Menyisir Lintasan Aliran Cimanuk Mencari Korban Raib

0
15 views
Penduduk Kehilangan Rumah Lantaran Raib Digerus Arus Deras Cimanuk Kerap Meratapi Takdir Dialaminya.

“Taklukan Dahsyatnya Cimanuk Kudu Dengan Kearifan”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 22/09 – 2016 ).

Penduduk Kehilangan Rumah Lantaran Raib Digerus Arus Deras Cimanuk Kerap Meratapi Takdir Dialaminya.
Penduduk Kehilangan Rumah Lantaran Raib Digerus Arus Deras Cimanuk Kerap Meratapi Takdir Dialaminya.

Banyak kalangan khususnya Tim gabungan, hari ini (Kamis, 22/09-2016), masih melanjutkan pencarian penduduk dilaporkan raib tergerus arus deras banjir bandang Sungai Cimanuk Garut, Jawa Barat.

Upaya pencarian antara lain berlangsung pada tiga titik lokasi diterjang banjir, juga sepanjang lintasan aliran sungai tersebut.

Di antaranya seputar lapangan Paris, Cimacan hingga ke Wado, dengan melibatkan beragam unsur terdiri Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, TNI, Tagana, sukarelawan, serta masyarakat.

Menyisakan Penderitaan Panjang.
Menyisakan Penderitaan Panjang.

Mereka menyisir lintasan Sungai Cimanuk, lantaran memprediksi korban banjir hanyut tergerus sungai. Menyusul masih terdapat penduduk dilaporkan raib sehingga pencarian pun terus dilakukan.

Sedangkan yang dilaporkan hilang 11 penduduk, dan dinyatakan meninggal dunia sekitar 23.

Hingga berita ini disusun dan dipastikan sampai beberapa hari ke depan, penduduk terdampak amuk Sungai Cimanuk yang selamat, masih pula membersihkan rumahnya yang kotor.

“Bandjir Tjimanoek”

Semalam sungai Cimanuk meluap deras, merendam area yang luas di sepanjang alirannya. Belum pernah terjadi banjir sedahsyat itu sebelumnya. Rumah sakit dr. Slamet pun terendam.

Merenung Pada Seonggok Bangunan Rumah yang Masih Tersisa Lantaran Digerus Luapan Banjir Bandang.
Merenung Pada Seonggok Bangunan Rumah yang Masih Tersisa Lantaran Digerus Luapan Banjir Bandang.

Sebetulnya, resiko banjir di daerah rumah sakit sudah diperingatkan sejak awal. Pada tahun 1919, muncul petisi yang berisi keberatan atas rencana pembangunan rumah sakit di daerah tersebut.

Selain pembelian lahan yang melebihi kebutuhan dan keharusan membangun jembatan penghubung yang berimplikasi pada biaya, juga diperingatkan adanya resiko banjir di daerah rawa di sana (De Preanger-bode, 12 April 1919).

Lahan yang akan dibangun rumah sakit itu memang berada di pertemuan tiga sungai: Cipeujeuh, Cikamiri, dan Cimanuk.

Dan banjir pun terjadi pada tanggal 25 Oktober 1920. Koran De Preanger-bode memberitakan berturut-turut pada tanggal 25 dan 26 Oktober 1920. Hujan deras yang melanda Garoet sehari semalam membuat sungai Tjimanoek meluap.

Ditenggelamkan Lumpur.
Ditenggelamkan Lumpur.

Areal pesawahan yang luas di cekungan Tjimanoek terendam. Kolam-kolam ikan dan jembatan-jembatan desa jebol. Ikan-ikan mati tertutup lumpur. Disebutkan, banjir besar pernah pula terjadi pada 20 tahun sebelumnya. Besok harinya dikabarkan jembatan Tjimanoek di Bajongbong jebol. Jalan menuju Pameungpeuk ditutup.

Banjir bandang sungai Tjimanoek pernah pula hampir merusak konstruksi jembatan Leuwidaoen yang sedang dibangun pada tahun 1939.

Pada saat berlangsung pembangunan jembatan, penyangga jembatan diterjang banjir bandang. Itulah mengapa jembatan ini menggunakan struktur berupa lengkungan busur sebagai penyangga badan jalan di atasnya.

Renungi Motor yang Masih Dimiliki.
Renungi Motor yang Masih Dimiliki.

Ide yang cerdas dari Prof. Rooseno, bapak konstruksi Indonesia. Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 18 Maret 1939 menulis: “Seperti kita ketahui, jembatan tua yang dibangun tahun 1886, yang menjadi pintu gerbang ke kota Garoet, diganti dengan jembatan beton yang monumental”.

***
Sungai Cimanuk punya logika sendiri. Ia akan menerjang apapun yang menghalangi jalannya, mengalir lurus atau harus berkelok, membentuk lukisan alam, menuju laut, jauh di utara. Menaklukkan dahsyatnya Cimanuk harus dengan kearifan.

Sepanjang Bantaran Sungai Cimanuk.
Sepanjang Bantaran Sungai Cimanuk.

Jika gunung tempat berhulunya sudah gundul, beralih fungsi oleh mafia tani atas nama nasib petani, membawa endapan ke bawah yang membuatnya dangkal, sementara sempadan semakin sempit mampat oleh pemukiman dan bangunan, dan menjadikannya tempat pembuangan sampah dari belakang rumah, maka Cimanuk punya cara sendiri. Tak mengerti siapa yang berdosa, siapa yang tidak. Semua terkena kemarahannya.

Mamang turut berduka, ucap belasungkawa. Turut pula mengecam buat mereka perusak alam, pembawa bencana…

[M.S].

********

Pelbagai Sumber.