Mengenai Dunia Penelitian di (LIPI) Indonesia

0
11 views
Ramadhona Savilla.

Ahad 18 February 2018 07:03 WIB
Red: Agus Yulianto

“Riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ramadhona Saville, PhD *)

Ramadhona Savilla. (dok. pribadi).

Tempo hari saya berbincang dengan abang saya mengenai pembelian microscope slide micrometer calibration untuk kepentingan penelitian di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan uang pribadi abang saya. Saya lantas mempertanyakan, “Kenapa untuk penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi”.

Sebelum berceloteh lebih jauh, sepertinya perlu saya tuliskan disclaimer terlebih dulu. Pertama, saya memahami dunia penelitian di Indonesia memang unik. Kedua, saya juga paham tidak semua kegiatan penelitian kantor harus menggunakan uang pribadi. Ketiga, hal yang sama (saya harap) tidak dialami oleh seluruh peneliti di Indonesia.

Cerita ini dimulai dari abang saya meminta tolong kepada saya untuk dibelikan microscope slide micrometer calibration di eBay. eBay adalah sebuah situs web lelang daring yang memungkinkan orang-orang dari seluruh dunia melakukan jual dan beli berbagai barang dan jasa.

Setelah barang dikirimkan ke alamat saya di Jepang, maka saat saya pulang ke Indonesia, saya memberikan barang itu kepada abang saya. Abang saya meminta tolong karena lebih banyak rintangan jika membeli barang melalui eBay dan dikirimkan ke Indonesia.

Misalnya, ditahan oleh aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan maupun oleh Kantor Pos Indonesia. Kebetulan waktu pembelian microscope slide micrometer calibration itu sangat mepet dengan tanggal kepulangan saya ke Indonesia. Ada kemungkinan saya sudah tiba di Tanah Air, akan tetapi microscope slide micrometer calibration belum sampai ke alamat saya.

Saya sudah mencoba untuk mencarikan microscope slide micrometer calibration yang mirip di Jepang. Tapi ternyata harganya berbeda jauh. Produk Jepang jauh lebih mahal dari produk yang ada di eBay itu.

Lalu, saya tawarkan kepada abang saya untuk membeli produk Jepang. Tapi ternyata abang saya tidak jadi membeli. Dia bilang, terlalu mahal, karena dia mau beli pakai uang pribadi. Di situ saya mempertanyakan, kenapa untuk membeli alat penelitian kepentingan kantor harus mengeluarkan uang pribadi?

Ketika berbincang pada kesempatan lain dengan abang saya, banyak rintangan yang ada di LIPI. Contoh lainnya, di ruangan abang saya ada komputer, tapi sudah uzur, lamban sekali dari sisi performa. Lagi-lagi, abang saya berencana untuk beli komputer menggunakan uang pribadi.

Sebagai seorang peneliti juga, saya merasa agak kaget. Sekarang tahun 2018. Tak dapat dimungkiri komputer merupakan salah satu alat paling krusial bagi peneliti masa kini. Hal paling sederhana, kita harus menulis paper ataupun patent, atau produk penelitian lainya di komputer.

Hal lain, komputer juga adalah alat yang sangat diandalkan untuk menganalisa data, membuat simulasi, dan lain lain. Dengan ke tidak tersediaan alat paling krusial, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?

Contoh rintangan lainya, koneksi internet yang sangat lamban. Jaman sekarang pun internet sangat dibutuhkan untuk para peneliti. Sebut saja pencarian referensi literatur untuk penelitian, data, informasi dan lain lain. Sama dengan komputer, bagaimana peneliti bisa penelitian dengan maksimal?

Masih ada lagi contoh lainnya. Telepon yang hanya bisa dipakai untuk antarruangan. Telepon yang bisa terhubung dengan dunia luar LIPI ada salah satunya di ruangan sekretaris. Lagi-lagi saya mempertanyakan, kenapa cuma ada di ruang sekretaris? Saya rasa peneliti pun sangat butuh telpon, untuk komunikasi dengan pihak luar LIPI misalnya. Apa semua harus dengan email atau harus ke ruangan sekretaris.

Memang itu salah satu tindakan preventif supaya tidak disalah gunakan. Tapi, jika ini alasanya, terlalu berlebihan. Juga kalau begitu kenapa tidak menggunakan IP phone? Meskipun disalah gunakan, biayanya sangat murah jika menggunakan IP phone. Bahkan kantor sebelah LIPI yang sama-sama lembaga pemerintah, yaitu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sudah sejak lama pakai IP Phone. Untungnya abang saya tidak berpikir untuk beli IP phone sendiri.

Dengan titel lembaga penelitian terbesar di Indonesia, lumrah jika banyak orang yang berpikir, LIPI adalah tempat dengan banyak teknologi terbaru. Saya salah satu yang berpikir seperti itu juga. Ternyata tidak demikian adanya. Bukanya saya ingin menjelek-jelekan nama LIPI.

Tapi, bagaimana bisa lembaga penelitian terbesar di Indonesia sekelas LIPI ternyata seperti itu. Saya pun mempertanyakan, bagaimana dunia penelitian di Indonesia mau maju pesat jika lembaga sekaliber LIPI ternyata seperti itu. Bukankah LIPI seharusnya yang menjadi pionir penelitian di Indonesia?

