Menyelamatkan Rupiah

0
36 views

Garut News ( Selasa, 16/12 – 2014 ).

Penyimpanan Barang Berharga Termasuk Uang pada Jaman Baheula.
Penyimpanan Barang Berharga Termasuk Uang pada Jaman Baheula.

Bank Indonesia mesti mengantisipasi dampak buruk dari rilis situs web TheRichest yang memasukkan rupiah sebagai mata uang tak berharga di dunia.

Situs itu membandingkan 180 mata uang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dolar Amerika.

Hasilnya, rupiah hanya lebih kuat dari rial (Iran), dong (Vietnam), dan dobra (Sao Tome).

Sikap BI, tugas utamanya menjaga nilai tukar, baik terhadap mata uang lain maupun barang, sangat penting lantaran rilis TheRichest tersebar luas.

Kabar tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpercayaan terhadap mata uang kita. Situasi ini sangat berbahaya sebab bisa mengakibatkan rupiah kian tertekan.

Pada sepekan terakhir, nilai tukar rupiah terus melemah. Pada perdagangan Jum’at pekan lalu, nilai tukar rupiah anjlok 117 poin (0,95 persen) ke level 12.467 per dolar Amerika.

Rupiah mendekati level terendah dalam enam tahun terakhir. Penurunan harga minyak dunia dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) tahun depan menjadi faktor utama pelemahan rupiah.

Tentu saja tak mungkin Indonesia bisa mengatasi persoalan eksternal. Yang bisa dilakukan menciptakan suasana kondusif yang bisa menggiring pada penguatan rupiah, terutama pada sisi suplai dan permintaan dolar Amerika.

Masalahnya, suplai dolar kian terbatas karena ekspor kita juga terus menurun. Ekspor selama 10 bulan pertama tahun ini lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu.

Pengendalian sisi permintaan juga sulit dilakukan. Impor migas kita naik terus selama tiga tahun terakhir.

Tahun lalu, kita membelanjakan Rp540 triliun untuk minyak mentah dan bahan bakar minyak, sedangkan impor migas selama 10 bulan tahun ini mencapai Rp440 triliun.

Neraca migas juga selalu defisit. Mengakibatkan surplus dari neraca nonmigas tergerus habis.

Utang luar negeri juga cenderung meningkat. Per Juni lalu, utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 284,9 miliar, naik tiga persen dibanding pada triwulan sebelumnya.

Peningkatan terbesar terjadi di swasta, utangnya naik dari US$ 145,7 miliar menjadi US$ 153,2 miliar.

Dampaknya pembayaran pokok dan cicilan juga naik.

Dengan posisi seperti itu, BI jelas tak mungkin sendirian mengatasi pelemahan rupiah. Karena itu, pemerintah bisa mengambil peran lebih besar untuk membantu BI.

Indonesia bisa menarik dolar lebih banyak melalui investasi langsung (Foreign Direct Investment).

Selain memasukkan dolar, investasi langsung bakal mendorong perekonomian, termasuk membuka lapangan kerja.

Syaratnya, memerbaiki iklim investasi. The Economist pernah menulis, masalah utama ekonomi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korup, dan infrastruktur yang miskin.

Nyaris tak mungkin pemerintah Joko Widodo mampu menarik investasi besar-besaran tanpa menyelesaikan tiga soal itu.

Pemerintah kudu ikut membantu BI mengatasi masalah rupiah kian “tak berharga” ini.

*******

Opini Tempo.co