Mengubah Minda

0
6 views
Haedar Nashir.

Ahad , 29 October 2017, 10:22 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Haedar Nashir

Haedar Nashir.

************** Apa yang terjadi manakala sehari-hari pikiran orang Indonesia dijejali isu-isu keras yang menegangkan urat syaraf? Sebutlah kosakata “radikal, ekstremis, teroris, intoleran”, dan beragam diksi negatif lain yang menyesakkan rongga dada.

Lebih-lebih bila produksi ujaran-ujaran seram itu setiap hari keluar dari lisan ulama dan tokoh agama dengan nada ingar-bingar. Para pejabat negeri di sejumlah tempat pun tidak kalah fasih mendaur ulang kalimat yang sama menegangkan.

Awas anti-Pancasila, antikebinekaan, anti-NKRI, dan segala anti lainnya yang mengingatkan kita pada pola pikir rezim Orde Baru di masa lalu. Indonesia seperti benar-benar di tubir jurang, nyaris seakan tidak ada kekuatan dari dalam yang dapat menjadi penyangga tegaknya Indonesia.

Sementara, pada saat yang sama, sebagian warga bangsa mulai muncul tindakan main hakim sendiri terhadap mereka yang berbeda paham dan golongan, hatta kepada sesama seagama. Menolak berdirinya masjid di lingkungan sesama umat Islam, malah ada yang tega membakar.

Mengusir warga seiman hanya karena beda paham dan difatwa sesat, padahal retorika ke ruang publik menyuarakan agama damai, moderat, dan rahmatan lil-‘alamin. Lantas, di mana pengaruh dari ujaran kewaspadaan yang mengharu-biru itu kepada umat?

Nuansa sosial yang serbaparadoks itu perlu menjadi renungan yang jernih bagi penyebar dakwah, elite negeri, dan tokoh wibawa di mana pun berada. Semakin kencang beragam alarm dan peringatan tentang hal negatif di negeri ini, keadaan di masyarakat justru tak berbading lurus.

Lain di pikiran elite dan para pemimpin, beda pula yang bertumbuh di warga masyarakat. Pola pikir ekstrem ternyata tak mampu mengeliminasi ekstremitas. Deradikalisme tak mampu membendung radikalisme. Di sini mungkin cara pikir kita perlu diubah atau diperbarui.

Produksilah diksi kegembiraan dan kisah sukses anak-anak bangsa di seantero Tanah Air. Dalam bahasa Melayu, mengubah minda atau state of mind. Terlalu berlebihan memproduksi hal negatif, malah kenegatifan itu yang terjadi di masyarakat.

Boleh jadi bukan sekadar materi isu yang perlu dikaji ulang, tetapi intensitas dan takarannya yang perlu dievaluasi agar tak berlebihan, yang mengabaikan kita pada nalar sehat yang wajar dan proporsional.

Sikap tengahan

Siapa pun tentu setuju 100 persen, radikalisme apa pun, lebih-lebih manakala membuahkan tindakan kekerasan dan anarkistis, merupakan hal buruk yang tidak boleh ditoleransi dan berkembang di masyarakat.

Kenyataan di negeri mana pun bahwa pola pikir, sikap, dan perilaku radikal dalam makna ekstrem dan melahirkan tindakan berlebihan sering terjadi. Tidak ada bangsa dan masyarakat yang benar-benar bebas dari radikalisme dan ekstremisme, bukan melulu yang bernada keagamaan.

Semua harus dicegah, ditindak, dan dihilangkan. Namun, menghadapi hal yang serbaekstrem itu tidaklah mudah dianalisis dan disikapi dengan cara instan dan gampangan. Tidak pula menggeneralisasi yang membuat seluruh dan persoalan seolah diliputi ekstremisme dan radikalisme.

Seolah tiada ruang longgar dari kedua persoalan tersebut meskipun memang kenyataannya ada dan faktual. Bagaimanapun perlu blocking-area agar tetap terbuka luas rongga kehidupan kebangsaan di negeri ini yang moderat, normal, dan memancarkan kebajikan kolektif.

