Menyikapi Ke-Indonesiaan: Aksi 411 dan 212

0
75 views
Sejumlah anggota TNI berjilbab membagikan air minum saat melakukan pengamanan dalam aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12).Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat memadati area Monumen Nasional Jakarta. (Republika/ Yogi Ardhi).

Red: Muhammad Subarkah

Oleh: DR Chusnul Mar’iyah, Guru Besar FISIP UI
=======================

Sejumlah anggota TNI berjilbab membagikan air minum saat melakukan pengamanan dalam aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12).Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat memadati area Monumen Nasional Jakarta. (Republika/ Yogi Ardhi).
Sejumlah anggota TNI berjilbab membagikan air minum saat melakukan pengamanan dalam aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12).Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat memadati area Monumen Nasional Jakarta. (Republika/ Yogi Ardhi).

Saya tidak perlu ngotot berapa jumlah yg hadir di 411 dan di 212. ada yg bilang 50 rb satu juta, tujuh juta. silahkan saja. niat kita menentukan jumlah pasti dicatat oleh malaikat Allah. Karena dengan sengaja mengecilkan? karena dengan ‘Ilmu’ dan benar atau karena dengan ‘Ilmu’ tapi salah hitungannya karena tidak hadir di tempat? variabelnya salah, datanya salah? asumsi salah? atau saya tidak tahu, karena bukan bidang wilayah kemampuan saya.

Insya Allah catatan malaikat Allah pasti benar, berapa jumlah yg pasti datang? dan catatan itu tdk bisa dihapus oleh manusia yang mencoba mengecil2kan, masih ada variabel lain yang ingin hadir tapi dihalangi aparat? atau hatinya hadir tapi ada halangan-halangan lain, dan kegiatan di banyak kota pada saat yang sama. Teman saya Rosemary dia bilang hadir di masjid di Medan. Adik saya Nanik juga ikut kegiatan di Palu. Mereka mengetuk pintu langit bukan pintu istana atau DPR. Alhamdulillah semua lancar, kita menunggu takdir Allah.

Umat muslim melaksanakan shalat jum'at ditengah guyuran hujan saat mengikuti aksi damai di kawasan Monas, Jakarta, Jumat (2/12). Republika.co.id
Umat muslim melaksanakan shalat jum’at ditengah guyuran hujan saat mengikuti aksi damai di kawasan Monas, Jakarta, Jumat (2/12). Republika.co.id

Saya membayangkan bak kita berada di Padang Mahsyar. Kita terpisah dengan rombongan dan khusuk dengan diri kita sendiri karena kita diajak berdzikir, air mata sejak berangkat dari rumah pagi-pagi buta sampai sekarangpun masih suka menangis membaca ceritera para jama’ah. Insya Allah Cinta Al Qur’an dapat terus memupuk iman kita.

Saya yakin siapapun yg beriman dan ber-Islam dengan baik di negeri ini pasti menjadi warga negara Republik Indonesia dengan baik. Oleh karena itu kita terus bersyukur. Mari kita maknai Indonesia dengan rahmatan lil alamin.

Jangan ummat Islam dipojok-pojokkan tidak memiliki jiwa Kebhinekaan. Kami tidak mampu menggunakan jargon yang tidak sesuai antara kata dan perbuatan berbeda. Kami takut masuk golongan kaum munafik. Naudlubillah.

Mari simak catatan pendek ini:

1. Mari kita meyakini bahwa Indonesia milik kita semua. Tidak perlulah kita merasa yg paling memiliki Indonesia. Di negeri yang kita cintai ini tidak ada satu pihak pun yang berhak mengklaim sebagai paling berdarah merah putih, penjaga utama NKRI, Pancasila dan UUD 45 serta yg sudah diamandemen. Kita masing-masing dapat mengekspresikan ke Indonesiaan kita, tdk perlu saling hujat.

2. Demokrasi dan Kebhinekaan bukan hanya ditentukan oleh indikator minoritas menjadi Presiden, Gubernur, Bupati/Wali Kota. Mari kita rumuskan demokrasi politik kita dg jujur, civil and political liberties. Kaum minoritas sudah over representative di ekonomi di Parlemen, di eksekutif, bandingkan dg di negeri yg muslim minoritas. Apalagi Demokrasi itu salah satu indikatornya adalah majority rule bukan minority rule.

3. Mari kita ingat kembali kata-kata Bung Karno: “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat istiadat, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke”.

4. Marilah kita kembali belajar sejarah:

a). Para tokoh Islam Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah), Agus Salim, A Kahar Mudzakir, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Wahid Hasyim (NU), berjuang dalam kasus Piagam Jakarta. Pengorbanan luar biasa.

b). Pengorbanan ummat Islam tidak dapat diukur — meski Muslim mayoritas dan menjadi penyangga yang setia Negara RI dan sangat toleran-. Mari kita melihat Keislamannya bukan sbg opisisi biner KeIndonesiaan. wajah politik di Indonesia akan selalu diwarnai ‘political Islam’. Mari untuk tidak menegasikan Islam sebagai warga negara di negerinya, menegasikan ummat Islam bisa mengarah kepada anti Kebhinekaan.

c). janganlah para elit, scholars di negeri ini menjadi Islamophobia di negeri ‘the most populous muslim country in the world’. Negara penduduk muslimnya terbesar di dunia. Perjuangan Islam melawan penjajah tdk dapat dihilangkan dari bangunan berdirinya Republik ini.

5. Urat kesabaran ummat Islam tidak perlu diragukan, sangatlah luas, — bak seorang Ibu yg melahirkan anaknya, kasih sayangnya melampaui luasnya Samudra Indonesia, Atlantik dan Pacifik.

6. Namun saat ini denyut nadi keagamaan Ummat Islam sedang tersakiti dan menuntut keadilan. Janganlah kasus ini dipandang sebagai ancaman Kebhinekaan. Apakah kebhinekaan hanya milik sekelompok orang yg bersuara lantang di ruang publik? Yang direkam oleh media yg didominasi dan dimiliki oleh segelintir kelompok saja? Rasa sakit ini mustinya juga dirasakan oleh semua ummat beragama.

7. Mari kita pelajari dengan hikmah dan kebijaksanaan: apakah pemilik negeri ini hanya oleh mereka yangg teriak merdeka? yg menggunakan label dan jargon merah putih saja? sementara tindakan kita tidak mencerminkan merah putih tetsebut?

8. Mari para aktivis, kita mempromosikan untuk membangun Ke Indonesiaan yg dilandasi dan disemai dalam jiwa kita, ‘mind-set’ kita, sikap berkeadilan kita dan tindakan yang luhur sebagai anak bangsa republik ini.

9. Marilah kita percaya bahwa Agama merupakan unsur penting dalam bangunan negara ini. Sebagai sumber etika, norma termasuk etika politik. Indonesia adalah negara nasionalis religius. Membangun negeri karena Ridlo Allah.

Republik ini juga direbut dengan teriakan Allahu Akbar Allahu Akbar. Mari kita tdk egois dlm memaknai dan mengisi Kemerdekaan Indonesia.

Selamat berjuang bersama-sama. Semoga Allah selalu meridloi. Bismillah, Al Fatihah.. Amin.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here