Menjadi Besi Tua Nyaris Tak Berharga

0
15 views

Garut News ( Senin, 13/10 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John DH).
Ilustrasi. (Foto : John DH).

Teronggoknya bangunan pusat pengolahan biji jarak pagar (jatropha curcas) lengkap berbagam perangkat mesinnya di Kampung Legok Desa Sukarame Kecamatan Leles bernilai ratusan juta rupiah, kini hanya menjadi besi tua nyaris tak berharga.

Sejak dibangun beberapa tahun lalu, bangunan berikut satu paket lengkap mesin pengolahan biji jarak baru tersebut, malahan tak pernah dioperasikan.

Bahkan beberapa bagian daun pintu dan dinding bangunan tampak rusak, dan kumuh.

Pada bagian luar, kerangka menara besi penyangga drum air (torn) masih berdiri tegak kendati terlihat jelas tak pernah terurus.

Sedangkan drum penampung airnya tak lagi berada di tempatnya.

Di bagian dalam bangunan, mesin-mesin pengolah minyak biji jarak terdiri mesin pengupas kulit biji jarak, mesin pengepres, dan mesin penyaring mulai berkarat dan dipenuhi debu.

Ironisnya lagi, wilayah sekitar bangunan pusat pengolahan minyak jarak pagar itu nyaris tak ada lahan kebun tanaman jarak pagar.

Hanya ada satu dua tanaman jarak pagar di pinggir jalan ke lokasi bangunan mubazir tersebut.

“Kalau enggak salah itu bantuan pemerintah untuk petani melalui koperasi. Tapi sejak dibangun sampai sekarang tak pernah dipakai. Torn-nya malah sudah hilang entah ke mana,” kata Dadang Br(60), seorang pemuka masyarakat warga Kampung Legok Desa Sukarame, Ahad (12/10-2014).

Dia mengaku tak ingat lagi kapan pusat pengolahan minyak jarak tersebut dibangun. Dia juga mengaku heran lantaran antusiasme petani bertanam pohon jarak pagar sendiri rendah.

“Memang sempat ramai-ramai tanam jarak, tapi tak sampai berkebun tanaman jarak. Saya juga heran untuk apa ada mesin ini?,” kata Dadang.

Dari pihak Pemkab Garut sendiri hingga kini belum ada keterangan jelas mengenai keberadaan bangunan dan mesin pada pusat pengolahan minyak biji jarak di Desa Sukaramet tersebut.

“Nanti saya cek dulu. Karena seingat saya, tak ada bantuan untuk olahan biji jarak pagar,” kata Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Garut Indriana Sumarto melalui pesan singkat saat dikonfirmasi.

Ungkapan senada dikemukakan Kabid Produksi Haeruman. “Saya tak tahu soal itu, urusan saya soal budidaya. Tapi sekarang kan tanaman jarak pagarnya sudah enggak ada. Selama ini juga saya tak pernah ada kegiatan jarak pagar. Kalau (mesin) jatropha mungkin di koperasi,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi UMKM dan BMT Kabupaten Garut Tedi R juga mengaku tak mengetahui soal bangunan dan mesin pusat pengolahan biji minyak jarak tersebut.

Dia mengaku pula belum mengetahui apakah Koperasi Jatropha Mandiri di Desa Sukarame itu merupakan koperasi binaannya atau bukan.

“Harus dicek lagi. Jumlah koperasi di Garut kan banyak, hampir 1.300-an,” ujarnya.

Informasi diperoleh, pendirian bangunan pusat pengolahan minyak jarak di Desa Sukarame itu berkaitan dengan pencanangan Pemerintah Pusat tentang pembangunan Desa Mandiri Energi pada 2006-2007, menyusul terjadinya krisis bahan bakar minyak ketika itu.

Bioethanol yang salah satunya bisa diperoleh dari ekstraksi minyak biji jarak pagar digadang-gadang menjadi energi alternatif.

Ketika itu, sebuah perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia sempat antusias mengembangkan Desa Mandiri Energi melalui program kemitraan kebun rakyat bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, serta menggandeng mitra binaan.

Salah satu lokasi dibidik Garut. Ribuan hektare lahan tanah di Garut pun sempat ditanami jarak pagar, terutama di wilayah selatan.

Pada 2012, perusahaan biofuel asal Malaysia Bio Oil National (Bionas) pun tertarik budidaya jarak di Jawa Barat, tepatnya Garut, dengan menggandeng Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Tetapi belakangan, program Desa Mandiri Energi maupun budidaya jarak pagar tak jelas juntrungannya. Para petani pun kapok karena hasil panen biji jaraknya tak pernah laku dijual.

Mereka akhirnya membongkar kembali tanaman jarak, dan menggantinya dengan komoditi jenis tanaman lain.

*******

Noel, jdh.