Menyemai Calon Pemimpin Pengabdi

by

J. Sumardianta, Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta; Penulis Buku Guru Gokil Murid Unyu: Pendidik Hebat Zaman Lebay (2013)

Garut News, ( Selasa, 15/10 ).

Ilustrasi, Kekhusualn Shalat, Tingkatkan Kualitas Diri. (Foto: John).
Ilustrasi, Kekhusualn Shalat, Tingkatkan Kualitas Diri. (Foto: John).

Indonesia sedang dimangsa “lucifer” keserakahan, ketidakpedulian, dan korupsi tak berkesudahan.

Raja setan benar-benar menggerogoti sekujur negeri.

Korupsi berjemaah dilakukan polisi, politikus DPR, hakim agung, bahkan petinggi Mahkamah Konstitusi.

Kedelai, sapi, sengketa pilkada, bahkan Al-Quran, menjadi bancakan rasuah.

Bagaimana lembaga pendidikan memaknai kebrutalan para pemegang kuasa ini?

Pendidikan konvensional yang menyesaki murid dengan pengetahuan hafalan berujung ujian nasional jelas kedaluwarsa.

Sekolah tidak bisa lagi mendidik murid zaman bejat ini dengan kurikulum dan didaktika model kemarin.

Sudah saatnya sekolah mendidik calon pemimpin pengabdi yang cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa.

Sekolah harus memberi perhatian khusus kepada pribadi-pribadi jujur, adil, utuh, optimal, berdisiplin, mandiri, kreatif, gigih, cerdas, dan seimbang.

Murid mesti didik memiliki integritas, bertanggung jawab, berkeadilan, dan memperlakukan sesama dengan penuh hormat.

Program imersi (immersion week) merupakan contoh program mendidik murid menjadi pemimpin pengabdi (servant leadership) salah satu SMA di Yogyakarta.

Ratusan siswa setiap tahun dikirim sebagai peserta ke Jakarta dengan bus non-AC, perjalanan yang tidak nyaman bagi peserta yang dalam kesehariannya hidup berkecukupan.

Program imersi memang melatih peserta belajar bermati-raga (asketik).

Lupakan segala bentuk fasilitas hidup mewah, apalagi hedonistik.

Peserta disebar di sentra-sentra kaum miskin urban.

Di pelbagai kantong perkampungan kumuh itulah peserta hidup bersama induk semang yang seluruhnya warga miskin perkotaan.

Contohnya, kolong Tol Pluit, kolong jembatan Kampung Melayu, dan kuburan Kebon Nanas–semuanya di Jakarta.

Program imersi merupakan kegiatan untuk mendengar, melihat, merasakan, dan mengalami langsung kehidupan nyata orang termiskin di antara kaum miskin perkotaan.

Orang miskin di Jakarta sungguh kecingkrangan.

Rumah, tanah, penghasilan tetap, dan jaminan sosial tidak punya.

Para peserta bekerja sebagai pemulung, penyortir sampah, pengamen, kuli pelabuhan, pedagang sayuran, nelayan, pengupas kerang, pengolah limbah ikan, dan tukang gali kubur.

Eksperiensia (pengalaman) merupakan inti program imersi.

Peserta diberi dua pengalaman berbentuk probasi (cobaan) dan eksperimentasi (latihan).

Eksperiensia mendorong peserta sampai pada tapal batas mereka: perasaan paling tersiksa dan galau berada di zona tidak nyaman.

Peserta yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu tidur dikerubuti kucing liar, tikus, dan kecoa.

Perasaan waspada membuat mereka tidur tidak nyaman, karena banjir Sungai Ciliwung seminggu sebelumnya merendam kawasan ini.

Pemulung ternyata bukan sampah masyarakat, melainkan pembersih sampah yang diproduksi masyarakat.

Koruptor yang ditangkap KPK lebih layak disebut sampah masyarakat, karena merugikan negara dan menyengsarakan rakyat.

Pemulung pekerja keras, ulet, dan tekun.

Kerja berat mereka jalani dengan asyik dan senang-senang saja.

Salah besar pandangan yang menganggap orang miskin itu malas.

Mereka miskin karena korban ketidakadilan struktural.

Ada peserta yang mendapat induk semang suami-istri di kompleks pemakaman Kebon Nanas, kuburan tempat mengungsi para korban gusuran proyek Kanal Banjir Timur.

Suami bekerja merawat kuburan dan menggali kubur.

Istri bekerja sebagai tukang cuci pakaian.

Kuburan muslim dan Cina berada dalam satu kompleks.

Kebon Nanas contoh nyata multikulturalisme Jakarta.

Peserta program membantu induk semang menggali sekaligus menguruk liang lahad.

Seorang peserta yang kini bermukim di Amerika belajar pengendalian diri.

Dia tidak bisa tidur karena suhu udara panas dan banyak nyamuk.

Obat nyamuk yang dibeli dari hasil kerjanya sebagai penyortir sampah batal dinyalakan, karena induk semang tidak tahan asap obat nyamuk.

Seorang peserta lain merasakan pengalaman buruk nyaris menjadi korban aksi cemburu buta.

Preman mengancam menghantam kepalanya.

Dia dianggap sebagai biang keonaran keluarga ibu induk semang.

Preman menganggap peserta imersi membuat kakak kandung induk semang akan pindah ke Kebon Kopi.

Jawara mengamuk karena pacarnya mau pindah.

Peserta terjepit situasi konfliktual, karena warga kampung balik mengancam preman.

Program imersi diikuti remaja yang mengalami defisit afeksi di tengah keluarga mereka.

Para orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Anak-anak terabaikan. Di lokasi, mereka tersentuh mendapati kenyataan keluarga induk semang, walau serba kekurangan, ternyata surplus perhatian, akrab, dan hangat satu dengan yang lain–sesuatu yang kurang mereka rasakan di rumah.

Kehadiran peserta menjadi suri teladan nyata bagi dua remaja putri anak induk semang.

Kedua remaja itu jadi bangga memiliki ayah seorang kuli pelabuhan.

Soalnya, dua peserta yang menumpang di rumah mereka tidak canggung menjadi kuli pemindah semen dari truk trailer ke atas kapal di Tanjung Priok.

Peserta belajar kerendahan hati saat bekerja mengikuti bapak asuhnya yang memunguti sisa-sisa makan siang karyawan pabrik di kawasan berikat Cilincing.

Sisa-sisa nasi dijemur untuk dijadikan pakan ternak.

Di Poncol, ada murid yang demi menghormati induk semang harus makan dengan lauk bandeng yang dijaring dari empang yang sehari-hari berfungsi sebagai kakus.

Peserta program imersi belajar bukan kepada guru dan orang pintar, melainkan kepada orang miskin yang dianggap bodoh dan tidak berpendidikan.

Generasi muda zaman sekarang sedikit membutuhkan pengetahuan, mereka harus lebih banyak belajar kearifan (less knowledge, more virtue).

Saat menjadi pemimpin benar-benar, kelak semoga mereka tidak dirasuki setan konsumtif berujung keserakahan, ketidakpedulian, dan korupsi–sebagaimana diperagakan elite politik Indonesia bertudung kemunafikan dan bertopeng kesalehan yang sekarang menjadi tahanan KPK.

****** Tempo.co