Mengungkap Penyebab Kecelakaan Pesawat

0
20 views

Oleh: Yuni Ikawati dan J Galuh Bimantara

JAKARTA, Garut News ( Selasa, 13/01 – 2015 ).

Infografis AirAsia. (Kompas).
Infografis AirAsia. (Kompas).

Penemuan lokasi kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501, Sabtu (10/1/2015), oleh tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memberikan titik terang bagi pengungkapan penyebab jatuhnya pesawat jenis Airbus A320 seri 200 ini di Selat Karimata.

Musibah yang terjadi Minggu (28/12/2014) itu telah menewaskan 162 orang di pesawat naas tersebut.

Penyebab kecelakaan pesawat milik maskapai penerbangan Malaysia ini masih misterius. Hilangnya kontak pesawat yang menempuh rute Surabaya-Singapura ini dengan Pengawas Lalu Lintas Udara (ATC) Bandara Soekarno-Hatta tidak diawali dengan peringatan tanda bahaya dari pilot Kapten Irianto.

Komunikasi terakhir yang diterima ATC adalah permintaan kenaikan ketinggian pesawat dari 32.000 kaki atau 9,6 kilometer menjadi 38.000 kaki atau 11,4 kilometer dari permukaan bumi.

Beberapa menit setelah itu pesawat dinyatakan hilang.

Berdasarkan rute yang ditempuh serta saat hilangnya sinyal dan komunikasi itu, pencarian di Selat Karimata dilakukan.

Pencarian dilaksanakan dengan mengerahkan kapal yang dilengkapi serangkaian alat detektor, termasuk penangkap sinyal ping untuk mengetahui keberadaan kotak hitam.

Kotak itu sesungguhnya berwarna jingga atau kuning menyala untuk memudahkan pencarian.

Sinyal ping akan mulai terpancar dalam periode per detik dari pinger atau beacon locator begitu koneksi kotak hitam terputus dengan pesawat.

Baterai dari unit perekam data penerbangan dalam kotak hitam akan segera menggantikan suplai daya untuk kemudian mengaktifkan pinger hingga 30 hari pasca musibah.

Unit pinger yang ditempatkan di bagian tepi unit kotak hitam memancarkan sinyal 37,5 kilohertz. Berdasarkan pancaran gelombang suara itu, hidrofon yang dipasang di kapal akan mendengar tanda-tanda tersebut.

Dengan demikian, keberadaan kotak hitam dapat teridentifikasi.

Kotak berukuran sekitar 50 cm x 20 cm x 20 cm itu punya daya tahan tinggi terhadap benturan saat terjadi kecelakaan.

Kotak luarnya terbuat dari baja tahan api dan suhu hingga 1.000 derajat celsius. “Selain itu, bisa menahan tekanan hingga 90 G atau 90 kali bobotnya,” kata Joko Nugroho, pakar penerbangan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Kemampuan sistem itu lima kali dari yang dapat ditanggung manusia. Umumnya manusia akan mengalami hal fatal jika mengalami beban hingga 18 G.

Bagian ekor

Kotak hitam terpasang di bagian ekor pesawat yang merupakan bagian relatif aman dari benturan saat kecelakaan.

Ada dua unit perekam yang terpasang, yaitu flight data recorder dan cockpit voice recorder.

Pada kotak hitam itu ada bagian inti, yakni lempeng penyimpan data penerbangan atau memory board yang terlindung begitu rapat.

Unit vital itu dilindungi tiga lapis tabung yang terbuat dari baja tahan api.

Menurut Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi, di laboratorium, lempeng memori itu akan dimasukkan ke alat pembaca data.

Pada tahap pertama, di layar komputer akan tampil deretan data hasil rekaman selama penerbangan berupa tabel-tabel angka.

Tabel itu menunjukkan beberapa parameter, antara lain kecepatan pesawat dan kerja fungsi-fungsi kendali mekanis di dalamnya, antara lain kendali di sayap dan ekor.

Dari tabel itu kemudian dikonversikan menjadi grafik. Kemudian hal itu ditampilkan dalam disimulasi penerbangan.

Proses analisis itu memakan waktu relatif lama hingga beberapa bulan.

Titik terang

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo, kemarin, menyatakan, alat pinger locator pada dua kapal di bawah koordinasi BPPT telah menerima sinyal ping dari obyek yang diduga sebagai kotak hitam pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ 8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata-Laut Jawa.

Secara saintifik, kepastian obyek itu sebagai kotak hitam 95 persen. Hasil pasti menunggu konfirmasi dari KNKT.

Satu titik obyek dugaan kotak hitam ditemukan Kapal Survei Java Imperia, kapal mitra swasta BPPT, di koordinat 3 derajat 37 menit 21,13 detik Lintang Selatan dan 109 derajat 42 menit 42,45 detik Bujur Timur.

Titik lain dipetakan Baruna Jaya I di koordinat 3 derajat 37 menit 20,70 detik Lintang Selatan dan 109 derajat 42 menit 43 detik Bujur Timur.

Kedua titik itu ada sekitar 4,5 kilometer dari titik temuan ekor pesawat.

Kepala BPPT Unggul Priyanto menyatakan, penemuan itu membuktikan operasi SAR tak hanya membutuhkan peralatan, tapi juga penghitungan ilmiah.

Salah satunya, pemodelan hidrodinamika untuk menentukan lokasi badan utama pesawat dan kotak hitam.

Sejak awal, BPPT merekomendasikan lokasi pencarian badan pesawat dan kotak hitam berbeda dari peta Badan SAR Nasional, yakni di barat laut dari area penemuan jenazah serta serpihan-serpihan atau bagian pesawat.

Basarnas menyetujui usulan itu. ”Terbukti, ekor pesawat ditemukan di area yang kami petakan dengan pemodelan hidrodinamika,” ujarnya.

Kepala Seksi Survei Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Handoko Manoto menjelaskan, penemu pertama titik koordinat adalah kapal Java Imperia.

Kapal itu dalam perjalanan mengecek dua obyek yang dipetakan Kapal Negara Trisula milik Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai Kementerian Perhubungan yang juga dikoordinasi BPPT.

Autonomous underwater vehicle (AUV) yang dioperasikan Trisula menemukan dua obyek di dasar laut yang diduga berasal dari musibah jatuhnya AirAsia QZ 8501, salah satunya menyerupai jenazah.

Java Imperia mendapat sinyal ping dengan frekuensi 37,5 kilohertz, frekuensi sama dengan pinger locator kotak hitam AirAsia.

Java Imperia memeriksa sinyal itu dari 8 titik, menghasilkan satu titik koordinat yang dilaporkan ke BPPT, Sabtu (10/1) siang.

Baruna Jaya dikirim ke area itu untuk verifikasi ulang. Hasilnya, Baruna Jaya I mendapat sinyal ping dan mengonfirmasi satu titik.

Imam Mudita, Spesialis Geodesi Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT, mengatakan, jarak antara dua titik koordinat sekitar 20 meter.

Itu dilaporkan kepada KNKT yang berwenang mengangkat kotak hitam.

Analisis data kotak hitam itu merupakan bagian penting yang diperlukan bukan hanya oleh KNKT, melainkan juga perancang pesawat, industri pembuatnya, dan operator. (M ZAID WAHYUDI).

********

Editor : Laksono Hari Wiwoho
Sumber : KOMPAS CETAK/Kompas.com