Monumenal Banteng “Leuweung” Sancang Masih Menyisakan Kenangan

0
154 views

Oleh : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Senin, 23/02 – 2015 ).

Ketika Banteng "Merumput" (Foto : John Doddy Hidayat).
Ketika Banteng “Merumput” (Foto : John Doddy Hidayat).

Monumenalnya kegagahan Banteng Jawa (Bos javanicus) pada habitatnya “Leuweung” atawa hutan Sancang di Cibalong Garut, Jawa Barat.

Ternyata hingga kini masih menyisakan kenangan.

“Sangat monumenal dan masih terekam kuat dalam ingatan, ketika Rombongan Banteng Sancang berjumlah sekitar 40 ekor berkumpul, dan merumput di Padang Penggembalaan Cipalawa,” ungkap Rukanda, pria kini berusia 52 tahun kepada Garut News, Senin (23/02-2015).

Rukanda, Pria Asal Kuningan Beristrikan Penduduk Tasikmalaya. (Foto : John Doddy Hidayat).
Rukanda, Pria Asal Kuningan Beristrikan Penduduk Tasikmalaya. (Foto : John Doddy Hidayat).

Fenomena tersebut, kerap disaksikannya dengan teropong dari menara pemantau berketinggian empat meter.

Biasanya berlangsung pada sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian sore harinya pada Pukul 16.00 atawa Pukul 17.00 WIB.

Rata-rata selama satu jam rombongan Banteng Sancang itu merumput, kemudian mereka membubarkan diri melintasi di bawah padang ilalang, maupun semak belukar.

Bahkan Rukanda juga menuturkan, bersama peneliti dari UPI Bandung pernah menemukan seekor anak Banteng Sancang terkapar mati, langsung diukur sepanjang satu meter.

Namun beberapa jam kemudian setelah kembali ke TKP, bangkainya tak ada lagi.

Meski Gagah, Tatapannya Sayu. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Meski Gagah, Tatapannya Sayu. (Foto Repro/National Geographic : John Doddy Hidayat).

Menyusul di kawasan leuweung ini, terdapat pula populasi macan kumbang, macan tutul juga antara lain babi hutan, serta burung merak, katanya.

Dikemukakan, jika merasa terganggu, banteng lari mengejar yang terlebih dahulu diawali menegakkan kepala ke atas, dan mengangkat kaki depan kanan.

Tetapi lintasan larinya letter “U”, kemudian kembali ke arah semula.

Rukanda juga bersama kalangan peneliti, acap menebar garam di atas hamparan padang penggembalaan, dipastikan satu jam kemudian rombongan Banteng berdatangan merumput.

Kemudian bisa jelas disaksikan dari atas menara pengawas, dengan jarak pandang sejauh 50 meter hingga 100 meter.

Diperkirakan pupulasinya mencapai 50 ekor, namun itu pada kurun waktu tahun  1984 hingga 1987, ketika Rukanda mengemban tugas sebagai Polhut di Leuweung Sancang.

Serupa dengan Sapi, Banteng Jantan Atawa Betina, Bagian Belakangnya Putih. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Serupa dengan Sapi, Banteng Jantan Atawa Betina, Bagian Belakangnya Putih. (Foto Repro/National Geographic : John Doddy Hidayat).

Ketika itu pula, Rukanda masih lajang pada usia sekitar 21 tahun, dan kini telah dikaruniai empat anak, dengan status kepegawaian sebagai Penyelia Polhut di lingkungan BKSDA Seksi Kabupaten Garut.

Monumenalnya Banteng Leuweung Sancang masih terekam kuat di dalam ingatannya, meski pasca bertugas di Sancang, Rukanda antara lain bertugas di Pangandaran.

Kemudian Ujung Kulon juga pada Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Masihkah kini populasi Banteng Sancang mudah ditemui, atawa telah punah?

Walauhualam bi sawab.

Cagar Alam Leuweung Sancang  luasnya mencapai sekitar 2.1313,90 hektare, serta cagar Alam Lautnya sekitar 1.150 hektare.

Selain terkenal dengan pohon kaboa (dipteroearpus gracilis), ikon tanaman hutan Sancang, di kawasan konservasi tersebut, terdapat tanaman langka meranti merah (anisoptera) raksasa berukuran lingkaran batang pohon sekitar 300 centimeter, berketinggian sekitar 27 meter.

Pohon berusia ratusan tahun ini, tercatat satu-satunya meranti merah tumbuh di pulau Jawa.

Uniknya, selain satu-satunya meranti merah tumbuh di pulau Jawa, meranti merah di Sancang tersebut, juga sulit dibudidayakan.

Beragam cara diupayakan dikembangkan, tetapi tak pernah berhasil. Para peneliti kebingungan. Padahal jenisnya sama dengan meranti merah di Kalimantan, atawa family anisoptera.

Pada sekeliling pohon ini, dipasang pagar pengaman berbahan besi.

Menariknya lagi, pada kanan kiri meranti merah berdiri pohon palahlar (dipterocarpus spee.div) juga berukuran besar.

Namun tak sebesar meranti merah.

******

Selesai.