Mengenang Rinto Harahap

0
15 views

Aris Setiawan, Pengajar ISI Solo

Garut News ( Kamis, 12/05 – 2015 ).

Ilustrasi. Mengepakkan Sayap. (Foto Repro John Doddy Hidayat/National Geographic).
Ilustrasi. Mengepakkan Sayap. (Foto Repro John Doddy Hidayat/Sumber National Geographic).

Pada 1980-an, nama Rinto Harahap menjadi jaminan bagi popularitas seorang penyanyi. Ia adalah pencipta lagu yang ulung.

Banyak lagunya yang laris-manis di pasar dan melejitkan nama penyanyi yang melantunkannya. Contoh, Nia Daniati, Betharia Sonata, Christine Panjaitan, Iis Sugianto, Emilia Contessa, dan Eddy Silitonga.

Rinto berperan besar dalam memberi warna kehidupan musik pop Indonesia dekade 1980-an. Lagu-lagunya romantis dan terkadang melankolis.

Tak jarang pula berisi nasihat, ratapan, kemarahan, dan kepedihan hidup. Ia tak melulu menciptakan lagu yang berkisah asmara dan cinta-cintaan.

Rinto sangat produktif dalam berkarya. Lebih dari seratus judul ia ciptakan, dan banyak yang diterima pasar dengan baik.

Kala itu, pembajakan tidak semarak seperti saat ini. Keberhasilan sebuah lagu atau album dapat diukur dari seberapa banyak kaset yang terjual.

Dan nama Rinto menjadi langganan, lagu-lagunya menjadi idola yang diburu dan dinanti.

Selain sebagai pencipta lagu, Rinto juga pernah mendirikan kelompok band The Mercy’s. Seturut dengan lagu-lagu ciptaannya, band bentukannya juga meraih kejayaan pada 1970-an dengan mengeluarkan lagu yang menjadi hit pada zaman itu.

Beberapa di antaranya bahkan masih melegenda hingga saat ini, seperti Semua Bisa Bilang. Boleh dikatakan, The Mercy’s adalah satu-satunya grup band yang mampu menyaingi popularitas Koes Plus saat itu.

Rinto Harahap dengan kelompoknya menjadi alternatif yang menyegarkan kala demam Koes Plus melanda negeri ini.

Puncaknya, Rinto Harahap mendapat Anugerah Seni dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada Maret 1982 sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi yang berprestasi.

Perusahaan rekaman Filipina, WEA Record, juga pernah memberi kepercayaan kepada Rinto untuk mengekspor lagu-lagunya.

Hal ini membuktikan bahwa lagu-lagunya laku di luar negeri. Bahkan di Cina banyak lagu jiplakan dari karya Rinto.

Saat itu, perlindungan terhadap hak cipta masih lemah, sehingga tidak ada tindakan hukum berarti yang dapat dilakukan.

Rinto adalah orang kreatif yang mampu melihat kesempatan dan kemauan pasar. Lagu-lagunya abadi, banyak diaransemen ulang.

Lihatlah Andy /rif yang merilis ulang lagu Jangan Sakiti Hatinya yang sebelumnya dipopulerkan oleh Iis Sugianto.

Sedangkan Peterpan dan Candil juga sempat menyanyikan lagu Ayah ciptaan Rinto yang dipopulerkan Eddy Silitonga.

Karya-karyanya tercatat sebagai sejarah penting perkembangan musik Indonesia. Banyak orang rindu akan lahirnya musikus seperti Rinto dengan kekayaan tema karya.

Kini Rinto Harahap telah berpulang untuk selamanya di usia ke-65 tahun pada 9 Februari 2015, karena penyakit kanker tulang yang dideritanya.

Dunia musik Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kepergiannya mengingatkan kita akan salah satu judul lagunya,

Seandainya Aku Punya Sayap. Ia pun berpamit dengan lirik, seandainya dapat kau rasakan/kejam..kejamnya dunia/tiada lagi kehadiran/untuk apa aku di sini.

Dunia memang kejam, dan kini ia telah terbebas darinya. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co