Menyimak Do’a Penutup Disampaikan HR Muhammad Syafi’i

0
8 views
Penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih, Rabu (17/08-2016), di Alun-Alun Garut.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 17/08 – 2016 ).

Penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih, Rabu (17/08-2016), di Alun-Alun Garut.
Penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih, Rabu (17/08-2016), di Alun-Alun Garut.

Sangatlah menarik, jika menyimak juga mendalami makna Do’a Penutup disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra HR Muhammad Syafi’i.

Mengemuka pada Sidang Paripurna MPR/DPR 2016, dan penyampaian pidato Presiden Joko Widodo yang berakhir Selasa sore (16/08-2016) tersebut.

Lantaran , :

Dalam salah satu doa yang disampaikannya, disebutkan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari pemimpin yang berkhianat, dan hanya memberikan janji-janji palsunya kepada rakyat.

Penyerahan SK Pengurangan Hukuman Kepada Ratusan Narapidana di Lapas Garut, Sepuluhan Di Antaranya Bisa Langsung Bebas.
Penyerahan SK Pengurangan Hukuman Kepada Ratusan Narapidana di Lapas Garut, Sepuluhan Di Antaranya Bisa Langsung Bebas.

“Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat, yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan, dan melindungi rakyat ini. Tetapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,” ungkap Syafi’i dalam doanya pada sidang paripurna MPR/DPR 2016 di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/08-2016) itu.

Dikemukakan, saat ini banyak rakyat yang digusur oleh arogansi aparat negara. Rakyat kehilangan tempat tinggal, dan pekerjaan sehingga menjadi sengsara. Syafi’i menyebutkan aparat negara saat ini seakan-akan bersemangat menakuti rakyatnya.

Ragam Atraksi Tujuhbelasan.
Ragam Atraksi Tujuhbelasan.

“Hari ini di Kota Medan di Sumatera Utara, 5.000 KK di Indonesia sengsara dengan perlakuan aparat negara. Allah lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa,” harap Syafi’i dalam doanya.

Syafi’i pun berdoa, agar para pemimpin negara bertaubat kepada Allah. Jika tidak, maka ia berharap agar para pemimpin di negara ini diganti dengan pemimpin yang lebih baik.

“Ya Allah kalau ada mereka yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tetapi kalau mereka tidak bertaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini ya Allah,” ungkap Syafi’i.

Para Pemanjat Pinang.
Para Pemanjat Pinang.

Menurut dia, pemimpin di negera ini sedang kehilangan kekuatannya untuk mencegah bangsa ini dikuasai negara lain. Sebab, dalam kenyataannya, masyarakat Indonesia justru menjadi kuli di negerinya sendiri. Kekayaan alam yang dimiliki pun telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Ia katakan, kondisi bangsa Indonesia saat ini seperti kehilangan jati diri bangsa yang ramah, santun, dan saling percaya.

“Tetapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami,” ungkap dia dalam doa yang dibawakannya.

Penduduk Panawuan Sukajaya Selenggarakan Jalan Sehat.
Penduduk Panawuan Sukajaya Selenggarakan Jalan Sehat. (Foto : S Budiani).

Selain itu, tingkat kejahatan saat ini dinilainya cukup tinggi. Hal ini dilihat dari kapasitas penjara yang selalu penuh. Sayangnya, menurut Syafi’i, tak ada upaya dari pemerintah untuk mengurangi tingkat kejahatan yang semakin meningkat ini dengan kebijakan-kebijakannya.

“Wahai Allah, memang semua penjara over capacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir ya Allah. Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Nuh bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat, tetapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu,” imbuh Syafi’i.

********

Pelbagai Sumber.