Merawat Sampah, Menyelamatkan Kota

0
35 views
Pengendara sepeda motor saat melintasi tumpukan sampah di Pasar Andir Kota Bandung, Jalan Rajawali, Selasa (9/8/2016). Sampah hasil berjualan pedagang yang ditumpuk di badan jalan menjadi secuil masalah buruknya tata kelola pasar di Kota Bandung. (KOMPAS.com/Dendi Ramdhani).

Garut News ( Ahad, 20/08 – 2016 ).

Pengendara sepeda motor saat melintasi tumpukan sampah di Pasar Andir Kota Bandung, Jalan Rajawali, Selasa (9/8/2016). Sampah hasil berjualan pedagang yang ditumpuk di badan jalan menjadi secuil masalah buruknya tata kelola pasar di Kota Bandung. (KOMPAS.com/Dendi Ramdhani).
Pengendara sepeda motor saat melintasi tumpukan sampah di Pasar Andir Kota Bandung, Jalan Rajawali, Selasa (9/8/2016). Sampah hasil berjualan pedagang yang ditumpuk di badan jalan menjadi secuil masalah buruknya tata kelola pasar di Kota Bandung. (KOMPAS.com/Dendi Ramdhani).

– Sampah berceceran pernah mencoreng wajah metropolitan Bandung, Jawa Barat, sekitar 11 tahun lalu. Setelahnya, julukan “Bandung Lautan Api” kerap dipelesetkan menjadi “Bandung Lautan Sampah”. Kini, di tengah minimnya pemilahan sampah yang memicu tingginya biaya pengolahan, gurat hitam di wajah kota berpotensi terulang lagi.

Dalam diskusi Pengelolaan Sampah di Kota Bandung pada 12 Agustus 2016, muncul fakta mengejutkan. Tingginya produksi sampah belum diimbangi pengelolaan ideal. Akibatnya, sampah membebani Pemkot Bandung karena butuh dana besar untuk mengelolanya.

Direktur Umum Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung Gun Gun Saptari Hidayat mengatakan, 1.500-1.600 ton sampah dihasilkan 2,4 juta penduduk Kota Bandung. Dari jumlah itu, baru sekitar 250 ton per hari yang diolah menjadi bahan kerajinan, kompos, bahan bakar gas, dan listrik.

Sebagian besar belum termanfaatkan. Sebanyak 1.200 ton sampah sekadar diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi itu memicu tingginya biaya transportasi, penggunaan lahan, hingga pengolahan sampah. Estimasi dananya mencapai Rp 70 miliar-Rp 80 miliar per tahun.

Tidak hanya itu, 150-250 ton sampah berceceran di sungai dan sudut kota. Keberadaannya mencemari sedikitnya 10 sungai di Kota Bandung. Solusi jangka pendek, Pemkot Bandung berencana menganggarkan sekitar Rp 2,6 miliar untuk membersihkan sungai.

Tingginya biaya mengelola sampah jelas bukan hal ideal bagi Kota Bandung. Ibu kota Jabar peraih Adipura 2015 dan 2016 ini seperti kebingungan menangani sampah. Padahal, pengelolaan sampah yang baik tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan, tetapi juga membantu pemerintah fokus pada program kesejahteraan lainnya.

Contohnya, Kredit Melawan Rentenir (Melati) yang dikelola Bank Perkreditan Rakyat Kota Bandung. Kredit ini diluncurkan untuk membantu biaya permodalan usaha kecil dan menengah. Kredit Melati ini sukses memicu munculnya 7.000 pelaku usaha kecil dengan total pencairan dana Rp 16,7 miliar dan laba Rp 2 miliar sejak diluncurkan Mei 2015.

Bayangkan jika biaya pengelolaan sampah dialihkan untuk sektor mikro. Diambil setengahnya saja, Rp 35 miliar-Rp 40 miliar per tahun, cukup membiayai 15.000-20.000 wirausaha memulai usaha baru dengan modal sekitar Rp 2 juta per orang.

Selamatkan

Meski berlabel “Kota Cerdas”, sampah bukan hal yang mudah ditangani Kota Bandung. Keinginan membakar sampah menggunakan teknologi insenerator gagal. Biaya tinggi dan derasnya penolakan aktivis lingkungan menggagalkan rencana itu. Akibatnya, tanpa tempat penampungan dan pengolahan sendiri, sampah Kota Bandung terus menjadi masalah bagi tetangga.

