Mukjizat Jeruk Nipis Sembuhkan Patung Pancoran

by

Garut News ( Jum’at, 15/08 – 2014 ).

Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal sebagai Patung Pancoran, di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (5/5/2011). KOMPAS/AGUS SUSANTO.
Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal sebagai Patung Pancoran, di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (5/5/2011). KOMPAS/AGUS SUSANTO.

— Ketika Iwan Fals merilis lagu “Sore Tugu Pancoran” pada 1985, patung di puncak tugu yang ia nyanyikan belum pernah dimandikan.

Saat itu, Patung Dirgantara—demikian ia diberi nama—sudah berumur 19 tahun.

Baru sekarang patung itu dimandikan.

Pekan ini, Unit Pelaksana (UP) Balai Konservasi DKI Jakarta sedang sibuk mencuci patung di ketinggian 27 meter itu. Bayangkanlah bagaimana “daki” di kulit-nya.

Kotoran—tepatnya karat—menjadi penyakit kronis setiap obyek berbahan logam.

Patung Dirgantara bukan kekecualian karena terbuat dari logam perunggu.

Inilah obat yang akan dipakai untuk menyembuhkannya: “obat herbal” bernama jeruk nipis.

Jeruk nipis terbukti mampu membersihkan bahan-bahan logam dari karat.

Ini resep dari zaman para empu masih menempa keris.

Saat itu, jeruk nipis telah digunakan untuk mencuci senjata.

Rahasia khasiat jeruk nipis dalam membersihkan karat terletak pada proses pembentukan kotoran itu.

Hubertus Sadirin, ahli konservatori pada UP Balai Konservasi mengatakan, Patung Pancoran yang berada di ruang terbuka terus-menerus terpapar panas, udara lembab, dan zat kimia.

“Itu semua mengoksidasi logam penyusun patung,” ujarnya.

Salah satu bahan kimia yang memicu karat adalah asap kendaraan karena buang itu mengandung karbon monoksida dan sulfur dioksida.

Zat kimia lain yang bisa memicu timbulnya karat adalah asam dan garam yang terdapat di lingkungan.

Dua senyawa itu bisa bereaksi dengan logam, membentuk karat tembaga sulfat, tembaga klorida, dan tembaga fluorida.

“Dari semua itu, musuh paling besarnya adalah copper (tembaga) klorida,” ungkap Sadirin saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/8/2014).

Karat, bila dibiarkan, akan menyebabkan degradasi.

Nah, jeruk nipis membantu memperlambat proses timbulnya karat itu. “Bukan menghentikan,” kata Sadirin.

Sejumlah patung di Jakarta sudah pernah dimandikan dengan jeruk nipis.

Beberapa di antaranya adalah Tugu Tani dan Patung Pemuda.

Benda-benda logam di Istana Bogor dan Istana Negara juga dibersihkan dengan bahan sama.

Jeruk nipis berkhasiat membersihkan logam dari karat karena kaya asam sitrat.

“Asam sitrat akan melarutkan logam yang teroksidasi,” ujar Mohammad Hanafi, profesor riset bidang kimia organik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Asam sitrat memiliki gugus karboksilat.

Gugus itu adalah bagian dari struktur kimia asam sitrat yang terdiri dari oksigen, karbon, dan hidrogen.

Tembaga klorida, misalnya, akan bereaksi dengan gugus karboksilat pada asam sitrat.

Hasilnya adalah senyawa kompleks yang lebih mudah dibersihkan.

Sadirin mengungkapkan, jeruk nipis juga terbukti mampu membantu membersihkan kotoran yang telah mengendap lama pada logam.

Itulah sebabnya, jeruk nipis juga menjadi senjata rahasia untuk mengilapkan perkakas rumah tangga.

Untuk membersihkan Patung Pancoran yang berbobot 11 ton dan tinggi badan 11 meter, UP Balai Konservasi cukup menggunakan 25-30 kilogram jeruk nipis.

Mula-mula jeruk dihancurkan dengan blender.

Sari yang dihasilkan akan dioleskan ke kulit patung.

Setelah lima menit, patung disikat dengan hati-hati.

Namun sebelum itu, Patung Pancoran akan mendapat pra-treatment, yakni pembersihan kering dan basah dengan disikat.

Ada tahap lain juga setelah dibasuh jeruk nipis, yakni mandi dengan alkali gliserol.

“Kita tidak melakukan tiga tahap itu pada semua bagian. Kita lihat secara teliti dulu. Kalau ada bagian yang cukup dibersihan kering dan basah, kita tidak pakai jeruk nipis. Kalau cukup pakai jeruk nipis, kita juga tidak pakai alkali gliserol sesudahnya,” urai Sadirin.

Pembersihan dengan alkali gliserol dilakukan bila kotoran atau karat belum hilang dengan jeruk nipis.

Alkali gliserol dioleskan pada obyek dan didiamkan hingga berubah biru, tanda bahwa senyawa itu bereaksi dengan kotoran dan karat.
 
“Ini tidak boleh lama-lama. Begitu bereaksi, harus segera dibersihkan,” kata Sadirin.

Langkah terakhir dalam pembersihan patung seberat itu adalah “memandikan” patung dengan air murni (akuades).

Gunanya untuk mengembalikan keasaman (pH).

Kemudian, patung akan dibasuh lagi dengan alkohol teknis.

Beres dengan Patung Pancoran, balai akan memandikan Patung Diponegoro di Monumen Nasional.

Patung Dirgantara dibersihkan pada 11-19 Agustus 2014, sementara Patung Diponegoro pada 17 September-2 Oktober 2014.

Total biaya yang dihabiskan untuk dua patung itu adalah Rp 566 juta.

*******

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com