Demikian pula dengan persoalan bangsa dan negara. Bangsa dan negara di mana pun tidak bebas dari masalah. Persoalan keagamaan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, sosial, ekonomi, lebih-lebih politik. Kadar, jenis, dan intensitas persoalan satu sama lain tentu berbeda.

Menjadi penting menempatkan persoalan pada tempatnya dan tidak terjadi generalisasi dan dramatisasi. Tidak pula melakukan simplifikasi sehingga masalah besar menjadi kecil, yang kecil dibesar-besarkan. Apalagi jika masalah dikomoditaskan atau diperjualbelikan sehingga terjadi pengawetan bahkan kapitalisasi masalah demi keuntungan materi dan kepentingan sesaat.

Agama mengajarkan khair al-‘umur auwsathuha, sebaik-baik urusan ialah yang tengahan. Masalah ditempatkan pada proporsinya. Mengurangi atau melebih-lebihkan masalah sama ekstremnya. Menyikapi hal radikal dan ekstrem dengan cara pandang, sikap, dan tindakan ekstrem sama dengan ekstremitas itu sendiri. Jika ingin moderat menghadapi masalah, tunjukkan kemoderatan semestinya. Itulah yang disebut moderasi yang diajarkan agama.

Kadang atau sering terjadi paradoks. Kritik dianggap menghujat karena budaya menjilat meluas. Orang dengan mudah sering mengkritik pihak lain secara lantang, tetapi sekali balik dikritik, pendukungnya marah dan melempar ancaman.
Tidak suka di kanan, tetapi mengambil posisi di kiri, begitu sebaliknya. Ingin di tengah, tetapi kekanan-kananan atau kekiri-kirian. Di tengah pun menjadi sering ekstrem sehingga menjelma dalam wajah ekstrem tengah.

Kanan, kiri, dan tengah adalah garis posisi yang tidak bisa absolut, ukurannya kontekstualitas, objektivitas, rasionalitas, dan adil. Nalar sehat dan jernih menjadi sulit memperoleh ruang longgar karena banyak pihak terbiasa dengan pola pikir tunggal, linier, hitam putih, dan ekstrem.

Suka dan tidak suka mekar sehingga sikap adil dalam melihat dan memosisikan masalah pun menjadi hilang. Padahal, Allah mengajarkan insan beriman berbuat adil hatta terhadap mereka yang kita tidak suka (QS al-Maidah: 8).

Sikap adil itu memiliki irisan dengan perilaku tengahan dan kebajikan (QS an-Nisa: 135; an-Nahl: 90). Fondasi adil itu kebenaran, demikian menurut Alquran. Anda dapat berbuat adil dan tengahan jika Anda memiliki patokan kebenaran yang autentik, bukan yang semu dan dibuat-buat!

Banyak kepentingan

Kehidupan berbangsa di negeri ini terlalu sarat beban. Satu di antaranya banyaknya lalu lintas kepentingan yang sedemikian bebas, sebebas proses politik dan ekonomi yang menjadikan Indonesia serbaliberal. Politik transaksi menjadi pemandangan umum. Sehingga, dalam bahasa sosiologi, terjadilah komodifikasi yang masif, semua hal ada harganya untuk diperjualbelikan. Agama pun, termasuk fatwa, terbuka kemungkinan dapat menjadi lahan komoditas paling menarik.

Akibatnya, tidak sedikit masalah menjadi awet dan malah cenderung diproduksi dan direproduksi karena makin lama kian mahal harganya untuk dikomodifikasikan di pasaran.

Radikalisme, ekstremisme, dan apa pun yang menjadi masalah menjadi komoditas laris di ruang publik sehingga kian lama bukan makin kecil dan hilang tetapi menjadi mekar. Ada yang genuin, tetapi tidak sedikit yang menjadi proyek dan diproyekkan.

Setiap jengkal ada proposalnya sehingga terjadi perluasan dan pengembangbiakkan masalah. Dalam keadaan serbatransaksional dan komodifikasi itu maka ruang kewajaran pun menjadi makin menyempit. Normalitas dikalahkan abnormalitas.

Masalah tidak dapat dianalisis secara jernih karena analisis dan solusinya sudah dipatok harus tunggal sesuai para pemangku kepentingan dan yang saling berkepentingan. Mereka yang tidak berkepentingan, meskipun memiliki pikiran dan tawaran yang baik, tidak akan terakomodasi dan bahkan dapat dianggap pengganggu karena berada di luar pasar dan program komoditas.

Agar sah melakukan tindakan sepihak terhadap orang lain, diproduksilah istilah-istilah stigmatik dan stereotip keagamaan tertentu sehingga pihak yang tak bersalah pun bisa menjadi korban.
Tarikan kepentingan diri dan kelompok semakin tingggi dalam banyak urusan kebangsaan sering menjadi sandera bagi bangsa ini untuk keluar dari masalah. Malah tidak jarang terjebak pada lingkaran setan yang tak berujung pangkal.

Pemberantasan korupsi sering kontroversi sehingga para koruptor makin leluasa beroperasi dan berkamuflase diri. Proyek reklamasi makin menjadi polemik karena di dalamnya sarat kepentingan. Para mafia apa pun makin leluasa berdiaspora di negeri ini. Karena, semuanya dapat ditransaksikan dan diperjualbelikan.

Adakah rakyat memperoleh keuntungan di balik semua itu? Sama sekali tidak! Karenanya diperlukan pola pikir baru yang bersih dari lalu lintas kepentingan dan beban komodifikasi. Sehingga dalam menghadapi dan mencari solusi atas masalah di tubuh bangsa ini dapat dikonstruksi secara lebih tepat, benar, dan jernih sehingga terbuka jalan keluar.

Jangan sampai gali lobang tutup lobang serta keluar dari satu masalah masuk ke masalah lain yang sama peliknya atau malah berujung di jalan buntu. Semua pihak mesti berjiwa besar dan terbuka dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Belajarlah dari jalan rumit persoalan Perppu dan UU Ormas yang akhirnya menjadi masalah krusial yang membelah bangsa karena sejak awal niat dan pola pikirnya serba-apriori. Jangan diikuti dan dimanjakan pola pikir asal loyal dan asal dukung tanpa tanggung jawab, apalagi loyalitas kebangsaan yang naif itu disertai tukar-menukar kepentingan sesaat.

Sama pentingnya, siapa pun warga dan kelompok bangsa jangan asal tidak senang secara apriori sehingga di negeri ini seolah tak ada noktah-noktah kebajikan. Saling berdiri dalam oposisi biner yang terus berhadapan secara ekstrem dalam berbangsa dan menyikapi masalah kebangsaan sangatlah merugikan Indonesia.

Ujaran dan sikap-tindak ugal-ugalan, hatta yang mengatasnamakan pandangan keagamaaan apa pun, saatnya dihentikan agar tak memercikkan api permusuhan, yang sekali ditebarkan sangat sulit untuk dipadamkan.

Jika Indonesia saat ini dan ke depan ingin bangkit menjadi bangsa dan negara besar maka elite dan rakyatnya niscaya berjiwa besar, berpikir cerdas, dan melakukan langkah konstruktif berkemajuan.

Bukan menjadi sosok kerdil jiwa, pikiran, dan tindakan hingga menjadikan negeri dan bangsa ini terbonsai dalam kerangkeng yang penuh onak dan duri. Ubah minda dari pola pikir serbanegatif dan sarat kepentingan dengan mengonsumsi dan memproduksi hal-hal yang positif-konstruktif disertai visi optimisme dan jiwa kenegarawanan yang melampaui.

Jadilah elite dan warga bangsa yang akil-balig seraya mengakhiri masa kekanak-kanakkan agar Indonesia makin dewasa. Ubahlah minda dari kekerdilan dan kenaifan dengan aura ihsan, kearifan, kecerdasan, dan segala jejak berkemajuan!

*******

Republika.co.id