Negeri Miskin Pemimpin

by

Indra Tranggono, Pemerhati Kebudayaan

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 11/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Rakyat Sangat Perlukan Pemimpin Waras. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Rakyat Sangat Perlukan Pemimpin Waras. (Foto: John Doddy Hidayat).

Tingginya popularitas Jokowi dalam berbagai survei calon presiden RI telah “menggelisahkan” para tokoh yang hendak maju sebagai calon presiden.

Integritas, komitmen, dan kapabilitas Jokowi, yang selama ini tampak dalam peran sosialnya sebagai pejabat publik, dianggap sebagai modal budaya, sosial, dan politik potensial.

Untuk sementara, bisa disebut-didasari hasil berbagai survei-Jokowi adalah “presiden imajiner” RI.

Presiden imajiner tidak abstrak.

Ia ada.

Ia menjadi sosok ideal yang terbayang dalam benak rakyat.

Survei tidak menghadirkan angka-angka mati.

Data yang terjaring dan disistematisasi menghadirkan signifikansi tanda dan kecenderungan pilihan publik.

Dalam ilmu komunikasi, hal itu disebut realitas psikologis, yakni kenyataan yang muncul dari pendapat atau pernyataan individu-individu dalam masyarakat dan mewakili perasaan dan sikap atau aspirasi mereka.

Jatuh cinta publik kepada Jokowi dapat dibaca sebagai indikator bahwa selama ini negeri ini senyap dari pemimpin sejati.

Indonesia yang hanya memiliki satu pemimpin (yang dibayangkan) ideal semacam Jokowi memberi dua makna.

Pertama, di negeri ini ternyata masih ada orang baik atau memiliki kualitas kepribadian yang tecermin di dalam gairah pengabdiannya kepada publik.

Jokowi yang selama ini dianggap secara fisik dan penampilan “tidak punya potongan” sebagai pemimpin/presiden, hadir sebagai penggugur mitos bahwa pemimpin/presiden harus memiliki keelokan fisik.

Ada pergeseran di dalam persepsi publik dalam membaca pemimpin: dari pencitraan ke otentisitas diri.

Kedua, favoritisme rakyat atas Jokowi menunjukkan bahwa sejak era Sukarno dan Soeharto, negeri ini miskin pemimpin sejati, meski pre­siden demi presiden selalu bermunculan.

Dengan kata lain, presiden yang muncul tidak otomatis memiliki kapasitas dan watak kepemimpinan.

Artinya, selama ini rakyat belum menemukan sosok presiden yang mampu mendarmakan atau mewakafkan seluruh integritas, kapabilitas, dan komitmennya kepada rakyat.

Kebanyakan presiden yang ada cenderung sibuk dengan agenda personalnya.

Ada memang beberapa cuatan penting dari kinerja beberapa presiden, tapi hal itu bagi rakyat kebanyakan dianggap kurang mengesankan.

Kebebasan pers, demokrasi, dan pluralisme, yang dirintis beberapa presiden, oleh rakyat kebanyakan dianggap hanya memenuhi kepentingan kelas menengah-atas.

Rakyat lebih merindukan kesejahteraan yang konkret: terjaminnya hak-hak fundamental, seperti pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, pangan, papan, keamanan, keadilan, dan kebebasan di dalam menjalankan keyakinan berdasarkan agamanya.

Fenomena Jokowi menun­jukkan bahwa selama ini para pemimpin yang digadang-gadang muncul sebagai “matahari baru” ternyata kurang bekerja secara optimal membangun peradaban (etika dan etos) bangsa yang tetesannya adalah kemakmuran berkeadilan dan kesejahteraan.

Para tokoh politik yang muncul sebagai capres, di mata rakyat hanya bekerja ke­tika musim pemilu tiba.

Mereka yakin: persepsi rakyat bisa diubah dalam tempo singkat melalui iklan politik di berbagai media.

Kenyataan yang menggelikan itu menegaskan: mereka hanya hidup dalam ja­gat maya, sedangkan rakyat membutuhkan kehadiran mereka di jagat nyata.

**** Kolom/artikel Tempo.co