Merebaknya Perilaku LGBT Hentak Penduduk Kabupaten Garut

0
59 views
Cenderiung Terus-menerus Meningkat.

“Penularan HIV/AIDS di Garut Bergeser Melalui LSL”

Garut News ( Ahad, 07/10 – 2018 ).

Cenderiung Terus-menerus Meningkat.

Merebak – maraknya sinyalemen perilaku LGBT di Garut, justru kembali menghentak penduduk kabupaten setempat. Lantaran beredarnya sebuah grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut pada aplikasi pesan WhatsApp (WA) sejak beberapa hari terakhir.

Meski belum bisa dipastikan kebenaran keberadaan grup LGBT dengan ribuan pengikut tersebut, yang katanya sedang ditelusuri pihak kepolisian, isu LGBT di Garut sebenarnya bukan barang baru.

Namun “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) Garut sejak lama mendapati komunitas gay menggunakan sarana medsos.

Pengelola Program KPA Garut,  Guntur Yana Hidayat katakan selain Facebook, terdapat media sosial greender menjadi salah satu jejaring sosial di antara sesama LGBT dengan gambaran kepesertaan lebih parah lagi, serta ada di setiap kabupaten/kota .

Dikemukakan, pada 2016. KPA Garut pernah melakukan pemetaan terhadap komunitas laki-laki seks laki-laki (LSL) selama dua pekan menggunakan empat fasilitator di lapangan dari komunitas gay. Hasilnya, diketahui terdapat sekitar 1.200 orang berperilaku LSL di Garut.

“Kalau melihat estimasi perkiraan Kemenkes pada 2012, jumlah komunitas LSL di Garut sangat mencengangkan, mencapai sekitar 12.000 orang,” ungkapnya, Ahad (07/10 – 2018).

Dinkes Garut juga pernah melakukan tes HIV/AIDS terhadap 8.440 penduduk terdiri 2.290 laki-laki, dan 6.150 perempuan di Garut selama rentang waktu Januari – Oktober 2017.

Hasilnya, diketahui terdapat sebanyak 59 individu di antaranya positif terinfeksi HIV/AIDS, terdiri 48 laki-laki, dan 11 perempuan.

Mereka didominasi usia produktif berkisar 25 – 49 tahun. Terdapat 27 di antaranya terinfeksi HIV akibat LSL sebagai populasi terbanyak HIV positif.

Para pelaku LSL itu, meliputi individu berperan sebagai laki-laki umumnya berpendidikan menengah ke atas. Sedangkan individu berperan perempuan, umumnya berpendidikan menengah ke bawah.

Guntur juga mengingatkan, perkembangan LGBT ini perlu diwaspadai. Selain bertentangan dengan moral dan norma keagamaan/Islam, perilaku tersebut juga menjadi penyumbang penyebaran HIV/AIDS, yang keberadaannya bak fenomena gunung es.

Lantaran jumlah sesungguhnya bisa jadi jauh lebih banyak daripada apa yang tampak di permukaan.

“Jika dilihat data, kasus komunitas LGBT di Garut, rata-rata dalam satu tahun per bulannya bisa ditemukan satu orang terinfeksi HIV. Namun apakah kondisinya lampu merah ? Tentu harus ada data-data membandingkan jumlah penduduk Garut dengan komunitas LGBT,” ungkap Guntur.

KPA Garut pun, kesulitan melakukan survey atau pendataan ke lapangan untuk mengetahui jumlah, dan perkembangan LGBT di Garut. Karena keterbatasan anggaran tersedia. KPA Garut hanya mengandalkan dana operasional Rp2 juta per bulan dari KPA Provinsi Jabar untuk 2018.

*******

Nz/Fotografer : John Doddy Hidayat.