You are here
Moratorium Industri Pariwisata Darajat Menyerupai Macan Ompong BERITA UTAMA 

Moratorium Industri Pariwisata Darajat Menyerupai Macan Ompong

“Aktivitas Wisatanya Kian Merebak-Marak”

Garut News, ( Jum’at, 18/10 ).

Ilustrasi, Kadisbudpar Garut, Mlenik Maumeriadi. (Foto: John).
Ilustrasi, Kadisbudpar Garut, Mlenik Maumeriadi. (Foto: John).

Aktivitas penyelenggaraan wisata pemandian air panas alami di seputar Puncak Darajat, Pasirwangi, Garut, Jabar, kian merebak marak.

Meski Pemkab setempat, menggulirkan moratorium atawa penghentian sementara, terkait kegiatan industri pariwisata pada kawasan konservasi tersebut.

Sehingga moratorium dikeluarkan Pemkab pun terkesan mandul atawa menyerupai macan ompong, maupun tak bergigi.

Lantaran aktivitas pada kawasan ini bukan berkurang, melainkan terjadi pelebaran pembangunan.

“Seharusnya tak perlu moratorium. Toh jelas wilayah Darajat itu kawasan konservasi. Jangankan berdiri bangunan, lahan ditanami sayuran pun tak boleh. Mestinya, Pemda tegas. Tutup saja. Tak ada moratorium, atawa pembekuan. Pembekuan itu bisa dilakukan jika memang berizin, tetapi di perjalanannya ada tindakan pelanggaran,” tandas anggota DPRD Garut, Dedi Kurniawan, Kamis (17/10).

Kata dia, wilayah pemandian air panas Darajat kawasan konservasi kudu dijaga kelestariannya sebagai daerah serapan air.

Keberadaannya juga tak jauh dari kawasan perusahaan panasbumi, produksinya sangat bergantung pada ketersediaan cadangan air bawah tanah, katanya.

“Secara ekonomis-sosiologis memang sangat menguntungkan bagi perekonomian masyarakat sekitar. Namun kudu diingat, jika dibiarkan bisa jadi di masa mendatang kelestarian lingkungan semakin rusak parah. Ini juga preseden buruk bagi Pemkab di masa mendatang,” imbuhnya, menyerukan.

Ditenggarai, para pengusaha mengabaikan segala perizinan seharusnya ditempuh, seperti Izin IMB, dan sarana lain semisal kolam renang, Waterboom, juga pemondokan.

Karena itu, meminta Pemkab Garut mengkaji ulang tata ruang wilayah kawasan Darajat, kadung dikenal salah satu kawasan wisata pemandian air panas.

“Saya minta Pemerintah Daerah tegas menutup aktivitas wisata pemandian air panas di sana, lakukan pendekatan konfrehensif dengan stakeholder lain, baik PT Chevron Geothermal Indonesia, para pengusaha, tokoh masyarakat setempat, dan jajaran dinas terkait,” ungkapnya.

***** Zainul, JDH.

Related posts

Leave a Comment