Momentum Hari Santri

0
42 views

Junaidi Abdul Munif, penulis

Garut News ( Sabtu, 15/11 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Presiden Joko Widodo mewacanakan Hari Santri yang akan diperingati setiap 1 Muharram. Wacana ini mendapatkan respons pro dan kontra.

Selama ini, sebagai mayoritas, umat Islam mengalami pasang-surut hubungan dengan negara. Sudah lama pesantren distigmakan sebagai lembaga tradisional dan kaum santri dianggap “kolot” karena dituduh enggan menerima kemajuan.

Santri dicitrakan hidup berkutat pada pengajian kitab kuning, sebagian bersikap nyinyir dengan buku-buku putih, yakni buku-buku yang ditulis oleh orang non-muslim atau berisi wacana kontemporer.

Tapi itu dulu, ketika pesantren dicitrakan demikian. Kini, ketika santri juga mendapatkan akses yang sama untuk menempuh pendidikan di sekolah umum, santri terbukti berhasil beradaptasi tanpa kehilangan ciri khas kepesantrenan.

Secara terminologi, santri merupakan pelajar yang mengenyam pendidikan di pesantren. Gus Dur menyebut pesantren sebagai subkultur dari kultur Indonesia.

Di pesantren memang banyak ditemukan moda kebudayaan yang unik dan genuine. Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dengan model pengajaran yang diawasi penuh oleh kiai.

Ada jutaan orang yang pernah menjadi santri dan masih menjadi santri. Distribusinya pun tak terbatas pada komunitas keagamaan, tapi juga telah merambah ke segala bidang kehidupan.

Dari kiai kelas kampung sampai birokrat di kancah nasional, banyak ditemukan mereka yang alumni pesantren.

Penghargaan kepada kaum santri dan komunitas pesantren sangat penting karena kiprah mereka pada masa kolonialisme dan pasca-kemerdekaan sudah tidak perlu diragukan lagi.

Tradisi pesantren yang mulai tertanam pada abad ke-9 di Barus, dan pada abad ke-19 melahirkan proto-nationalisme yang digagas kiai yang mengajar di Mekkah-Madinah (Zamakhsyari Dhofier, [revisi] 2011), adalah saksi hidup perjalanan bangsa.

Bagi kaum santri sendiri, penghargaan ini disikapi dengan dualisme di atas. Yang setuju beralasan bahwa sudah saatnya santri “dihargai” oleh negara dengan diberi hari peringatan.

Saatnya negara membalas budi kepada kaum santri. Yang tidak setuju berargumen bahwa perjuangan santri adalah mengharap rida Allah semata dan tiada sangkut-pautnya dengan negara.

Sebenarnya, penghargaan kaum santri justru menemukan momentumnya ketika maraknya model keberagamaan Islam yang justru menafikan kebinekaan Indonesia dan berhasrat ingin mendirikan negara khilafah.

Gerakan seperti ini bertentangan dengan tekad kaum santri yang ingin meneguhkan keberadaan NKRI. Khasanah keilmuan pesantren pun belum banyak tergali, terutama ilmu-ilmu pesantren yang tidak berkaitan dengan agama.

Berbicara tentang santri, sebetulnya berbicara tentang keindonesiaan yang beragam budaya, nasionalisme yang berpadu dengan ajaran Islam.

Santri merupakan penyokong nasionalisme yang utama. Ideologi santri berjalan pada aras pernyataan Gus Dur, “Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di Indonesia.”

Pernyataan Gus Dur tersebut merupakan kesimpulan dari sejarah panjang kedatangan Islam di Nusantara.

Wali Songo berhasil memadukan unsur lokal dengan Islam, sehingga melahirkan kebudayaan Islam santri yang khas dan tiada duanya di dunia.

Semoga Hari Santri bukan merupakan siasat politik Jokowi sebagai “balas budi” pasca-pemilu presiden 2014. *

********

Kolom/Artikel : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here