“Mojang” Masih Diasuh Juga Diawasi Ketat Induknya

by
Mengawasi Ketat Sekaligus Melatih Keterampilan Buah Hati.

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 05/10 – 2016 ).

Mengawasi Ketat Sekaligus Melatih Keterampilan Buah Hati.
Mengawasi Ketat Sekaligus Melatih Keterampilan Buah Hati.

“Mojang”, demikian 15 bulan lalu Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman memberikan nama kepada orangutan betina yang berhasil dibudidayakan Lembaga Konservasi Taman Satwa Cikembulan Kadungora.

Namun meski satwa terancam langka dan dilindungi Undang-undang RI tersebut, kini kian beranjak remaja atawa hendak memasuki fase “anak baru gede” (ABG).

Tetapi masih juga diasuh juga diawasi ketat induknya, yang dipastikan pula dengan penuh rasa “kasih sayang” atawa “kadeudeuh”.

Mojang yang Kian Mahir "Mejeng", he...he.
Mojang yang Kian Mahir “Mejeng”, he…he.

Taman Satwa satu-satunya di Provinsi Jawa Barat ini, selama ini pula menyediakan wahana berteduh serta bermain bagi dua pasang orangutan (Pongo pygmaeus), yang sangat mendekati kondisi habitat aslinya.

Keunikan satwa itu, memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, menyusul orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4 persen.

Juga bercirikan tubuh gemuk dan besar, berleher besar, lengan panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tak mempunyai ekor.

Sang Induk Kerap Memeluk dan Mencium Anak Gadis Sem,ata Wayangnya, Dengan Sarat "Kadeudeuh".
Sang Induk Kerap Memeluk, dan Mencium Anak Gadis Semata Wayangnya, Dengan Sarat “Kadeudeuh”.

Tingginya berkisar 1.25-1.5 meter. Tubuhnya pun diselimuti rambut merah kecoklatan, berkepala besar dengan posisi mulut tinggi.

Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut di sekitar wajah.

Mereka mempunyai indera sama seperti manusia.

Terdiri pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.

Dijaga Ketat.
Dijaga Ketat.

Berat orangutan jantan berkisar 50–90 kilogram, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30–50 kg.

Telapak tangannya mempunyai empat jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kakinya juga memiliki susunan jari-jemari sangat mirip dengan manusia.

Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse. Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi mamalia, memiliki ukuran otak besar, mata mengarah kedepan, dan tangan bisa melakukan genggaman.

Inilah... "Surili".
Inilah… “Surili”.

Jika penasaran, kunjungilah Taman Satwa Cikembulan.

Lantaran pada lembaga konservasi ini terdapat koleksi primata jenis “Surili”, Presbytis comata, berordo Primates dari family Cercopithecidae asal Tatar Sunda (Jawa Barat), sehingga dijadikan “Maskot” helatan PON XIX Jabar 2016.

Sebab, Surili hewan primata khas dari bagian barat pulau Jawa dan nyaris punah. Dalam bahasa Inggris, hewan itu punya beberapa nama seperti Javan Surili,Grizzled Leaf Monkey, Java Leaf Monkey, dan Javan Grizzled Langur. Nama latinnya Presbytis comata.

Gua pun Bisa Senyum, he  he.
Gua pun Bisa Senyum, he he.

Surili Jawa di antaranya sub spesies Presbytis comata comata yang hidup di Jawa Barat.

 

**********

 

Pelbagai sumber.