You are here
Menolak Halim Perdanakusuma ARTIKEL 

Menolak Halim Perdanakusuma

Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI

Jakarta, Garut News ( Rabu, 11/12 ).

Ilustrasi, Seperti Kuda Dipakai Membajak Sawah. (Foto : John).
Ilustrasi, Seperti Kuda Dipakai Membajak Sawah. (Foto : John).

Halim Perdanakusuma lahir di Sumenep, Madura, pada 1922 dari keluarga birokrat Hindia Belanda.

Setelah lulus sekolah menengah pada 1938, ia masuk sekolah pamong praja di Magelang.

Pecahnya perang dunia menyebabkan pemerintah Hindia Belanda menetapkan milisi umum, dan Halim mengikuti pendidikan angkatan laut.

Sebelum Jepang menyerang Hindia Belanda, mereka diungsikan ke AS, dan Halim sempat mengikuti pelatihan di Canadian Air Force.

Ia berpengalaman dalam bertempur di medan perang Eropa.

Setelah Indonesia merdeka, ia pulang ke Tanah Air dan diminta membangun AURI.

Sesuai dengan keahliannya, Halim ditugasi sebagai Perwira Operasi dalam menembus blokade Belanda, mengatur siasat serangan udara, penerjunan pasukan di luar Jawa dan penyelenggaraan operasi penerbangan ke berbagai wilayah.

Di antaranya penerbangan unik untuk pertama kalinya ke Pulau Madura pada 12 Mei 1946.

Berhubung pangkalan udara di sana belum siap, mereka terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah lapangan pembuatan garam.

Di samping itu, ia diserahi pula tugas sebagai instruktur navigasi di sekolah penerbangan di samping menerbangkan para pejabat yang akan melakukan perundingan dengan pihak Sekutu di Jakarta tentang pengangkutan tawanan perang dan interniran.

Pada 21 Juli 1947 Belanda melakukan agresi militer pertama dengan melancarkan serangan udara serempak terhadap semua pangkalan udara Republik Indonesia, sehingga menimbulkan banyak kerusakan.

Untuk menghubungkan Jawa dengan Sumatera, sebuah lapangan terbang disiapkan rakyat secara gotong-royong di Gadut, Bukittinggi.

Untuk itu, sebuah pesawat Dakota disewa dari luar negeri.

Dalam usaha mencari bantuan ke luar negeri inilah Halim dan Iswahjudi pergi ke Bangkok pada Desember 1947 untuk menjajaki kemungkinan pembelian senjata di Thailand.

Dalam perjalanan pulang pada 14 Desember 1947, pesawat itu jatuh di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.

Jenazah Halim Perdanakusuma dapat dikenali dan dimakamkan penduduk di sekitar itu.

Pangkalan Udara Cililitan sudah dibangun pada zaman Hindia Belanda, kita dapat melihat foto pangkalan udara ini pada 1925, misalnya.

Sesuai dengan kesepakatan dalam KMB (Konferensi Meja Bundar) pada 1949, pangkalan ini dengan seluruh fasilitasnya diserahkan kepada AURI pada 20 Juni 1950.

Pada 17 Agustus 1952 nama Pangkalan Udara Cililitan diubah menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Sejak semula Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma memang dirancang bukan sebagai bandara komersial.

Walaupun dibangun lebih belakangan, Bandara Kemayoran ditetapkan sebagai bandara internasional pada 1940.

Sebelum bandara Soekarno-Hatta selesai, memang kegiatan beralih dari Kemayoran ke Halim Perdanakusuma, namun itu hanya untuk sementara.

Halim Perdanakusuma tetap menjadi pangkalan militer (markas Komando Operasi Angkatan Udara I), pangkalan udara untuk VVIP, serta bandar udara sipil terbatas.

Sebelum dibangun jalan tol Cipularang, di Halim terdapat penerbangan Jakarta-Bandung dengan pesawat kecil.

Sekarang sudah tidak ada lagi.

Bila Bandara Kemayoran digambarkan secara bagus dalam komik terkenal di dunia Tintin yang berjudul “Penerbangan 714 ke Sydney”, sebaliknya Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma disebut secara negatif dalam film “Pengkhianatan G30S/PKI” sebagai sarang pemberontak.

Ini diprotes oleh Persatuan Purnawirawan AURI yang mengatakan Lubang Buaya tempat terbunuhnya enam orang Jenderal itu bukan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, melainkan termasuk wilayah Pondok Gede.

Itu sebabnya, mereka meminta Menteri Penerangan Yunus Yosfiah serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono agar film yang jadi tontonan wajib selama belasan tahun itu disetop penayangannya sejak 30 September 1998.

Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma berfungsi sebagai tempat pengamanan bagi tokoh penting.

Jika terjadi keadaan darurat, di Halim Perdanakusuma selalu siap pesawat yang bisa menerbangkan presiden ke tempat yang aman, termasuk ke luar negeri.

Itulah sebabnya, pada 1 Oktober 1965 Presiden Sukarno menuju Halim dan beberapa selama waktu berada di tempat itu.

Pada Januari 1974, ketika meletus peristiwa Malari, api membakar Senen dan beberapa tempat di Jakarta, Perdana Menteri Jepang Tanaka diterbangkan dengan helikopter dari Istana Merdeka ke Pangkalan Halim Perdanakusuma sebelum pulang ke Tokyo.

Perkembangan selama dua dekade belakangan ini, daerah di sekitar Halim seperti Pondok Gede dan Bekasi berkembang pesat sebagai pusat permukiman penduduk yang padat.

Deru pesawat akan membuat bising warga.

Kemacetan yang parah di jalan raya Pondok Gede-Asrama Haji-Garuda akan menyebabkan akses untuk keluar masuk bandara Halim terganggu.

Bisa jadi penumpang akan ketinggalan pesawat, kecuali jalan-jalan raya di sekitar Halim itu dilebarkan, yang tentu akan memakan waktu pula.

Dari semula memang Halim Perdanakusuma tidak didesain sebagai bandara komersial.

Mengutip Wakil Gubernur DKI Basuki Purnama, “Ini seperti kuda dipakai membajak sawah.” ¬†

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment