“Misionaris Pepe” Mati

QUITO, Garut News ( Ahad, 24/08 – 2014 ).

Pepe the Missionary, mati dalam usia 60 tahun, menurut keterangan pejabat Ekuador, Jum’at (22/8/2014) AFP PHOTO / MINISTERIO DEL AMBIENTE.
Pepe the Missionary, mati dalam usia 60 tahun, menurut keterangan pejabat Ekuador, Jum’at (22/8/2014) AFP PHOTO / MINISTERIO DEL AMBIENTE.

– “Pepe the Missionary” mati dalam usia 60 tahun, menurut keterangan para pejabat Ekuador, Jum’at (22/08-2014).

Pepe kura-kura raksasa terkenal dan menjadi salah satu hewan paling banyak difoto di Kepulauan Galapagos, Ekuador.

“Pepe, tinggal di kandang di Galapagos National Park Interpretation Center, mati lantaran sebab alamiah,” kata direktur ekosistem taman itu, Victor Carrion.

“Beberapa organ tubuhnya perlahan gagal fungsi.”

Adapun direktur taman, Arturo Izurieta, menyatakan duka atas kematian kura-kura itu di laman Twitter-nya.

“Setelah hidup 60 tahun, Misionaris Pepe tetap ada dalam kenangan kita,” ujar Izurieta.

Meski demikian, lanjut Izurieta, kematian Pepe tak membuat spesies kura-kura ini terancam keberadaannya.

Pepe anggota spesies Chelonoidis becki berasal dari Wolf Volcano di Pulau Isabela. Sekitar 2.000-an kura-kura dari spesies ini hidup di habitat asli mereka.

Pepe diadopsi keluarga dari pulau San Cristobal pada 1940-an. Nelayan setempat menamainya Pepe.

Namanya bertambah menjadi Misionaris Pepe, ketika dia diberikan kepada misionaris Fransiskan di pulau itu pada 1967.

Sesudahnya, Pepe menjadi maskot misionaris tersebut dan menjadi peliharaan tercinta komunitasnya.

Dia sering difoto dan mendapat makanan dari para tamu. Para misionaris menyerahkan Pepe ke taman nasional pada 2012.

Penyerahan Pepe ke taman nasioanal terjadi pada tahun sama dengan kematian anggota terakhir kura-kura subspesiden Geochelone nigra abingdoni, Lonesome George.

Kura-kura yang kemudian punah ini juga dulu sangat terkenal.

Kepulauan Galapagos terkenal karena flora dan fauna yang unik.

Tanaman dan hewan di kepulauan ini merupakan salah satu lokasi utama dipelajari Charles Darwin saat mengembangkan teori tentang evolusi.


Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber : AFP/Kompas.com

Related posts

Leave a Comment