Meski Sarat Tembok Penahan Tebing, Yadul ‘Ulya Terbuka Untuk Umum

0
23 views
Sarat TPT Sepanjang Ratusan Meter.
Terbuka, dan Bisa Dimanfaatkan oleh Umum.

“Bisa dimanfaatkan oleh umum”

Garut News ( Ahad, 27/10 – 2019 ).

Ponpes Modern Digital, Yadul ‘Ulya di Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat, meski sarat ‘Tembok Penahan Tebing’ (TPT) berupa bentangan panjang ratusan meter benteng. Namun tetap terbuka untuk umum.

“Gencarnya pembangunan benteng selama ini, hanya sebagai upaya maksimal mengantisipasi dampak dari kemungkinan terjadinya ‘bencana hidrometeorologi’ pada musim penghujan,” ungkap M. Angga Tirta

Pimpinan Yayasan Tahfid Garut itu katakan, Ahad (27/10-2019), pembangunan TPT ini  sepanjang ratusan meter berketinggian belasan meter dengan lebar bervariasi berkisar 30-100 centimeter.

Upaya Maksimal Antisipasi Kemungkinan Adanya Dampak Bencana.

Di antaranya mulai pada posisi belasan meter berdekatan dengan  ‘Daerah Aliran Sungai’ (DAS) Cikamiri yang bermuara di Sungai Cimanuk.

Komplek Ponpes, dan Kuttab ini. Termasuk sarana masjidnya bisa dimanfaatkan oleh umum, lantaran tak digembok atau tak memiliki pintu gerbang.

“Melainkan terletak pada ruang terbuka di lintasan jalan umum menghubungkan Kampung Panawuan-Jembatan Cikamiri hingga Kampung Rancamaya,” imbuh M. Angga Tirta.

Sedangkan bencana meteorologi berparameter curah hujan, kelembaban, temperatur, angin, kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, El Nino, La Nina, longsor, tornado, angin puyuh, topan, angin puting beliung.

Kemudian gelombang dingin, Gelombang panas, Angin fohn (angin gending, angin brubu, angin bohorok, angin kumbang) sebagai contoh beberapa bencana Hidrometeorologi.

Bentangan TPT.

Fenomena perubahan cuaca hanya pemicu, penyebab utama yakni masifnya kerusakan lingkungan lantaran penurunan daya dukung, dan daya tampung lingkungan.

Dalam pada itu, keberadaan hutan terutama di daerah hulu DAS berkorelasi kuat terhadap kejadian bencana hidrometeorologi. Wilayah DAS biasanya dibagi menjadi tiga zona (hulu, tengah dan hilir) memiliki fungsi dan karakteristik berbeda-beda.

Banyak peran hutan dalam pengendalian daur air yang harus dapat direstorasikan kembali, jika ingin bisa berkontribusi dalam pengurangan resiko bencana hidrometeorologi.

“Paling utama, seluruh pihak harus dapat berperan serta berkontribusi dalam pemulihan lingkungan, dan hutan guna mewarisi generasi mendatang sebagai penerus, dengan  lingkungan berkondisi lebih baik,”  imbuh M. Angga Tirta pula.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here