Nelayan Pesisir Selatan Garut Terpuruk Bekerja Serabutan

Garut News ( Rabu, 29/01 – 2014 ).

Dua Kepala keluarga Nelayan, Kini Jalani Profesi Penyeberang Wisatawan ke Pulau Santolo. (Foto: John Doddy Hidayat).
Dua Kepala keluarga Nelayan, Kini Jalani Profesi Penyeberang Wisatawan ke Pulau Santolo. (Foto: John Doddy Hidayat).
Sebagian besar dari sekitar 6.400 kepala keluarga atawa nelayan pesisir Garut Selatan, Jawa Barat, berkondisi terpuruk.

Perahu tradisional mereka tak bisa melaut menjaring ikan, lantaran kondisi cuaca buruk sejak akhir 2013.

Sangat berbahaya sebab ketinggian ombak rata-rata bisa mencapai di atas tiga meter.

Demikian dikemukakan kalangan nelayan Cilauteureun Pamuengpeuk, termasuk Dunden(45), Rabu (29/01).

Ungkapan senada juga dikemukakan Duleh(54).

Ketinggian Ombak Berbahaya, Terpaksa Perahu Pencari Ikan Banyak Tertambat di Dermaga Santolo. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ketinggian Ombak Berbahaya, Terpaksa Perahu Pencari Ikan Banyak Tertambat di Dermaga Santolo. (Foto: John Doddy Hidayat).
Dua kepala keluarga ini, selama ini pula terpaksa bekerja serabutan, yang penting bisa memenuhi kebutuhan minimal keluarganya.

Kerap menjadi kuli bangunan, atawa kuli di pasar, bahkan jika keperluan mendesak bergantian dengan rekan dekatnya menjadi pengemudi ojek, ungkap Dunden dan Duleh.

Berdasar informasi dari Disnakanla kabupten setempat, kebutuhan perdagangan ikan ke luar kota mencapai sekitar 8.000 ton per tahun.

Terpenuhinya permintaan tersebut, para pedagang terpaksa mengambil stok ikan dari pangandaran dan Sukabumi.

Padahal pesisir pantai Garut Selatan membentang pada lintasan sejauh 83 km lebih, dengan sekitar tujuh wilayah kecamatan.

Sumber penting lainnya kepada Garut News katakan, besarnya dana direncanakan membayar saksi Pemilu, idealnya juga bisa dinikmati nelayan saat ini berkondisi “paceklik”, katanya.
*****

Pelbagai Sumber.

Related posts

Leave a Comment