You are here
Merawat Momentum Pasca-APEC OPINI 

Merawat Momentum Pasca-APEC

Garut News, ( Selasa, 08/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Berakhirnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pemimpin negara-negara Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Nusa Dua, Bali, perlu dikawal langkah-langkah konkret-agar kita tak kehilangan momentum strategis mengoptimalkan hasil pertemuan di Nusa Dua.

Sebagai tuan rumah, tentu kita berharap APEC 2013 memberi manfaat maksimal pada peningkatan kinerja perekonomian Indonesia.

Forum ini memang bukan negosiasi dagang-dan tanpa prinsip mengikat (non binding principle).

Tetapi justru lewat kondisi ini, kesempatan pada pemerintah agar mengeksplorasi aneka opsi kerja sama di regional Asia-Pasifik atawa di level global.

Pernyataan bersama menteri-menteri APEC 2013 bisa menjadi batu pijakan.

Salah satu inti kesepakatan mereka, menyetujui rencana tahun jamak pembangunan infrastruktur, dan investasi-dengan tujuan membantu perekonomian guna meningkatkan investasi.

Indonesia kini berada di posisi 16 besar ekonomi dunia.

Target digeber-dan dicita-citakan-dalam APEC baru usai, mengantar negeri kita dari posisi 16 besar ekonomi sekarang ke posisi tujuh besar ekonomi dunia 2030.

Di atas kertas, hitung-hitungannya demikian: besaran ekonomi kita kudu bisa dikembangkan dari US$ 0,5 triliun per hari ini ke US$ 1,8 triliun supaya mencapai target di atas.

Survei McKinsey juga mencatat angka ini sebagai peluang bisnis bisa dicapai Indonesia pada 2030.

Pertanyaannya, bagaimana agar hitung-hitungan di atas tak menjadi hasil riset belaka?

Pertumbuhan berkelanjutan atawa sustainable growth bisa menjadi pilihan strategi.

Tentu saja, kudu ditopang sejumlah fondasi kuat.

Di antaranya, kesiapan infrastruktur serta kepastian hukum, dan regulasi.

Dan ini kudu direncanakan dengan matang, dan bukan sekadar kejar tayang lantaran terdapat momentum.

Ambil contoh dalam konteks ekonomi lokal: jalan tol di Bali.

Jika tak ada APEC, jalan tol dari bandara masuk ke Nusa Dua-hanya mengambil waktu enam menit-mungkin belum akan ada.

Padahal jalan tol ini, selain bermanfaat buat rakyat, bisa menjadi elemen mengundang lebih banyak investor melihat peluang di Bali.

Kalimantan dan Sumatera, dua wilayah kerap dilirik para investor, juga masih dibelit begitu banyak kendala infrastruktur.

Kita perlu menyediakan daftar kesiapan infrastruktur (infrastructure checklist readiness), dan berani menyatakan apa-apa masih menjadi kendala utama infrastruktur kita.

Nah, daftar kesiapan itu perlu dikembangkan untuk disampaikan pada para mitra ekonomi kita di level regional atawa global.

Merawat momentum pasca-APEC, apa boleh buat, membawa kita pada masalah klasik boleh dikata, tak banyak bergerak maju pada 10 tahun terakhir: infrastruktur masih miskin.

Biaya US$ 35 juta, atawa setara hampir Rp365 miliar, terasa sepadan apabila kita peroleh imbal balik bukan sekadar puja-puji atas keramahan “khas Indonesia”.

Mengubah posisi negeri kita dari “pasar utama” dunia menjadi tanah investasi ramah, sasaran perlu kita rebut setelah riuh-rendah perhelatan ekonomi raksasa di Bali, berakhir hari ini.

**** Opini/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment