Mengingat Nikmat

0
18 views
Popularitas adalah bagian dari ujian nikmat (Ilustrasi) REPUBLIKA.

Red: Agung Sasongko

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konon, ada seorang ibu yang memiliki dua putra. Saat sudah beranjak dewasa dan berumah tangga, keduanya memilih pekerjaan yang berbeda. Satunya menjadi seorang tukang penjual cendol keliling, sementara satunya lagi menjadi penjual payung dan jas hujan.

Beberapa bulan belakangan, ibu itu tampak sedih dan gelisah. Hingga suatu saat tetangganya mengetahui, “Apa gerangan yang membuat ibu murung?” Di tengah rintik hujan si ibu itu mengatakan bahwa ia sedang memikirkan seorang putranya yang sedang berjualan cendol. “Kasihan, cendolnya tidak laku,” ucapnya sambil menyeka air matanya.

Musim hujan berganti kemarau yang cukup terik. Anehnya, si ibu itu masih murung dan tampak gelisah. Setelah ditelisik tetangganya, rupanya sekarang ganti mengkhawatirkan putranya yang sedang berjualan payung dan jas hujan. Takut tidak laku barang dagangannya.

Melihat sikap dan perasaan yang demikian, si tetangga mengajaknya ke rumah seorang ustaz untuk meminta solusi terbaik bagi hidupnya. Sang ustaz tersenyum, “Ibu, mengapa yang tidak enak-enak saja yang diingat dari putranya. Coba kalau di musim hujan ibu mengingat putra Ibu yang berjualan payung dan jas hujan. Dan, kalau musim panas ibu ingat putra ibu yang berjualan cendol. Allah membagi rezeki-Nya dengan sangat adil. Insya Allah, ibu juga akan mendapatkan ketenangan.”

Kisah ini menginspirasi kita bahwa hidup yang dialami manusia adalah sama, yaitu berpijak di bumi dan dunia yang sama. Ia selalu akan secara silih berganti berjalan di antara kenikmatan dan kesengsaraan, kelebihan dan kekurangan, kegembiraan dan kesedihan, kesuksesan dan kegagalan, dan seterusnya. Dua hal inilah yang akan selalu dialami oleh manusia, di mana pun dan kapan pun.

Yang membedakan di antara manusia adalah bagaimana cara menyikapinya. Hanya yang memandangnya dari sisi buruk dan kurangnya saja, ia akan merasakan hidupnya tertekan (stres). Boleh jadi, nikmat yang ia rasakan sudah begitu melimpah. Namun, karena ia menggunakan perspektif kekurangan, kenikmatan itu berubah menjadi kesengsaraan pada dirinya.

Sebaliknya, ada pula yang memandangnya penuh lapang dada dan rasa syukur. Meski hidup serbaberkekurangan dalam kacamata orang lain, karena ia menjalaninya penuh hikmah dan sikap positif, ia pun bisa menikmatinya. Hingga di sini, nikmat itu sesungguhnya datang dari dalam diri sendiri.

Dalam kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fadz al-Quran karya Muhammad Fuad Abd Al-Baqiy disebutkan, setidaknya ada 12 perintah Allah agar manusia itu mengingat nikmat yang dianugerahkan-Nya, yaitu melalui kalimat Wadzkuru nikmatallahi. Ini artinya bahwa manusia sebaiknya lebih mengingat kenikmatan dan kenyamanan daripada ketidaknyamanan.

Sama halnya ketika seseorang mendapat ujian rasa sakit, kemudian dirasa-rasa dan diingat-ingat, maka sakitnya akan semakin terasa capek, sakit, dan menyakitkan. Namun, sebaliknya, manakala hal itu sedikit dilupakan dengan mengingat hal yang nikmat dalam hidup, maka Insya Allah hal itu akan terasa lebih ringan dan bisa jadi terlupakan.

Bersyukur berarti mengingat nikmat Allah. Dan orang yang senantiasa mengingat nikmat-Nya akan selalu mendorongnya untuk bersyukur kepada-Nya. Allah pun akan menambah nikmat-Nya. Tidak mudah menyalahkan dan berburuk sangka kepada Yang Mahaagung. Wallahu a’lamu.n

********

Republika.co.id