah, kalah di pengadilan negara bagian dengan hukuman denda total mencapai 41 juta dollar AS.

Dalam rupiah, pakai kurs hari ini, denda itu setara sekitar Rp450 miliar.

Perusahaan tersebut, dituduh menjadi penyebab tercemarnya air di seluruh wilayah tersebut, memicu beragam penyakit, termasuk kanker ganas.

Bukan satu atau dua warga menderita penyakit itu, lantaran angka kasusnya 15 kali angka rata-rata penderita kanker se-Amerika Serikat.

Singkat cerita, perusahaan kimia itu pun mengajukan banding.

Tunggu dulu, jangan cepat-cepat bosan.

Bukan denda itu, membuat si pemilik perusahaan kalap.

Dampak ikutannya membuat dia kemudian “memanfaatkan habis-habisan” sistem demokrasi untuk keuntungannya.

Kalah gugatan langsung berdampak pada kerugian senilai 1 miliar dollar AS pada perusahaan tersebut, kira-kira lebih dari Rp11 triliun, hanya dalam waktu satu hari.

Kerugian dari anjloknya harga saham.

Penurunan harga saham pun berlanjut dari waktu ke waktu.

Harga saham semula di atas 30 dollar AS, dalam hitungan pekan anjlok hingga di bawah 10 dollar AS per lembar.

Dana kampanye, pencitraan, penokohan, dan kenaifan

Kasus perusahaan kimia melawan warga negara itu, kebetulan bersamaan waktunya dengan habisnya periode masa jabatan hakim agung negara bagian federal.

Kebetulan pula, hakim agung bakal habis periode jabatannya, dan kudu ikut pemilihan untuk bisa jadi hakim agung lagi, sosok moderat selama ini dikenal sangat teliti, dan rasional menelaah kasus banding.

Maka, langkah pertama pemilik perusahaan kimia tersebut, merekrut perusahaan konsultan pemenangan pemilu, dengan kesepakatan ongkos delapan juta dollar AS.

Tujuan kerja sama ini, tak ada satu sen pun uang perusahaan kudu keluar membayar denda, dan setiap sen hilang dari jatuhnya saham kudu kembali, bahkan jika bisa berlipat.

Syarat kesepakatan dengan konsultan tersebut cuma satu, yakni tak sekali pun nama perusahaan kimia muncul terkait dengan apa pun dilakukan untuk mengalahkan hakim moderat.

Tak ada catatan di sumbangan dana kampanye maupun segala isi materi kampanye.

Maka, urutan cerita kemudian, kemunculan figur ideal “sempurna”, tanpa cacat, mewakili psikologi rakyat setempat, didominasi kaum konservatif.

Muncullah sosok ganteng, aktif di tempat ibadah, menjadi pelatih tim olahraga setempat, dan mempunyai keluarga harmonis dengan anak-anak manis.

Isu diangkatnya mewakili kegelisahan, dan kegeraman para pemilih.

Sementara si hakim moderat dibantai dengan isu, dia penganut aliran liberal, berpihak pada penjahat, dan pengambil keputusan buruk.

Secara bersamaan, dimunculkan pula tokoh kontroversial, abal-abal, secara frontal dan vulgar menghajar si hakim moderat.

Di belahan lain negara bagian itu, bank memberi kredit pada pengacara pembela warga wilayah “limbah” perusahaan kimia dibeli pula si pemilik perusahaan kimia.

Tentu, melalui perusahaan lain tak terlacak kaitannya dengan perusahaan kimia.

Pasangan pengacara warga itu, dibangkrutkan dari sisi hukum dan finansial.

Dana kampanye dibatasi ketat di Amerika diakali kubu “figur ideal” dengan memanfaatkan celah waktu audit menjelang hari pemilihan.

Daftar pemilih dipelajari sungguh-sungguh, memetakan suara dan memerkirakan berapa persen hak pilih akan digunakan.

Singkat cerita, hakim moderat kalah telak, dengan pemilihan diikuti sekitar 60 persen pemilih saja.

Hakim “ideal” terpilih tanpa pernah tahu siapa penyusun skenario kemunculannya atawa kepentingannya.

Warga terbuai dengan gambaran figur ideal, tanpa peduli ketiadaan rekam jejak maupun minimnya kapasitas si sosok “ideal”.

Hakim moderat, sebenar apa pun pandangan hukumnya, ditebas hak one man one vote, hanya digunakan 60 persen pemilih.

Inilah demokrasi

Hingga tibalah hari-hari hakim agung baru ikut pengambilan keputusan kasus banding.

Kerap kali dalam kasus pelik, suaranya sebagai “si orang baru” menentukan hasil akhir, saat posisi sebelum suaranya imbang antara pendukung atawa penentang putusan pengadilan negara bagian dari delapan hakim agung lain.

Atas nama semua janji kampanye, hakim agung baru ini membatalkan kemenangan gugatan dari ibu seorang anak cedera permanen tersambar lontaran logam terlontar lantaran mesin pemotong rumput.

Alasannya, tak bisa dipastikan perusahaan pembuat alat, dan operator mesin itu melakukan kelalaian menyebabkan insiden, dan cacat pada anak tersebut.

Dilema terjadi ketika anak si hakim yang jagoan bisbol terhantam bola di tengah pertandingan. Ternyata alat pemukul yang dipakai lawan menyalahi ketentuan federasi, tetapi tak pernah ada penarikan alat oleh perusahaan pembuatnya. Diperparah, dokter rumah sakit salah mengambil hasil scan kepala anak si hakim. Anak itu pun cacat permanen.

Si hakim agung “ideal” baru bisa memikirkan anak cacat korban alat pemotong rumput pada saat anaknya sendiri tak pernah lagi bisa berlari di lapangan.

Anaknya cacat permanen sebab alat ilegal tak pernah ditarik produsennya, dan lantaran telat penanganan akibat kecerobohan dokter.

Tetapi, atas nama janji kampanye, hakim “ideal” ini tak bisa menggugat produsen maupun si dokter.

“Itu sama saja menjilat ludah sendiri,” ujar dia. Sama naifnya dengan para pemilih disodori fakta hitam putih tanpa menelaah, dan merasionalkan penilaiannya.

Pada akhirnya, dalam situasi itu, hakim agung “ideal” ini memutuskan perusahaan kimia di awal cerita memenangi sidang banding.

Sebuah catatan “putusan ini saya buat dengan kebimbangan luar biasa” tak punya arti dalam kacamata hukum.

Pada hari putusan dibuat, perusahaan kimia seketika menangguk keuntungan tiga miliar dollar AS, setara Rp33 triliun.

Sementara pengacara warga penyakitan dengan utang 400.000 dollar AS mengajukan kepailitan, tak pernah ada pembersihan zat kimia di kota itu, dan warga terkena kanker tak sesen pun mendapatkan ganti rugi.

Otak pemenangan si hakim agung baru itu, konsultan direkrut perusahaan kimia, hanya berkomentar ringan, “Terima kasih demokrasi. Rakyat menentukan pilihan.”

Pada hari putusan dibuat, kontrak lain bertujuan serupa mengantre, dengan nilai jasa berlipat kali.

Editor : Palupi Annisa Auliani/Kompas.com