You are here
Moralitas Bejat Oknum Pelajar pada Era Digital OPINI 

Moralitas Bejat Oknum Pelajar pada Era Digital

Garut News, ( Ahad, 10/11 ).

Ilustras. (Ist).
Ilustras. (Ist).

Kembali negeri ini dihebohkan beredarnya video mesum, dilakukan kalangan pelajar.

Menurut berita berhembus, pelaku video tersebut oknum siswa-siswi pada salah satu di Jakarta, kota metropolitan identik gemerlapnya kehidupan malam.

Bahkan tak tanggung-tanggung, rekaman itu dibuat sambil ditonton teman-temannya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menuturkan, adegan tersebut dilakukan suka sama suka, terlihat dari visualisasi menunjukkan kedua pelaku seperti tanpa paksaan.

Sungguh miris melihat remaja masa kini moralnya semakin bobrok, terkepung nafsu syahwat menggebu.

Banyak faktor menjadi penyebab naluri setiap manusia dipastikan memilikinya itu, muncul berkadar berlebihan.

Antara lain lantaran suguhan tayangan tak menididik seperti sinetron-sinetron kerap memertontonkan hubungan-hubungan tak halal (ex: pacaran, dll), menjamurnya film dan DVD porno, dsb.

Adegan intim dengan pacar lalu direkam, seakan menjadi ‘tren’ pada kalangan pelajar.

Remaja disini tak lagi menjadi ‘korban’ video porno, melainkan menjadi pelaku dan produser video porno.

Diperparah, kurikulum pendidikan mengalokasikan waktu pelajaran agama (Islam) sangat minim dibanding pelajaran-pelajaran lain.

Kemudian sistem sosial masyarakat kian rusak.

Pornografi, dan seks bebas di kalangan remaja cenderung dianggap biasa.

Masyarakat, juga orangtua menerima saja jika melihat anak remajanya pacaran, pegangan tangan, dibonceng naik motor, pelukan.

Bahkan kissing, dan petting juga dianggap lumrah masyarakat, dan remaja.

Pelaku bisa menjadi nekat melakukan itu, sebab terbiasa mengkonsumsi konten pornografi.

Buah Sekularisme

Begitulah hasilnya, apabila sistem kehidupan/pemerintahan digunakan sistem berasaskan pada sekularisme (paham pemisahan agama dari kehidupan/pemisahan agama dari kehidupan bernegara).

Ketika agama (Islam) disingkirkan hanya di ruang privat, hanya mengatur hubungan ritual hamba dengan Tuhan-nya, maka aturan Tuhan tentang muamalah manusia dieliminasi.

Manusia lebih suka membuat aturan sendiri dalam urusan muamalah mereka.

Itulah esensi sekulerisme.

Dan, salah satu aturan sekuler paling menonjol, liberalisme (paham kebebasan).

Menurut paradigma ini, manusia memiliki hak asasi kudu dilindungi, dan dijamin penuh.

Termasuk hak berekspresi, dan hak seksual.

Dari sinilah muncul gaya hidup seks bebas, beranggapan masalah seks hak asasi masing-masing individu, tak boleh dilarang, diatur apalagi dikriminalisasi.

Asal suka sama suka, tak boleh dipidana.

Paradigma ini menuhankan hawa nafsu.

Kemudian sanksi tak tegas, dan tak berefek jera bisa semakin menumbuh suburkan praktek-praktek pembuatan video mesum, alih-alih lantaran status anak didefinisikan sebagai mereka kurang dari 18th(UU Perlindungan Anak).

Bernaung di balik UU PA ini, akhirnya tak terdapat sanksi efektif pelajar mesum.

Padahal semua pihak berkomentar seputar kudu terdapat sanksi, kudu lebih menekankan pendidikan keluarga, solusi pendidikan seks, dst.

Sementara langkah preventifnya juga tak ada sama sekali.

Masyarakat  sekuler, masyarakat ‘sakit’ mengagungkan seks.

Seks diusung ke ranah publik hingga menimbulkan dampak-dampak sosial merusak.

Maka, kita tak bisa berharap masyarakat bersih dari pornografi, pornoaksi dan seks bebas, selama sekulerisme masih menjadi ideologi diadopsi masyarakat.

 Solusi Islam

Sedangkan ideologi Islam  mengatur urusan ritual dengan Tuhan, maupun urusan muamalah dengan sesama manusia.

Termasuk mengatur masalah pemenuhan kebutuhan seks.

Hanya dengan pernikahanlah sesuatu hubungan menjadi halal, hubungan selain nikah, dilarang atau haram.

Aturan Islam melarang peredaran segala sesuatu membangkitkan syahwat (yakni, pornografi dan pornoaksi).

Pelakunya dikenai sanksi berat.

Seperti pelaku zina, dicambuk (sebelum menikah) atawa dirajam hingga meninggal jika sudah menikah.

Dengan cara itu remaja, dan masyarakat tercegah melakukan aksi pornografi, dan pornoaksi.

Seks bebas pun dengan sendirinya lenyap. Wallahu a’lam..

***** Sumber.

Related posts

Leave a Comment