TPA Cieunteung dan TPA Jelekong di Kabupaten Bandung dan TPA Leuwigajah di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Kini, Kota Bandung menggunakan TPA Sarimukti (Kabupaten Bandung Barat) hingga tahun 2017. Sebagai penggantinya, Pemkot Bandung akan menggunakan TPA Legok Nangka di Nagreg, Kabupaten Bandung.

Tak semua bisa terangkut, sampah Kota Bandung ikut berimbas bagi warga di daerah lain. Indra Darmawan, Ketua Koperasi Bangkit Bersama, bergerak di bidang pengelolaan limbah sampah di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, mengatakan, seorang pemulung bisa mengangkat 10-20 kilogram sampah per hari dari Waduk Saguling yang dialiri Citarum.

Dengan total pemulung sebanyak 58 orang, bisa diangkut 50-100 kilogram sampah per hari. Jumlah itu meningkat hingga tiga kali lipat saat musim hujan. Sebagian besar sampah diduga berasal dari Kota Bandung.

Gun Gun mengatakan, sejumlah perbaikan dilakukan Pemkot Bandung. Ia mengatakan, kolaborasi antarinstansi dilakukan semakin intensif, terutama saat membersihkan sungai.

Setiap kelurahan juga sudah membentuk pasukan gober alias pasukan gorong-gorong bersama untuk membersihkan sungai dan saluran air di Bandung. Kegiatan itu dibarengi dengan program sejuta pori, gerakan pungut sampah, hingga membuka saluran pencegahan dan pengaduan tentang sampah.

Kerja sama dengan kelompok masyarakat peduli pengelolaan sampah juga terus dipelihara. Gun Gun mengatakan, bantuan biodigester diberikan ke beberapa RW hingga mesin pengolahan sampah di tempat pembuangan sementara di Tegalega dan Gedebage. “Tahun depan, fokus utama kami mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah,” kata Gun Gun.

Harapan

Saat pemerintah masih mencari jalan terbaik, sejumlah masyarakat memilih mandiri menyelamatkan “Kota Kembang”. Tanpa berharap pamrih mereka bergerak mandiri.

Sejak dua tahun lalu, warga RW 009 Kelurahan Cigereleng, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jawa Barat, masih setia mengelola sampah seperti bayi. Mereka membentuk organisasi peduli lingkungan Kami Kawasan Bersih (Kakasih). Mereka memilah sampah sejak dua tahun lalu. Koordinator Kakasih, Asep Dimyati (41), mengklaim melalui gerakan itu mereka bisa mengurangi produksi sampah hingga 50 persen dari produksi sampah sekitar 500 kg per hari.

Salah satu program andalannya adalah kalender sampah. Senin dan Kamis adalah hari memisahkan sampah organik. Setelah dicacah dan direndam, sampah organik menjadi bahan bakar biodigester berkapasitas 15 kg menjadi pupuk cair dan gas untuk kompor.

“Hari Selasa dan Jumat dipilih untuk memisahkan sampah anorganik. Beberapa warga ada yang menjual kertas atau kantong plastik sendiri. Sementara Rabu dan Sabtu adalah waktu pengangkut sampah mengambil sampah residu,” kata Asep.

Dwi Retnastuti (46) juga melakukan hal serupa di rumah bersama tetangga di kawasan Gedebage, Kota Bandung. Dalam sebulan, ada 75 kg kompos didapat dari sampah organik. Jumlah itu terbilang minim hanya 10 persen dari potensi yang ada.

Simak juga tangan-tangan kecil komunitas peduli Cikapundung, Kuya Gaya. Koordinator Kuya Gaya, Handoyo (55), mengatakan, anggotanya terbiasa menceburkan diri ke Sungai Cikapundung. Dengan menggunakan garpu bermata dua buatan sendiri, ia dan empat orang lainnya rutin mengangkut sampah dan lumpur mengendap.

“Saat ini harus diakui kerja keras ini belum maksimal. Baru sekitar 20 persen dari total sampah yang mengalir di Cikapundung, yang bisa diangkutnya,” kata Ketua RT 009 RW 015, Kampung Pulosari, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, ini. (Cornelius Helmy).

********

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : Harian Kompas,/Kompas.com