Sebagai sesama peneliti, saya selalu dididik untuk tidak menggunakan uang pribadi untuk urusan kerjaan kantor. Makanya, saya merasa ada yang unik dari kasus terkait hal ini. Sejak kuliah, profesor saya mendidik saya untuk sebisa mungkin tidak menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kampus.

Setelah bekerja sebagai peneliti di perusahaan swasta pun kantor saya melarang untuk menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian kantor. Kantor saya, jauh dari kantor yang sempurna. Beberapa kali terkena kasus dan sampai sekarang banyak yang bilang bahwa kantor saya termasuk “Black Company” karena beberapa kali diangkat media soal kasus bunuh diri karyawan karena stres masalah kerjaan ataupun kasus karyawan yang depresi dan harus dirawat di rumah sakit ataupun oleh psikolog.

Kantor saya juga bahkan terkesan agak pelit untuk urusan keuangan. Tapi, kantor saya mengerti esensi penelitian. Penelitian adalah sebuah investasi yang sangat penting untuk menghasilkan produk inovatif berkualitas tinggi. Produk dari hasil investasi itulah yang akan dijual untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang pada akhirnya akan menggerakan perekonomian kantor.

Begitu pula dengan negara-negara maju. Saya ambil contoh Jepang, karena kebetulan saya kuliah, hidup, dan tinggal di Jepang. Saat ini, Jepang menganggarkan dana riset sebesar 3,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara Indonesia hanya 0,2 persen.

Ya, memang banyak yang berpikir, Jepang negara maju, punya uang cukup untuk penelitian. Tapi, kita lihat sejarahnya. Pada 1945 Jepang hancur berantakan lantaran kalah dalam Perang Dunia II. Dua kota besarnya dibom. Uang banyak terpakai untuk perang, kesengsaraan, kemiskinan, kekurangan gizi, banyak yang meninggal di pinggir jalan.

Di saat kritis ini, Pemerintah Jepang, universitas, perusahaan swasta tetap berusaha menggalakkan penelitian dan pendidikan. Ini karena mereka sadar bahwa penelitian adalah salah satu investasi paling penting. Hasilnya, banyak sekali universitas, lembaga riset, dan perusahaan swasta di Jepang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak lupa mengenai tingkat ekonomi Jepang saat ini dari sisi PDB menapai 39 ribu dolar AS.

Salah satu contoh lain adalah Jerman. Saya belum pernah merasakan tinggal di Jerman, tapi saya sedikit banyak bisa membaca data. Jerman pun sama, kalah PD 2, kondisi Jerman tidak jauh dari Jepang. Tapi sekarang PDB Jerman bahkan berada di atas Jepang, yakni 42 ribu dolar AS.

Sama seperti Jepang, banyak sekali universitas, lembaga riset, dan perusahaan swasta di Jerman yang memiliki tingkat kredibilitas yang sangat tinggi. Semua itu bisa dicapai karena Jepang dan Jerman memiliki kesamaan. Lagi-lagi, menggalakkan penelitian dan pendidikan.

Masih banyak sekali contoh yang bisa saya tuliskan di sini. Tapi ilustrasi kantor saya dan dua negara maju yang dulu kalah PD 2, hancur lebur berantakan itu saya rasa sudah cukup mewakili apa yang mau saya utarakan dalam tulisan ini.

Dari beberapa contoh yang saya utarakan, dapat disimpulkan bahwa riset dan pendidikan merupakan investasi yang sangat menguntungkan untuk masa depan, baik untuk perekonomian ataupun untuk dunia pendidikan suatu negara ataupun organisasi.

Memang banyak faktor yang jadi alasan LIPI seperti itu, misalnya seperti yang ada di press release LIPI sendiri . Pemerintah pusat punya andil besar juga dalam hal ini. Saya juga sedikit paham bahwa dana suatu lembaga pemerintah ditentukan oleh DPR, MPR dan pemerintah pusat.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa cara lembaga pemerintah untuk mendapatkan dana yang lebih banyak adalah dengan melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat. Saya hanya bisa menduga, ada kemungkinan bahwa pejabat LIPI belum berhasil melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana yang lebih banyak, bahkan sampai dipangkas. Saya yakin LIPI sudah dan sedang berusaha untuk menaikan dana untuk LIPI.

Semoga petinggi LIPI bisa melobi DPR, MPR dan pemerintah pusat agar dana untuk LIPI lebih banyak. Yang tidak ketinggalan, semoga DPR, MPR dan pemerintah pusat juga pemerintah pusat mau berpikir dan mengerti seperti perusahaan swasta atau negara maju lainya, bahwa penelitian adalah salah satu investasi yang sangat penting untuk menggerakan ekonomi Indonesia.

Lewat tulisan ini juga saya ingin mengapresiasi abang saya. Respect untuk abang saya. Abang saya tetap berusaha bekerja melakukan penelitian yang notabene pekerjaan kantor meskipun menggunakan uang pribadinya. Kalau saya yang berada dalam posisi itu, mungkin saya sudah tidak sreg dan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

*) Salah seorang tenaga kerja Indonesia di Jepang

******

Republika.co.id