Menggugat Asal-usul Pulau Sumatera

0
10 views

Garut News ( Sabtu, 16/11 ).

Sumatera | University of Washington
Sumatera | University of Washington

Apa diketahui tentang Sumatera, bumi tempat cerita Malin Kundang lahir?

Kita tahu pulau terbesar keenam di dunia itu rawan gempa.

Terdapat patahan sepanjang lebih dari 1.000 km aktivitasnya siap mengguncang wilayah sekitarnya.

Di lepas pantai, terdapat zona subduksi pemicu gempa dahsyat bermagnitudo 9,1 mengakibatkan tsunami mematikan di Aceh pada 2004.

Namun, tak banyak orang tahu tentang bagaimana Sumatera terbentuk.

Apakah kampung halaman orang Batak, dan Minang itu dari dulu memang cuma satu keping daratan saja?

Sebelumnya, Sumatera dianggap tepian benua Eurasia.

Di lepas pantai bagian barat Sumatera, terdapat zona subduksi tempat bertemunya lempeng Samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia.

Berdasar anggapan tersebut, Sumatera pun dianggap sejak dahulu satu pulau.

Tetapi, riset terbaru meragukan pandangan lama ini.

Menurut data geokimia dikumpulkan peneliti geologi, dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Iskandar Zulkarnain, Sumatera dulu pulau-pulau terpisah, setidaknya ibarat dua bagian daratan menyatu.

“Sumatera bukan sepenuhnya bagian dari lempeng benua Eurasia,” kata Iskandar pada orasi pengukuhan dirinya sebagai guru besar riset Agustus 2013 lalu.

Berdasar hasil analisis geokimia, wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga bagian, terdiri bagian barat busur kepulauan, bagian timur zona tepian lempeng Eurasia, serta wilayah antarlempeng benua.

Di Bengkulu, wilayah merupakan bagian busur kepulauan adalah kota Bengkulu.

Sementara, wilayah merupakan tepian Eurasia antara lain Lebok Tambang, dekat Muara Aman.

Kota lain di Sumatera diduga bagian busur kepulauan adalah Padang.

Sementara, kota diduga bagian tepian Eurasia adalah Jambi, Pekanbaru, dan Palembang.

“Batasnya sesar Sumatera,”  ucap Iskandar.

Patahan Sumatera dan gempa-gempa pernah diakibatkan aktivitasnya. Patahan Sumatera dianggap batas antara wilayah Sumatera masuk lempeng Eurasia dengan busur kepulauan. (siaga.org).
Patahan Sumatera dan gempa-gempa pernah diakibatkan aktivitasnya. Patahan Sumatera dianggap batas antara wilayah Sumatera masuk lempeng Eurasia dengan busur kepulauan. (siaga.org).

Mengungkap asal-usul Sumatera itu, Iskandar mengumpulkan batuan volkanik dan intrusif sepanjang Sumatera, di antaranya dari wilayah Lampung, Bengkulu, dan Madina, Sumatera Utara.

Puluhan batuan didapatkan, di antaranya 30 batu volkanik dari Lampung, dan 40 batu volkanik Bengkulu.

Kandungan kimia batuan, termasuk unsur utama (major elements), unsur jejak (trace elements), dan unsur jarang (rare elements) kemudian dilihat.

“Yang kita lihat terutama, unsur jejak dan unsur jarang. Kandungan unsur jejak dan unsur jarang pada batuan di busur kepulauan dan lempeng benua beda,” ungkap Iskandar.

Kandungan unsur batuan memang bisa menjadi indikasi asal-usul batuan tersebut, pada lingkungan seperti apa batuan terbentuk.

Batu volkanik berasal dari lingkungan busur kepulauan memiliki kandungan Potassium, Ytterbium, dan Tantalum lebih tinggi namun Fosfat, Titanium, dan Strontium lebih rendah.

Data unsur batuan didapatkan kemudian disusun dalam beberapa diagram, antara lain dalam diagram unsur Tantalum/Ytterbium vs Cerium/Fosfat, dan Tantalum/Ytterbium vs Ytterbium.

Plot dalam diagram menunjukkan sebuah pola.

“Pola terlihat menunjukkan asal-usul batuan,” kata Iskandar.

Di Lampung , wilayah busur kepulauan ditandai rasio Tantalum/Ytterbium kurang dari dua, dan Cerium/Fosfat kurang dari 1,8.

Sementara, wilayah tepian benua punya rasio Tantalum/Ytterbium berkisar dua hingga empat, dan Cerium/Fosfat lebih dari 1,8.

Wilayah antarlempeng memiliki tasium Tantalum/Ytterbium lebih besar dari enam, dan Cerium/Fosfat lebih bersar dari satu.

Iskandar belum mengetahui asal busur kepulauan tersebut, dan kapan busur kepulauan menyatu dengan Sumatera.

Namun, ia memerkirakan, bersatunya busur kepulauan dengan lempeng benua Eurasia terjadi lebih dari 25 juta tahun lalu, lebih tua dari masa Miocene.

