Museum R.A.A Adiwidjaja Garut Siap Dikunjungi Wisatawan

0
124 views

“Museum tak hanya ruang pamer, dan gudang penyimpanan. Melainkan bisa dijadikan laboratorium, termasuk audio visual, diorama, perpustakaan, kantor, sarana peneliti, dan toko suvenir”

Garut News ( Senin, 28/04 – 2015 ).

Mlenik Maumeriadi dan Garoet Tempo Doeloe.
Mlenik Maumeriadi dan Garoet Tempo Doeloe.

Kepala “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata” (Disbudpar) Kabupaten Garut, Drs Mlenik Maumeriadi menyatakan meski dengan kondisi yang terbatas.

Tetapi Pemkab dalam hal ini Disbudpar kabupaten setempat, senantiasa berupaya serius mengembangkan museum.

Guna meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat, juga menggali potensi sumber “pendapatan Asli Daerah” (PAD) baru, ungkap Mlenik Maumeriadi.

Dalam pada itu, Esais Bandung Mawardi, pada tulisannya di Tempo.co antara lain mengemukakan Museum mengemban misi pengawetan sejarah dan memori ketokohan.

Ratusan tahun silam, Belanda mendirikan dan mengenalkan museum ke mata pribumi.

Berlokasi di Seputar Bundaran Simpang Lima.
Berlokasi di Seputar Bundaran Simpang Lima.

Pendirian Bataviaasch Genootschap (1778) menjadi pembuktian awal kebermaknaan museum bagi ilmu, kolonialisme, dan identitas “Barat”.

Museum berisi koleksi arkeologis, mata uang, dan naskah.

Kesejarahan Bataviaasch Genootschap melaju di perlintasan waktu, berubah nama menjadi Museum Nasional (Lombard, 1996).

Kita mewarisi gagasan dan materialisasi museum.

Di Solo, 28 Oktober 1890, berdirilah museum bernama Radya Pustaka, menghimpun koleksi naskah dan buku.

Museum menjadi rumah literasi.

Koleksi beragam tema mengajak kaum intelektual, pujangga, pejabat, dan publik belajar tentang sastra, etika, agama, seni, politik, makanan, serta pakaian.

Museum di Indonesia memiliki sejarah ratusan tahun.

Kesadaran mengartikan museum berlatar nasionalisme diwujudkan dalam Musjawarah Museum di Yogyakarta, 11-14 Oktober 1962.

Prijono menerangkan: “… maka di tanah air kita adanja atau akan didirikan museum-museum nasional dalam berbagai-bagai lapangan, istimewa dalam lapangan arkeologi dan perdjoangan/pembangunan nasional kita akan membuka mata rakjat kita akan kemampuan-kemampuan bangsa kita di zaman dulu, dan kesanggupan-kesanggupam bangsa kita di zaman sekarang dan di zaman akan datang.”

Keterangan itu bergelimang optimisme.

Kita perlahan membuka ingatan kebermaknaan museum pada masa Orde Lama segera berganti imajinasi politik-militeristik oleh rezim Soeharto.

Museum digunakan sebagai referensi imajinasi sejarah bagi publik sesuai dengan petunjuk dan obsesi penguasa.

Asrul Sani dalam cerpen berjudul Museum (1956) menganggap: “Museum adalah suatu balai jang gandjil. Ia berisi benda-benda jang djika dilihat dari katja mata kita, orang jang hidup ini, benda-benda itu seolah-olah ada karena suatu salah sangka.”

Taufiq Ismail dalam puisi berjudul Buku Tamu Museum Perjuangan (1964) memberi deskripsi ironis: “museum jang lengang”, “dalam museum ini jang lengang”, “ruangan jang sepi”.

Kepala UPTD Museum R.A.A Adiwidjaya, Aan Heryana, S.SOS, MM katakan, semula merencanakan bedah naskah kuno, namun batal lantaran tak mendapatkan alokasi APBD 2015 yang diusulkan Rp200 juta, padahal diagendakan mengundang pakar sejarah dari UNPAD.

Usulan anggaran juga guna menambah koleksi barang-barang kuno, namun meski demikian tetap komitmen mengembangkan museum ini, katanya.

Sehingga bakal segera disediakan sarana pemutaran film dokumenter Garoet Tempo Doeloe, juga bakal dilengkapi museum batu akik dilengkapi proses pengadaan seerra pembuatan hingga siap pakai.

Aan Heryana bersama tiga staf museum, juga mengelola sedikitnya 1.013 foto Garoet Tempo Doeloe, serta peta Garoet Tempo Doeloe produk 1928, yang aslinya masih terdapat di Belanda.

*******

Fotografer : John Doddy Hidayat.