MUI Garut : Korban Gafatar Patut Mendapatkan Advokasi

0
41 views

Garut News ( Selasa, 19/01 – 2016 ).

Ceng Munir.
Ceng Munir.

Ketua Umum “Majelis Ulama Indonesia” (MUI) Kabupaten Garut terpilih masa bhakti 2016-2021 KH. Sirojul Munir akrab disapa Ceng Munir menyatakan, korban Gafatar meski telah kembali pada keluarganya, namun mereka masih perlu mendapatkan advokasi.

Karena itu, masyarakat bisa langsung mendatangi MUI guna bersama-sama menanggulangi masalah yang dihadapi.

Menyusul tiga penduduk Kabupaten Garut baru kembali di kediamannya setelah bergabung ormas “Gerakan Fajar Nusantara” (Gafatar), tetapi masih menampakan seperti bingung atawa “linglung”.

Mereka terdiri Winarti dan dua anaknya, Sri Putri Rahma dan Andi Permana. Sebelumnya dinyatakan hilang. Namun ketika berada di kediamannya nampak seperti orang bingung.

“Sampai sekarang mereka belum mau cerita (alasan hilang), mereka kalau ngomong seperti ngelantur seperti bingung,” ungkap Linda Ibrahim, kakak ipar Winarti.

Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.
Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.

Dikemukakan, upaya menenangkan pikiran adik ipar serta kedua keponakannya itu, pihaknya meminta bantuan seorang ustad.

Dikatakan, selama meninggalkan rumah 28 Desember 2015 hingga 15 Januari 2016, adik ipar dan kedua keponakannya diketahui berada di Bekasi, dan Batam.

“Jadi Andi, sempat SMS Lia (adik kandung Winarti). Isi SMS-nya ‘Bibi Lia, saya mau pulang sekarang ada di terminal Bekasi. Jangan kasih tahu ayah’. Andi ngirim SMS-nya 15 Januari jam tujuh malam,” kata dia.

“Terus, Andi juga sempat chatting sama temannya di Facebook. Katanya mereka ada di perbatasan Indonesia-Singapura,” kata Linda.

Sedangkan, adik kandung atau suami Winarti juga masih kaget dengan kondisi dihadapi.

“Adik saya masih syok sekali kang, dia itu kalau ditanya sama wartawan enggak bisa jawab apa-apa. Maka saya datang jauh-jauh dari Palembang ke Garut mendampingi dan menguatkan mental dia,” ujarnya.

Sebelumnya, Polda Jabar menerima laporan hilangnya sejumlah orang diduga kuat bergabung Gafatar, serupa dengan kasus hilangnya dr Rica.

“Istri dan dua anak saya pergi meninggalkan rumah pada 28 Desember 2015. Saya sedang di kamar mandi ketika itu, istri saya hanya mengatakan dia membawa anak saya ke dokter,” kata Heriyadi Atmajaya(44), suami Winarti(42) beberapa waktu lalu.

Heriyadi katakan istrinya, Winarti, ketika pergi juga membawa dua anaknya, Sri Putri Rahma (lahir 23 April 1998) dan adikanya Andi Permana (lahir 27 Februari 2006). Sri pelajar kelas tiga SMK Muhammadiyah Kota Garut dan Andi pelajar SDN Regol 6 Kota Garut.

Ia melaporkan kasus hilangnya anak dan istrinya ke Polres Garut. Namun, berhubung Polres Garut menyatakan kesulitan menangani kasus tersebut, maka ia diminta untuk melapor ke Mabes Polri di Jakarta. Oleh Mabes Polri, ia kemudian diminta ke Polda Jabar.

Pada bagian lain keterangannya Ceng Munir katakan, teroris di Indonesia dari pelbagai kelompok aliran radikalis. Mengindikasikan menyatu pada kelompok ISIS, sehingga jika terdapat yang bertobat maka selain perlu kembali di bai’at juga dibina serta diampingi, ungkapnya kepada Garut News, Selasa (19/01-2016).

Sedangkan aliran radikalis berupa gerakan bunuh diri, tak terdapat di dalam ajaran Islam. Meski mereka kerap mengatasnakaman Islam.

Terdapat ajaran atawa keyakinan maupun doktrin bunuh diri, hendaknya disikapi dengan gencarnya menebar Ukhuah Islamiyah termasuk keberanian untuk berdiskusi dengan mereka, katanya.

Kepada masyarakat juga patut dijelaskan jihad sebenarnya, termasuk terus-menerus memberi pemahaman yang baik, dan benar pada setiap seluruh lingkungan pesantren.

Kepada kalangan aparat termasuk inteljen juga diimbau, senantiasa bisa meningkatkan kewaspadaan, serta mengutamakan pencegahan itu lebih baik daripada semuanya ribut ketika peristiwanya terjadi.

Mengenai fenomena Gafatar, direncanakan Pebruari mendatang terdapat fatwa dari MUI, ungkap Ceng Munir.

********

(nz, jdh).