Nostalgia

0
88 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 07/02 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Ini tahun 2016. Pada umur 75, masa depan saya jauh makin sedikit ketimbang masa lalu saya. Pada umur ini orang lazimnya akan gugup dengan masa kini, karena di abad ke-21 masa kini kian didera masa depan. Teknologi yang mengelilingi kita dipasang bukan untuk sekarang: kereta api cepat, mobil dengan energi matahari, komunikasi hologram…. Hidup seperti bergerak tanpa mampir ke hari ini.

Tapi di celah-celah itu ada nostalgia.
Kadang-kadang kita duduk. Di depan kita, sebuah meja kayu mahogani. Meja “Victorian”, sebuah katalog menyebutnya, tapi tak amat penting informasi ini. Meja antik itu tetap memikat, dari mana pun zamannya, sebab ia langka.

Ia bukan seperti meja kebanyakan yang digelar di toko mebel. Sesuatu yang berbeda, yang tak terduga, memang memberi nilai tambah dalam kreasi manusia. Tapi ada hal lain: meja itu menarik karena ia bertaut dengan kesadaran waktu yang kini tak ada lagi.

Ia hasil craftsmanship, atau “kekriyaan”, proses kerja yang dalam bahasa Jawa ditandai sikap “titis, telaten, taberi”. Dengan kata lain, ia dibuat dengan gerak tangan yang seakan-akan menyatu dengan alat, bahan, dan rancangan. Semuanya berjalan dengan bebas, dengan intens, tak peduli waktu, hingga karya selesai.

Kini kita kehilangan intensitas kerja pra-industrial itu. Rasa kehilangan itu, nostalgia, bukan kehilangan sebuah milik. Svetlana Boym, dalam The Future of Nostalgia, dengan bagus menggambarkannya sebagai kehilangan “irama yang lebih perlahan dari mimpi-mimpi kita”.

Nostalgia, kata Boym, melawan gagasan modern tentang waktu. Di dunia modern waktu adalah mesin hitung dalam gerak sejarah, dan gerak sejarah adalah kemajuan.

Tapi nostalgia bukan sepenuhnya pembangkangan. Nostalgia bisa produktif. Ia membentuk utopianya sendiri, membangun sebuah imaji tentang masa lalu yang utuh, memukau, menimbulkan rindu. Tapi utopia itu sebenarnya tak menangkap masa lalu itu sebagaimana adanya.

Masa lalu tak akan pernah kita ketahui kembali dengan persis. Sebab itu dalam nostalgia utopia itu tak mengarah ke sana, tapi “ke samping”. Nostalgia, kata Boym, bukan anti-modern, melainkan “off-modern”.

Kata off itu menunjukkan keadaan terlepas, dan dalam hal ini terlepas dari modernitas. Nostalgia sebenarnya sebuah interupsi terhadap perjalanan yang lurus maju. Ia membawa kita berbelok dari narasi sejarah yang seakan-akan memastikan bahwa the idea of progress adalah kebenaran manusia.

Dalam nostalgia, kita diam-diam meninggalkan kegandrungan kita kepada “yang baru”. Tapi tak berarti kita hendak membuat “yang lama” sebagai kuil tempat kita menutup diri.

Nostalgia hanya mencegah kita jadi “malaikat sejarah” yang duduk dalam kokpit pesawat pancar gas, yang (berbeda dengan Angelus Novus dalam gambar Paul Klee) hanya menatap ke depan dengan gugup karena ia tak bisa lagi membedakan mana unggunan puing dari kerusakan akibat zaman yang bergerak dan mana awan yang menutupi konstelasi bintang petunjuk arah. Nostalgia tak menyukai malaikat ini.

Tapi terkadang tidak. Terkadang nostalgia membuahkan sesuatu yang juga menakutkan, ketika ia hanya berarti algia (kerinduan) dan nostos (kembali ke rumah).

Boym dengan tepat melihat, ketika “kerinduan” jadi desakan “kembali ke rumah”, dan menimbulkan energi yang berkecamuk di masyarakat, ia bisa jadi bagian ideologi-ideologi yang melahirkan monster.

Boym tampaknya ingin mengacu ke nostalgia ala Nazi. Naziisme merayakan Blut und Boden, pertalian “darah dan tanah”. Ikatan primordial itu menolak mereka yang bukan “pribumi”, dan dengan itu Hitler membasmi orang Yahudi, kaum tsigana yang mengembara, dan semua oknum yang bukan Jerman.

Pasca-Nazi, datang yang lain: orang-orang yang ingin kembali ke ajaran yang “asli-murni” sebuah utopia yang kaku. Mereka tak mau tahu yang “asli-murni” niscaya berubah ketika dipandang dari posisi yang berubah. Asal-usul yang mereka kenang hari ini, dalam usia sekarang, sebenarnya adalah bagian fantasi dan utopia.

Kemudian fantasi itu mereka anggap bukan fantasi dan utopia itu bukan utopia. Mereka mengubah nostalgia jadi doktrin sebuah sindrom “fundamentalisme” yang menganggap masa lalu, manusia, dan teks bisa terbentuk di luar sejarah.

Untunglah, tak semua nostalgia melahirkan rabun itu. Memandang almari antik, di depan bangunan kota tua, di latar pastoral pedesaan, nostalgia adalah rasa sayu yang berkabung.

Mungkin ini perkabungan manusia modern, yang sekaligus terasa sebagai sebuah pengalaman estetik: kita bersua dengan sesuatu yang tak disangka-sangka, mempesona, dan membuat kita terpekur. Kita merasakan hidup sedang memberi hormat kepada waktu.

********
Goenawan Mohamad/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here