Nomor Cantik

by

– Iwel Sastra, komedian, @iwel_mc

Jakarta, Garut News ( Senin, 09/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Bernas Intan Ini ada di Bekasi bukan di Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Bernas Intan Cantik Ini ada di Bekasi bukan di Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Istilah nomor cantik populer di masa telepon seluler menjadi tren di Indonesia.

Penjual kartu perdana menawarkan aneka nomor cantik dengan harga beragam.

Semakin cantik sebuah nomor, harganya semakin mahal.

Nomor cantik semakin mahal bila angkanya mudah diingat atau susunan angkanya menarik.

Padahal, untuk telepon seluler, nomor cantik itu sudah tidak ada artinya ketika seseorang menyimpannya beserta nama kita di pesawat teleponnya.

Saat menelepon, yang keluar bukan lagi nomor cantik, melainkan nama.

Namun saya belum pernah menemukan ada yang menjual nama cantik.

Nomor cantik juga menjadi tren untuk pelat nomor kendaraan.

Biasanya pelat nomor cantik dihubungkan dengan tanggal lahir atau nama si pemilik.

Ketika membeli mobil baru, seorang teman yang baru menikah memesan pelat nomor dengan memasang tanggal pernikahan diakhiri inisial huruf namanya dan pasangan.

Sayang, rumah tangga teman ini tak bertahan lama.

Saya ingin tahu apakah dia kemudian mengganti pelat nomornya dengan tanggal perceraian.

Seniman Sys Ns menggunakan rangkaian B 515 NS untuk pelat nomor kendaraannya.

Terinspirasi oleh Sys Ns, saya pun memesan pelat nomor B 1 WEL.

Sayangnya, permintaan saya ditolak karena saya belum memesan mobil.

Selain angka yang menjadi nomor cantik, kita mendengar mitos angka sial, yaitu angka-angka yang biasanya dihindari untuk digunakan.

Di Cina, angka 4 dihindari karena angka 4 disebut “shi”, yang bermakna kematian.

Di Indonesia, banyak yang menilai angka 9 adalah angka bagus, namun masyarakat Jepang menghindari angka 9 karena pengucapan “ku” untuk angka 9 berarti penderitaan.

Angka 13 di Amerika dihindari karena dianggap sebagai angka sial.

Di Indonesia, secara umum banyak orang yang menghindari angka 13.

Bagi saya, semua angka baik dan memiliki perannya sendiri.

Bahkan saya termasuk orang yang berani memilih angka 13 dalam berbagai pilihan hidup saya.

Pernah saya diminta memilih honor manggung 10 atau 13 juta, maka saya dengan berani memilih angka 13 juta.

Nomor cantik juga berlaku di ranah politik.

Pada pemilu legislatif 9 April 2014 lalu ada beberapa partai politik yang mengincar nomor urut tertentu.

Biasanya nomor urut yang diincar adalah nomor urut kecil.

Ini tidak ada hubungannya dengan keberuntungan, hanya untuk memudahkan mengacungkan jari ketika kampanye.

Mendapatkan nomor urut antara 1 sampai 5 selama kampanye cukup mengacungkan satu tangan serta mengembangkan jari sesuai dengan nomor urut partai.

Bagi yang dapat nomor urut 6 sampai 10 sedikit repot mengacungkan dua tangan sambil mengembangkan jari sesuai dengan nomor urut partai.

Yang mendapatkan nomor urut di atas 10, tentu lebih repot lagi.

Dalam pemilihan presiden 9 Juli 2014 hanya tersedia dua nomor urut, yaitu 1 dan 2.

Saya menilai kedua nomor urut ini sama cantiknya.

Ini terlihat dari kreativitas para tim sukses capres yang mengolah nomor urut menjadi bahan kampanye.

Prabowo-Hatta mengajak calon pemilih menyerukan “satu-satunya pilihan adalah nomor satu”.

Jokowi-JK menyebar pesan “kesehatan nomor satu, presiden nomor dua”.

Menurut saya, yang paling penting bagi capres bukanlah nomor urut cantik, melainkan program cantik.

Program-program yang dikemas cantik dan berpihak kepada rakyat, bukan kepada partai koalisi maupun pemodal. *

 *******

Kolom/Artikel : Tempo.co