Nasionalisme Erros Djarot

Denny Sakrie,
Pengamat Musik

Garut News ( Ahad, 16/02 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ketika hampir semua anak band Indonesia pada awal era 1970-an berlomba mematut-matutkan diri dengan sederet pemusik rock mancanegara, mulai dari The Rolling Stones, Led Zeppelin, Black Sabbath, hingga Deep Purple, Erros Djarot malah terobsesi ingin membentuk band yang hanya mau memainkan karya sendiri dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Jelas ini perilaku menyimpang saat itu.

Tolok ukur pergaulan ketika itu memang cenderung kebarat-baratan.

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Tapi, toh, Erros berontak, tetap ingin mengedepankan sebuah jati diri dalam berkarya: menulis lagu dalam bahasa Indonesia.

Periksalah karya-karya musik Erros Djarot mulai dari era Barong’s Band hingga album soundtrack Badai Pasti Berlalu, yang fenomenal itu, niscaya Anda tak menemukan satu lagu pun yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Sebuah nasionalisme agaknya mulai tertatah dalam kredo berkesenian seorang Erros, bukan hanya lewat medium musik, tapi juga merambah hingga ke dunia sinema.

Obsesi Erros untuk membuat album rekaman dengan menggunakan lirik berbahasa Indonesia terwujud dalam album soundtrack Kawin Lari (1976).

Bahkan, dalam album ini, Erros meminta Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo menyanyikan lagu dengan gaya langgam keroncong.

Sedangkan di pentas pertunjukan, sederet pemusik Indonesia berbangga diri disebut sebagai Mick Jagger Indonesia, Deep Purple Indonesia, hingga Led Zeppelin Indonesia.

Menarik untuk dicatat bahwa, ketika bersama band yang dibentuknya, Barong’s Band, akan merekam album Kawin Lari, Erros sengaja membeli sejumlah kaset-kaset pop Indonesia yang tengah beredar saat itu, seperti Koes Plus, Panbers, The Mercy’s, Bob Tutupoly, Eddy Silitonga, Ade Manuhutu, Arie Koesmiran, dan masih banyak lagi.

“Kaset-kaset itu kami dengarkan dan pelajari. Kami telaah melodinya dan menyimak tema-tema syairnya. Ini merupakan referensi sebelum kami melangkah lebih jauh lagi bersama Barong’s Band,” kata Erros suatu ketika.

Hingga akhirnya, Erros berkesimpulan bahwa pemusik Indonesia banyak yang terjebak dalam komersialisasi belaka.

Kreativitas bermusik terkuras dengan begitu banyak karya-karya pesanan yang sering kali mengatasnamakan selera pasar atau selera masyarakat.

Pada saat proses penggarapan album Barong’s Band, Erros bahkan berbuat sesuatu yang agak ekstrem.

“Setiap anggota Barong’s tidak boleh mendengarkan rekaman pemusik Barat. Agar musikalitas mereka tak terganggu. Jadi, saya memang menginginkan karya-karya kami lebih orisinal,”
kata Erros.

Pada awal era 1970-an, Erros mengenyam pendidikan di Jerman sambil membentuk band bersama anak-anak Indonesia yang juga tengah bersekolah di Koeln.

Mereka memainkan lagu-lagu Barat.

Namun Erros justru merasa kian gelisah saat bergabung dengan Kopfjaeger, demikian nama band-nya yang kerap hanya tampil sebagai band pembawa lagu-lagu orang saja.

Diam-diam Erros menyimpan obsesi besar, yaitu membuat band yang bernuansa Indonesia.

“Saya merasa gelisah. Nasionalisme saya seolah tertantang untuk diwujudkan. Perasaan cinta bangsa rasanya memang baru terasa berkobar-kobar jika kita tengah merantau di negeri orang. Saat di Jerman, saya selalu merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Sehebat apa pun Anda, secerdas apa pun atau sejenius apa pun, Anda tetap dianggap sebagai warga kelas dua. Ini tentu menyakitkan. Saat itu nurani saya berontak. Saya bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan sedang bersekolah di Jerman berinisiatif membentuk band yang dinamakan Barong’s Band,” Erros mengungkapkan.

Barong’s Band terbentuk 40 tahun silam.

Tahun 1974 merupakan langkah pertama Erros dalam dunia musik.

Pada tahun itu, Erros juga mulai menulis lagu sendiri.

Dalam penulisan lagu, wilayah kreatif Erros terbelah dua, antara penulisan lagu-lagu beratmosfer romansa dan kritik sosial.

Erros memang selalu meletup-letup di satu sisi, akan tetapi di sisi lain ia bisa terkesan luar biasa romantis.

Erros memang mengakui hal itu.

“Jika saya tergerak secara intelektual, maka akan berhamburanlah lirik bertema kritik sosial. Tapi, jika impuls emosional saya bekerja, maka tertuanglah lagu-lagu yang romantik, seperti isi sebagian besar album Badai Pasti Berlalu,” katanya.

Kita pun mulai mendengarkan kegeraman Erros yang tertuang dalam lagu yang sarat kritik terhadap republik ini, mulai dari Negara Kita, Negeriku Cintaku, hingga Superstar Tango.

Simaklah lirik lagu yang lugas dari lagu Negeriku Cintaku:

Hai kaum muda masa kini, kita berantaslah korupsi/Jangan kau biarkan mereka menganiayai hati kita

Tapi kita pun terbuai oleh lirik-lirik lagu bernuansa romansa, seperti Bisikku, Andai Bulan, Angin Malam, dan Merpati Putih, serta sederet lagu lainnya dalam album Badai Pasti Berlalu.

Termasuk lagu Rindu, yang ditafsir ulang Agnes Monica.

Ketika terjadi kerusuhan besar pada 1998, Erros menulis lagu dengan lirik yang menyesakkan dada: Jangan Menangis Indonesiaku.

Lagu ini memang tidak pernah dirilis secara resmi, melainkan hanya dibagi-bagikan kepada kerabat terdekat.

Saat itu media cetak yang dipimpin Erros dibredel pemerintah.

Ruang gerak Erros yang dibebat membuatnya berontak yang diekspresikan dalam delapan karya lagu.

Tapi album ini tak boleh beredar, karena Erros masih dianggap sebagai sosok berbahaya.

Beberapa lagu tersebut akhirnya ditampilkan dalam konser 40 tahun Erros Djarot Berkarya, 14 Februari lalu, di Jakarta Convention Center.

Di mata saya, Erros Djarot adalah trubadur yang mengungkap peristiwa-peristiwa dalam lirik-lirik yang menyentuh, jujur tanpa pupur kata.

Pada 2014, saat tahun berkarya Erros memasuki 40 tahun, dia masih menulis lagu, di antaranya Indonesiaku, yang bertutur tentang mimpi-mimpinya tentang negerinya, serta Tuhan Ampuni Dosa Kami, yang merupakan renungan tentang bencana.

“Mungkin bencana ada karena kesalahan kita sendiri,” kata Erros.

Seorang seniman sejati memang tak pernah jeda dalam berkarya.

Erros adalah trubadur yang tetap melakukan penyaksian.

Saya pun teringat akan ungkapan bijak yang bertutur bahwa seniman dan karyanya adalah saksi peradaban.

******
Tempo.co

Related posts

Leave a Comment