Mengungkap Kehidupan Warga Kota Garut “Termarjinalkan”

“Kerap menjadikan mereka menggeluti profesi apa saja, agar bisa dijadikan tumpuan desakan pemenuhan kebutuhan ‘Kampung Tengah’ atawa perut”

Garut News ( Sabtu, 14/06 – 2014 ).

Seorang Ibu Rumah Tangga, Turun Gunung Mendorong Gerobak Sarat Muatan, Sabtu (14/06-2014).
Seorang Ibu Rumah Tangga, Turun Gunung Mendorong Gerobak Sarat Muatan, Sabtu (14/06-2014).

Kurang-lebih 67 tahun di Amerika terbit sebuah novel berjudul Knock on Any Door.

Sinopsis pada halaman depan novel karya Willard Molley (1947) itu, berhasil menarik minat pembaca, dan menjadikannya “the best-known novel”.

Lantaran mengungkapkan rahasia kehidupan kota.

Kota, sebuah dunia kecil.

Pulang Menggandeng Gerobak Sayuran Kosong.
Pulang Menggandeng Gerobak Sayuran Kosong.

Ia selalu tampak megah, semarak, dan serentak jorok, melarat.

Banyak pintu masuk kota, tetapi banyak pula hal, serta peristiwa tersembunyi di balik pintu-pintu itu.

Beragam warna kehidupan dijumpai di sana, namun tak sedikit kematian terjadi.

Dari dulu warna kota seperti itu-itu juga.

Rakyat, dan pelancong datang silih berganti, mondar-mandir campur aduk.

Mengais Rejeki Sekaligus Asuh Anak.
Mengais Rejeki Sekaligus Asuh Anak.

Yang tampak terbayangkan di mata cuma taman-taman indah.

Tetapi apa terjadi di balik taman, dan di lorong-lorong kota tak seorang pun tahu. 

Demikian pula halnya, Kota Garut, Jawa Barat, sekitar 65 km arah timur dari pusat Kota Bandung.

Banyak di antara penduduk Kota Garut, kini kian “termarjinalkan” desakan pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi.

 

Sulitnya Memobilisasi Sarana Kehidupan.
Sulitnya Memobilisasi Sarana Kehidupan.

Sehingga, kerap menjadikan mereka menggeluti profesi apa saja, agar bisa dijadikan tumpuan desakan pemenuhan kebutuhan “Kampung Tengah” atawa perut.

 

*******

Esay : Pelbagai Sumber, Hdy.

Fotografer : Hidayat

Produksi : Juni 2014.

Related posts

Leave a Comment