Murry Sang Legenda

– E.H. KARTANEGARA, Wartawan

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 08/02 – 2014 ).

Penabuh drum grup band Koes Plus, Murry tampil pada Konser Reuni Koes Plus Live in Acoustic Exclusive Concert di Balai Kartini, Jakarta, (27/9). Koes Pulus membawakan lagu lagu hitsnya selama dua jam. TEMPO/Nurdiansah
Penabuh drum grup band Koes Plus, Murry tampil pada Konser Reuni Koes Plus Live in Acoustic Exclusive Concert di Balai Kartini, Jakarta, (27/9). Koes Pulus membawakan lagu lagu hitsnya selama dua jam. TEMPO/Nurdiansah
Satu set drum Ludwig putih seolah berdiri dalam kesendirian di antara ingar-bingar musik rock di panggung besar Jambore Band IMK, di Istora Senayan, Jakarta, 7 November 1970.

Ribuan penonton, yang saat itu mulai keranjingan hard rock, sama sekali tak menyangka dari balik drum itu akan muncul kejutan yang gemanya bukan hanya menjangkau masa depan perkembangan band di Indonesia, melainkan juga melahirkan legenda baru seorang penabuh drum.

Drummer itu tak lain adalah Kasmuri, yang kemudian dipanggil Murry. Kejutan lebih besar datang dari Koes Plus. Metamorfosis Koes Bersaudara (KB) itu dengan “berani” membawakan lagu ciptaan mereka, Derita dan Manis dan Sayang, yang waktu itu belum begitu dikenal publik.

Di mata Erwin Gutawa, yang menggarap album dan konser “Salut untuk Koes Plus”, permainan drum Murry sangat modern (Rolling Stone, November 2008).

Pukulannya jernih, bertenaga, bernas, galak, berani, dan memiliki fill-in yang mantap.

Kemunculan Koes Plus dalam Jambore Band itu sebenarnya didasari oleh sikap “rendah hati.”

Di panggung musik pop Indonesia, grup musik anak-anak Koeswoyo bukan lagi kelas jambore.

Sejak 1962, mereka mengibarkan bendera KB, yang sudah populer dengan sejumlah hit seperti Bintang Kecil, Pak Tani, Pulau Bali, Telaga Sunyi, Bis Sekolah, dan Dara Manisku.

Mereka merupakan grup musik pertama dalam sejarah musik pop Indonesia yang berformat band, bukan sekadar pengiring penyanyi sebagaimana banyak kelompok musik lain sezamannya.

KB merupakan band pelopor yang dalam lipatan sejarah politik Orde Lama menanggung dosa subversif: dituduh apolitis, kontra-revolusi, dan anti-nasionalisme, “hanya” karena memainkan musik ngak-ngik-ngok, rock and roll.

Mereka (Tonny, Nomo, Yon, dan Yok) dijebloskan ke dalam penjara tanpa proses pengadilan.

Dalam telaah Krishna Sen dan David T. Hill dalam Media, Budaya, dan Politik di Indonesia (2001), untuk pertama kalinya sebuah band pop menjadi korban kemelut politik.

Ini merupakan sebuah preseden ganjil sekaligus buruk yang hanya terjadi di Indonesia.

Dibebaskan dari penjara pada September 1965, hal ini malah menyulut nyali mereka untuk melakukan perlawanan lewat musik.

KB yang semula memainkan musik pop manis berubah menjadi keras dengan meneriakkan Poor Clown dan To Tell So Called All the Guilties (1967).

Ini merupakan dua lagu keras pertama dalam sejarah musik pop Indonesia (E.H. Kartanegara, “Lagu Keras, Perlawanan Sebisanya”, Koran Tempo, 14 September, 2002).

Lagu-lagu mereka lekas populer di kalangan kaum muda lewat stasiun-stasiun radio amatir yang menjamur di berbagai kota, bersamaan dengan euforia gerakan perlawanan pelajar dan mahasiswa selepas tumbangnya rezim Orde Lama.

Bintang mereka mencorong terang, tapi sekaligus meredup.

Pemain drum Nomo Koeswoyo, yang kemudian diikuti Yok, berhenti bermain musik.

Hidup sebagai pemusik tak jelas masa depannya.

Dia memilih berbisnis.

Bagi Tonny, arsitek utama KB, problem besar bukan kemiskinan, melainkan musikalitas.

Hampir tak mungkin mempertahankan musikalitas KB dengan mengandalkan harmoni duet vokal Yon dan Yok, yang menjadi trade mark dan kelak melegenda.

Duet Yon-Yok tak ubahnya John-Paul dalam The Beatles yang tak tergantikan oleh siapa pun.

Saat krisis itulah muncul nama Kasmuri, drummer grup musik Patas.

“Mas Tonny naksir banget permainan Murry. Pukulannya keras, karakternya kuat,” tutur Yon.

Bersama Murry dan pemain bas baru, Totok AR, mereka menelurkan rekaman album pertama: Dheg Dheg Plas (1969).

Perhatikan diksi judul itu: artikulasi bunyi drum Murry.

Itulah esensi, filosofi, dan makna distingtif kata “plus” di belakang nama “Koes” yang akhirnya menjadi paten Koes Plus.

Ais Suhana, sahabat Murry sejak 1975 dan sering “mengawal” konser Koes Plus, mengenang Murry sebagai pemain drum yang tidak pernah rewel soal alat.

Drum putih itu simbolisasi, penghormatan etis Tonny kepada Murry.

Menurut Ais, kelebihan Murry sebagai legenda adalah kepribadiannya.

“Dia sangat rendah hati, ikhlas, loyal, hidupnya sederhana. Saat miskin dia tak malu jualan nasi uduk,” tutur dia.

Totalitasnya dalam berkarya melampaui batas seorang profesional. Ribuan penggemar yang membentuk klub-klub dan komunitas, yang bangga menyebut diri sebagai Koes Plus Mania, merasakan kehangatan pergaulan Murry yang rajin menyapa dan mengunjungi mereka di berbagai kota.

Kepribadian itu adalah sisi humanis dan makna altruistik Murry yang memegang kredo “a man behind the drum”.

Gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page, menyebut keunggulan para legenda bukan cuma pada kepiawaian dan keunggulan teknis.

Mereka memiliki dignity.

“You are on your own.”

Mereka memainkan musik yang tak bisa dipelajari di sekolah dan harus dipelajari sendiri dengan totalitas kemampuan diri sendiri pula.

Di situlah, kata dia, letak daya tariknya, sehingga musik itu bermartabat.

Saat Murry meninggal (1 Februari 2014), martabat yang menjadikan Koes Plus distingtif itu bermakna: menyejarah.

Banyak nilai diwariskan oleh para legenda yang, meminjam istilah Kuntowijoyo (2006), selayaknya menjadi ilmu, buku, dan riwayat “sejarah kejiwaan.”

Bukan cuma selesai begitu ditulis pada selembar halaman obituari.
*****

Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment