Merebak-maraknya Penambangan Pasir Cemaskan Penduduk Samarang

0
49 views

Garut News ( Ahad, 14/12 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Penduduk Desa Sukakarya, dan Tanjungkarya di Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat, selama ini didera kecemasan lantaran maraknya aktivitas penambangan galian C pada lokasi Legok Pulus Sukakarya.

Mereka sangat cemas aktivas pertambangan di kawasan hutan pinus milik Perum Perhutani tersebut, bisa mengakibatkan longsor. Apalagi kini musim hujan kerap berintensitas tinggi.

Masyarakat juga memertanyakan penyikapan dari Pemkab Garut, termasuk aparat pemerintah setempat, ternyata hingga kini terkesan menutup mata, padahal berlangsung persis sekitar sumber mata air situ purba Cibeureum

Sedangkan pelakunya diduga kuat dari luar daerah itu, berlangsung lama dan berkali-kali diadukan. Namun hingga kini, tak ada tindakan apapun dati Pemkab setempat.

“Warga di sini enggak ada berani melarang langsung, sebab takut. Pernah juga dilaporkan ke kecamatan, Polsek, Perhutani, dan Dinas SDAP, tetapi sampai sekarang enggak ada tindakan apapun,” ungkap Darsani, penduduk RT 04/11, Ahad (14/12-2014).

Sangat diharapkan Bupati Garut bertindak tegas  menutup aktivitas galian C diduga liar tersebut, agar tak terjadi kerusakan lingkungan, apalagi sampai menimbulkan longsor.

“Gara-gara penambangan pasir ini, air bersih kebutuhan warga pun terganggu. Air menjadi keruh bercampur lumpur pekat dan butiran pasir,” katanya.

Kepala Desa Tanjungkarya, Sasa kakan, lokasi galian Legok Pulus masuk wilayah administrasi Desa Sukakarya namun persis pada perbatasan Desa Tanjungkarya.

“Namun dampaknya kalau terjadi longsor bisa menimpa warga Tanjungkarya. Ada satu RW  lokasinya persis dekat galian. Sekarang saja dampaknya dirasakan. Air bersih digunakan warga menjadi keruh bercampur butiran pasir,” beber Sasa

Dikemukakan, lantaran di arah hulu digunakan penambang galian C mengumpulkan bahan tambang pasir.

Air disedot melalui pipa besar menggunakan tenaga mesin diesel  kemudian disemprotkan mendorong pasir mengalir dan berkumpul di bawah bukit.

Selanjutnya, tumpukan pasir tinggal diangkat ke atas kendaraan dan diangkut keluar.

Sasa mengaku sebelumnya di Kampung Engkol Desa Tanjungkarya juga sempat ada aktivitas galian C bermodus sama.

Namun aktivitas tersebut ditutup sejak Komisi B DPRD Garut didampingi aparat melakukan sidak pada Februari 2014 lalu.

Kendati ketika itu rombongan gagal meciduk para pelaku. Mereka hanya mendapatkan tenda kosong dan sejumlah peralatan para penambang ditinggalkan pemiliknya.

“Saya juga sempat mendapat teror pengelola penambangan pasir gara-gara ditutup. Tetapi Alhamdulillah, sekarang kondusif. Penambangan pasir Tanjungkarya juga tak ada lagi,” katanya.

******

Noel, Jdh.