Menyalurkan Energi 212 untuk Ekonomi Umat

0
13 views
Irfan Syauqi Beik. (Istimewa).

Red: M Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Garut News ( Selasa, 20/12 – 2016 ). Oleh: Irfan Syauqi Beik (Pengamat Ekonomi Syariah IPB)

Irfan Syauqi Beik. (Istimewa).
Irfan Syauqi Beik. (Istimewa).

Salah satu dampak dari gerakan 212 adalah membangkitkan kembali energi umat Islam untuk membangun bangsanya. Muncul upaya untuk menyalurkan energi besar ini pada penguatan perekonomian masyarakat, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), yang notabene dimiliki oleh mayoritas umat.

Tentu semangat ini harus kita sambut dan kita dorong, apalagi UMKM telah terbukti menjadi salah satu pilar yang menyangga perekonomian nasional selama ini, dan menyerap angkatan kerja dengan proporsi terbesar.

Lahirnya Koperasi 212 dan berbagai warung ritel yang dilabeli angka 212 merupakan indikasi yang sangat positif bahwa energi besar ini memerlukan wadah saluran yang tepat, sehingga membawa manfaat bagi perekonomian bangsa. Apalagi bangsa ini tengah berhadapan dengan situasi perekonomian yang berat.

Mulai dari masih tingginya angka kemiskinan yang mencapai angka 10,86 persen dari total penduduk, masih tingginya tingkat kesenjangan pendapatan dimana data Bank Dunia (2016) menunjukkan bahwa 1 persen kelompok menguasai 50,3 persen kekayaan, belum membaiknya daya beli masyarakat, dan lain-lain. Belum pulihnya kondisi perekonomian global juga turut memengaruhi kondisi perekonomian domestik.

Karena itu, semangat 212 dalam memajukan perekonomian bangsa harus disalurkan secara tepat agar manfaatnya bisa optimal. Paling tidak, ada dua aspek yang perlu diperhatikan agar energi 212 ini dapat dioptimalkan dengan baik.

Pertama, harus disadari bahwa diantara sunnatullah perekonomian adalah bekerjanya mekanisme permintaan dan penawaran. Untuk itu, baik aspek permintaan maupun aspek penawaran perlu mendapat perhatian bersama. Dari sisi permintaan, ajakan yang viral di media sosial untuk membeli barang dari warung tetangga merupakan langkah awal yang baik.

Ini akan memunculkan keberpihakan pada UMKM. Juga perlu dimunculkan gerakan untuk mengutamakan membeli produk UMKM dan produk dalam negeri. Produk-produk asing hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir jika memang sudah tidak pilihan lagi.

Intinya adalah mengubah paradigma konsumsi. Ruang untuk belanja produk UMKM milik umat harus diperbesar. Jika selama ini proporsi belanja kita untuk produk UMKM hanya 10 persen dari pendapatan, maka sekarang kita tingkatkan menjadi 20 persen.

Jika ini dilakukan, perlahan tapi pasti, maka dampaknya akan sangat positif bagi pengembangan UMKM karena permintaan terhadap produk mereka terus meningkat. Ini adalah bentuk keberpihakan yang nyata.

Dari sisi penawaran, selain mendorong berkembangnya institusi-institusi bisnis baru, seperti 212Mart dan Koperasi 212, kita juga tidak boleh meninggalkan institusi-institusi bisnis dan lembaga ekonomi umat yang telah ada. Institusi yang telah ada ini juga harus kita dukung dan kita kembangkan, baik institusi di sektor riil, sektor keuangan maupun sektor ZISWAF (zakat, infak, sedekah dan wakaf).

Di sektor riil misalnya, hendaknya kita memprioritaskan hotel syariah dibandingkan hotel konvensional. Juga kita perlu dorong kesadaran untuk hanya mengkonsumsi produk halal, baik makanan, minuman, kosmetika maupun obat-obatan.

Para pengusaha muslim yang ada juga perlu diajak untuk mau bersinergi dalam membangun kekuatan ekonomi umat. Mereka harus dijadikan sebagai bagian integral dari gerakan ekonomi 212 ini.

Demikian pula dengan sektor keuangan. Keberpihakan terhadap lembaga keuangan syariah (LKS), seperti perbankan syariah dan BMT harus kita perkuat. LKS harus dijadikan sebagai prioritas utama dalam melaksanakan berbagai transaksi keuangan umat.

Termasuk memindahkan rekening konvensional ke rekening syariah harus dijadikan sebagai bagian dari spirit 212. Terlepas dari kelemahan yang ada, wajah LKS pada dasarnya juga mencerminkan wajah umat. Karena itu, mari kita dukung LKS yang ada untuk terus tumbuh dan berkembang.

Sedangkan dari sisi ZISWAF, kesadaran untuk menyalurkan ZIS ke BAZNAS dan LAZ resmi harus terus kita dorong. Dana zakat yang ada, dapat dijadikan sebagai sumber dana untuk memperluas basis produksi ekonomi umat.

Dari total dana ZIS yang terhimpun hingga Agustus 2016 (total Rp 3.65 triliun), baru 15 persen yang disalurkan untuk program ekonomi.

Jika potensi zakat yang mencapai angka Rp 217 triliun tersebut dapat kita realisasikan, atau minimal potensi zakat penghasilan individu yang mencapai angka Rp 83 triliun dapat diaktualisasikan, maka ruang untuk membangun bisnis umat akan semakin besar.

Jika 30 persennya bisa disalurkan dalam bentuk program ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, maka efek multipliernya akan sangat besar.

Begitu pula halnya dengan wakaf. Pengembangan wakaf produktif harus menjadi salah satu agenda besar gerakan 212. Wakaf uang yang potensinya bisa mencapai angka Rp 120 triliun menurut BWI (Badan Wakaf Indonesia), harus dapat direalisasikan dan dioptimalkan.

Untuk itu, gerakan untuk berwakaf uang ini harus terus digelorakan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari spirit 212.

Selanjutnya, aspek kedua adalah advokasi kebijakan. Sudah saatnya gerakan 212 mengawal kebijakan pemerintah agar tidak merugikan kepentingan ekonomi rakyat. Jangan sampai kebijakan untuk mendatangkan investasi malah merugikan perekonomian nasional dan hanya menguntungkan negara asing.

Disinilah peran gerakan 212 untuk melakukan advokasi terhadap kebijakan negara. Advokasi kebijakan ini perlu dilakukan secara masif, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Gerakan 212 harus bisa meyakinkan negara untuk tidak tunduk pada terms and condition negara investor.

Namun gerakan 212 juga harus adil, ketika ada kebijakan pemerintah untuk mendukung perekonomian masyarakat, maka harus didukung penuh. Sebagai contoh, kebijakan Walikota Padang untuk melindungi UMKM kota tersebut dari serbuan jaringan bisnis waralaba modern patut dijadikan role model yang baik.

Demikian pula dengan kebijakan Bupati Kulonprogo yang mengembangkan industri rakyat dengan mengembangkan semangat membeli produk rakyat sendiri perlu mendapat sokongan penuh gerakan 212 dan menginspirasi daerah lainnya.

Mudah-mudahan, melalui upaya penguatan dan sinergi secara berkelanjutan, dengan dilandasi semangat keikhlasan untuk membangun negeri, perekonomian umat dan bangsa akan kembali bangkit. Tidak mudah memang, namun bukan pula tidak mungkin.

Wallahu a’lam.

********

Republika.co.id