Tiga versi sejarah Sumatera

Geolog Awang Harun Satyana mengungkapkan, pandangan Sumatera tak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia berkembang lama.

Pada 1984, N.R. Cameroon dari British Geological Survey A. Pulunggono dari Pertamina pernah menyampaikan gagasan itu.

Awang katakan, berdasar gagasan itu, bagian barat Sumatera disusun busur Woyla.

Busur lautan itu sekitar 150 juta tahun lalu berlokasi di dekat Australia, bersama daratan India, dan Banda.

Karena pergerakan tektonik, busur itu kemudian menyatu dengan Sumatera.

“Itu terjadi pada zaman Kapur tengah, sekitar 100 – 80 juta tahun lalu,” kata Awang saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Makalah ditulis Robert Hall, pakar tektonik Asia Tenggara ternama dari University of London, berjudul “Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean” sedikit membahas gagasan tentang bersatu atawa naiknya busur Woyla dengan atau ke atas daratan Sumatera.

Pulunggono dan Cameroon, seperti dikutip Hall pada makalahnya diterbitkan Elseveir 2012, mengungkapkan busur Woyla naik ke Sumatera mencakup mikro-kontinen.

Geolog lain, M.R. Wajzer dan A.J. Barber, juga dari University of London, mengatakan busur Woyla merupakan busur intra-lautan terbentuk pada zaman Kapur Awal, dan kemudian menumbuk Sumatera.

Hall sendiri menganggap, terdapat mikro kontinen menabrak Sumatera pada zaman Kapur itu, ditandai naiknya busur Woyla ke atas Sumatera.

Mikro kontinen terus bergerak ke timur sehingga menghentikan sistem penunjaman yang ada, dan akibatnya hampir tak ada aktivitas vulkanik pada saat itu.

Robert Hall Rekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu.

Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla kemudian akan menyatu dengan Sumatera.

Rekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu. Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla kemudian akan menyatu dengan Sumatera. (Robert Hall)
Rekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu. Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla kemudian akan menyatu dengan Sumatera. (Robert Hall)

Namun, menurut Iskandar, apa diungkapkan Pulunggono, Cameroon, Barber, dan Hall sama sekali tak menyebut adanya bagian Sumatera merupakan busur kepulauan.

“Mereka bicara pada Zaman Kapur (sekitar 100 juta tahun lalu) lantaran Woyla Group itu memang usianya sangat tua, sedangkan data saya berasal dari batuan volkanik berusia Miosen (kurang dari 25 juta tahun lalu).”

Rovicky Dwi Putrohari dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengungkapkan, gagasan Sumatera terdiri atas busur kepulauan pernah berkembang sebelumnya.

Tetapi, penelitian Iskandar salah satu paling awal memberi bukti ilmiah.

“Penelitian ini memberi bukti geokimia, memang bagian barat Sumatera busur kepulauan,” katanya.

Menurut Rovicky, terdapat tiga versi sejarah geologi pembentukan Sumatera berkembang saat ini.

Versi pertama mengungkapkan pulau Sumatera sepenuhnya bagian dari tepi lempeng benua Eurasia.

Versi kedua, seperti diyakini Pulunggono, Cameroon, dan Hall, Sumatera terbagi atas lempeng benua Eurasia di bagian timur, dan mikro-kontinen di bagian barat.

Sementara, dengan tambahan gagasan Iskandar, ada versi ketiga, dimana Sumatera terdiri tepi lempeng benua di bagian timur, dan busur kepulauan bagian barat.

Mana yang benar?

Rovicky mengungkapkan, banyak geolog saat ini memandang Sumatera merupakan lempeng benua Eurasia hanya memermudah.

Pada dasarnya, geolog setuju Sumatera tak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia.

Namun, komponen lain Sumatera, dan pembentukannya masih menjadi perdebatan.

Apa pentingnya sejarah Sumatera?

Iskandar mengungkapkan, pengetahuan tentang asal-usul Sumatera penting, baik bagi kebencanaan maupun bidang mineralogi.

Menurut Iskandar, apabila Sumatera memang terdiri atas busur kepulauan, dan lempeng benua Eurasia, gagasan itu juga kudu diadaptasi pada kebencanaan.

“Kalau berasal dari busur kepulauan merupakan samudera, dan lempeng benua atawa kontinen, maka pergerakan lempeng lebih fleksibel sehingga potensi gempa lebih besar,” katanya.

Rovicky menuturkan, potensi gempa juga lebih besar jika bagian barat Sumatera tersusun atas mikro-kontinen.

“Akan lebih rapuh,” paparnya.

Dalam bidang mineralogi, Iskandar katakan,  gagasan baru pembentukan Sumatera ini juga memengaruhi pengetahuan tentang penyebaran logam di Sumatera.

“Wilayah timur Sumatera mungkin juga menyimpan logam berharga,” kata Iskandar.

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com