Mitos Gilgamesh dan Banjir Jakarta

– Endang Suryadinata, Penggemar Sejarah

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 07/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Sungai Cimanuk. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sungai Cimanuk. (Foto: John Doddy Hidayat).
Sebagaimana sejarah berulang, demikian pula banjir di Jakarta.

Setelah banjir besar pada 2002 dan 2007, Ibu Kota RI kini kebanjiran lagi. Banjir selama Januari dan Februari sudah membawa dampak multidimensi, dari jalan rusak, terendam, dan macet.

Lalu air bersih sulit, beragam penyakit muncul, dan berbuntut kerugian ekonomi.

Sejarah umat manusia salah satunya memang ditandai dengan banjir atau air yang menggenangi permukaan tanah.

Dari Yunani hingga Cina, ada mitologi banjir.

Kita tentu tahu kisah air bah Nabi Nuh.

Sebelum era agama-agama samawi, di Mesopotamia (Irak kuno) juga ada kisah Gilgamesh, yang juga diperintah membangun bahtera agar selamat dari banjir besar.

Hebatnya, kisah Gilgamesh dan Nabi Nuh sama-sama disatukan dalam benang merah bahwa di Kota Ur, yang saat ini dikenal sebagai Tall Al Uhaimer atau Kota Shuruppak di sebelah selatan Mesopotamia-saat ini bernama Tall Far’ah-menyimpan jejak-jejak nyata bahwa dulu memang terjadi banjir besar di kota itu, seperti disimpulkan arkeolog Erich Schmidt dari Universitas Pennsylvania 1922-1930.

Al-Quran dan Injil menyebutkan, gara-gara manusia mulai menyimpang jauh dari Tuhan, bahkan berani melawan Tuhan, banjir besar didatangkan sebagai hukuman.

Ini masih diyakini.

Di media sosial, misalnya, banyak komentar menyebut maraknya korupsi, kemaksiatan, serta praktek bisnis atau politik yang menghalalkan segala cara menjadi penyebab banjir Jakarta.

Jika menengok sejarah, sejak awal abad ke-20, sudah ada upaya melawan banjir di Jakarta (dulu bernama Batavia).

Ada nama Prof Dr Herman van Breen, yang tercatat sebagai perintis melawan banjir.

Dia menyusun rencana pencegahan banjir, yang dibentuk kantor dinas pengairan pemerintah kolonial Belanda pada 1918.

Itu dilakukan setelah Batavia dilanda banjir besar yang merenggut banyak nyawa.

Van Breen bersama timnya menyusun konsep yang sistematis untuk menanggulangi banjir di seluruh wilayah Batavia, yang luasnya 2.500 hektare.

Van Breen berhasil menyusun strategi pencegahan banjir.

Dia berhasil mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air yang masuk kota.

Namun, sebagai ibu kota negeri ini sejak 1945, perluasan kota seperti menjadi keniscayaan.

Bayangkan luas Jakarta sekarang mencapai 65 ribu hektare.

Jadi puluhan kali lipat dibanding luas pada masa Van Breen.

Luasnya kota tentu mengundang kompleksitas permasalahan.

Ada penelitian yang menyebutkan, konon, kebiasaan membuang sampah sembarangan di Jakarta menjadi penyebab banjir.

Ada yang menyalahkan hujan, meski menurut BMKG curah hujan dua bulan terakhir justru lebih rendah dibanding tahun lalu.

Gubernur Jokowi menyalahkan kiriman banjir dari Bogor, sebagaimana para Gubernur Jakarta terdahulu.

Sedangkan yang lain, ganti menyalahkan Jokowi.

Nah, daripada saling menyalahkan, mari belajar dari Nabi Nuh atau Van Breen bagaimana menghadapi air bah secara bijak, dengan mencari solusi yang tepat.

Jika rekayasa cuaca atau hujan tidak efektif, mungkin rencana Jokowi membangun sembilan waduk bisa dicoba.

Atau kita terima banjir ini bukan sebagai bencana, sehingga kita perlu berdamai dengan banjir?
****
Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment