MUI Agendakan Pemetaan Titik Lokasi Berpotensi Menyesatkan

0
26 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 17/02 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut mengagendakan pendataan dan pemetaan terhadap titik-titik lokasi potensial bermunculannya gerakan, atawa aliran keagamaan terindikasi kuat sesat, juga menyesatkan.

Ketua MUI kabupaten setempat KH Sirojul Munir katakan, pemetaan dibutuhkan guna mengetahui daerah-daerah penduduk mana rawan terjadi penyebaran aliran sesat, tersebar di 442 desa/kelurahan di 42 kecamatan se-kabupatennya. Sehingga bisa segera dilakukan pencegahan, sekaligus penanganan cepat, dan tepat.

“Yang kita petakan itu bukan hanya menyangkut aliran keagamaan diduga sesat melainkan pula gerakan kristenisasi dan sejenisnya dinilai berpotensi melanggar kesepakatan kerukunan kehidupan umat beragama. Pokoknya pelbagai gerakan merongrong agama keberadaannya diakui negara,” ungkapnya, Rabu (17/02-2016).

Ceng Munir.
Ceng Munir.

Dia mengakui, meski kepengurusan MUI terdapat pada setiap seluruh kecamatan, namun langkah pemetaan terkait aliran diduga sesat tersebut bukan pekerjaan mudah. Sehingga MUI sangat membutuhkan bantuan dan kerja sama semua pihak, termasuk organisasi-organisasi kemasyarakatan keagamaan di daerahnya.

“Kita juga menginstruksikan MUI setiap kecamatan melakukan deteksi, dan wajib melaporkan hasilnya. Serta menurunkan Komisi Penelitian dan Pengembangan, dan Komisi Fatwa, termasuk Komisi Dakwah, sesuai SOP (Standar Operational Procedure),” katanya.

Dikemukakan, di Garut terindikasi ada sejumlah aliran diduga sesat pada sejumlah tempat yang terus mendapatkan pengawasan. Termasuk organisasi Gabungan Fajar Nusantara (Gafatar), menyusul kepulangan salah satu keluarga petinggi organisasi menghebohkan ini ke kampung halamannya di Desa Paas Kecamatan Pameungpeuk.

Diingatkan, pemerintah mesti tegas menyikapi persoalan aliran sesat, dan menyesatkan itu. Begitu pula Tim “Pengawas Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat” (PAKEM), harus bergerak dan melakukan pendampingan serta pembinaan terhadap warga terindikasi mengikuti aliran sesat tersebut.

Mantan Ketua Tanfidhiyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Garut itu pun, menuturkan menetapkan sesat atau tidaknya sebuah gerakan keagamaan, khususnya mengatasnamakan Islam tak mudah. tetapi setidaknya hal itu bisa dideteksi dari asas atau pokok-pokok keagamaan dipegangnya, menyangkut Rukun Iman, Rukun Islam, dan Ihan.

“Jika asasnya tak sesuai asas Islam diakui negara, yakni Sunni, misalnya dalam hal syahadat dan salat, maka diduga kuat itu sesat. Tetapi umumnya, mereka biasanya menganggap umat Islam di luar kelompoknya sebagai kafir,” ujarnya.

Dikatakan, MUI Garut tak dapat mengeluarkan fatwa terhadap adanya aliran diduga sesat tersebut. MUI Garut hanya berkewajiban melakukan rekomendasi atas hasil temuan dan kajiannya ke MUI Jawa Barat atau MUI Pusat. Sedangkan penerbitan fatwa merupakan kewenangan MUI Provinsi, atau MUI Pusat.

********

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here