Mengapa Kita Harus Punya Media Sendiri?

0
13 views
Praktisi Media, Elba Damhuri saat menyampaikan materi pada diskusi Temu Wartawan, yang digelar oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Hotel PO, Semarang, Selasa (17/9). Dalam paparannya, media digital memiliki masa depan cerah dan media cetak tetap memiliki peluang untuk tetap hidup. (Foto: Republika/Bowo Pribadi).

Rabu 17 Jun 2020 18:40 WIB
Red: Elba Damhuri

Ponpes/Kuttab Modern Digital Yadul ‘Ulya di Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul Garut menggelar pelatihan selama tiga hari membuat video menggunakan ‘Handphone’ (HP) sebagai media dakwah.
Kamis (12/03–2020 ).

“Semua orang kini bisa punya media digital (online) sendiri dengan sangat mudah”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Elba Damhuri*

Republika bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar pelatihan Jurnalistik Digital selama tiga hari pada 17-19 Juni 2020 ini. Materi yang diberikan cukup lengkap sebagai dasar teknik dan pengetahuan jurnalistik digital.

Materi ini mulai dari teknik penulisan dasar, fotografi, videografi, media sosial, membuat domain atau blog, hingga bagaimana mengupgrade domain/blog itu menghasilkan tambahan pendapatan. Harapannya, setelah ikut pelatihan ini peserta bisa langsung mengaplikasikan semuanya.

Mengapa pelatihan ini menjadi sangat penting bagi masyarakat dari berbagai kalangan usia? Ada beberapa alasan mengapa kita harus memahami jurnalistik digital. Tapi sebelumnya, mari kita simak data-data ini.

Bisa “Jago bikin video hanya pakai HP,” ungkap Pimpinan Yayasan Tahfidz Qur’an Garut, M. Angga Tirta dan katakan fenomena ini sebagai loncatan kreativitas inovasi yang dapat menjadikan piranti komunikasi tersebut memberikan banyak kemaslahatan.

Lembaga survei marketing, Nielsen Advertising Intelligence Indonesia (Ad Intel), mencatat pada 2019 belanja iklan digital (online) naik 7 persen dibanding tahun 2018.

Sejak kuartal ketiga 2018 Nielsen telah mengukur belanja iklan digital untuk 200 situs lokal dan 18 saluran Youtube. Total belanja iklan digital pada 2019 mencapai Rp 13,3 triliun dari total Rp 181 triliun atau sekitar Rp 9,3 triliun.

Nielsen Digital Ad Intel memonitor iklan dalam format display dan video, pada berbagai perangkat seperti laptop, desktop dan mobile. Hasil studi Nielsen menunjukkan 52 persen iklan digital disampaikan dalam bentuk display dan sisanya (48 persen) dalam bentuk video.

Sehingga penggunaan HP tak hanya sebatas masif memanfaatkan aplikasi ‘WhatsApp’ (WA) dan Selfie Camera, melainkan memproduk serta menebar nilai kemuliaan bernuansakan Islami bermedia efektif audio visual secara berestetika.

Bagi media-media online, para blogger, para Youtuber, vlogger, media-media komunitas, hingga media-media individu, ini menjadi peluang sangat besar untuk bisa meraih pendapatan tambahan –bahkan pendapatan utama.

Bagaimana dengan pengguna dan pengakses internet di Indonesia? Ini juga menjadi alasan kuat mengapa dunia digital dengan segala tantangan dan peluangnya begitu menjanjikan.

Data kedua, terkait dengan penetrasi internet di Indonesia. Dari data We Are Social, tercatat ada kenaikan pengguna internet di Indonesia pada tahun ini seebsar 17 persen atau 25 juta pengguna menjadi 175,4 juta.

Ini artinya, sebanyak 64 persen populasi Indonesia (272,1 juta) mengakses internet dengan berbagai platform baik dari ponsel, laptop, tablet, hingga konsol game.

Ketiga, dari jumlah pengguna internet harian yang mencapai puluhan juta secara aktif, ada 16 jutaan orang yang mencari beragam informasi di dunia maya. Pembaca 20 media online terbesar di Indonesia saja ada sekitar 12 jutaan setiap harinya, belum termasuk halaman (pageviews) yang dibaca.

Dari ketiga catatan ini bisa kita katakan jika dunia maya, dunia internet, menyimpan “harta karun” besar yang bisa diraih siapapun. Peluang terbuka sangat lebar pada ekosistem internet yang begitu besar, dinamis, dan beragam ini.

Salah satu kebutuhan belasan juta peselancar di dunia maya ini tentu terkait dengan berita, informasi, ilmu pengetahuan, ulasan-ulasan, cerita-cerita, hingga hal-hal yang ringan di sekitar kita.

Karena itu, pelatihan jurnalistik digital hingga membuat domain ini menjadi penting buat kita. Pelatihan ini tidak hanya memberikan pembekalan teknis jurnalistik, tetapi juga mencakup pemahaman tentang informasi bertanggung jawab, menjauhkan hoaks, hingga memanfaatkan peluang ekonomi dunia maya menjadi penghasilan.

Memiliki media sendiri bisa didasarkan karena hobi, passion kuat menulis, hingga ingin mendapat penghasilan. Untuk membuat media online sendiri tidak sulit.

Pertama, kita bisa membuat media dalam bentuk blog yang umum di plarform WordPress, Blogspot, dan lainnya. Prosesnya mudah dan semua kebutuhan disediakan platform itu.

Ibarat kata, kita menumpang tinggal di rumah orang lain di mana rumahnya milik WordPress atau Blogspot. Ada metode yang kini punya rumah sendiri.

Kedua, kita bisa punya rumah sendiri, alamat sendiri. Kita membeli domain dan hosting dari berbagai rumah hosting yang tersedia.

Untuk platform yang kedua memang lebih ada upaya karena kita harus memiliki program sendiri. Namun, WordPress sudah menyediakan rumah yang bisa kita miliki.

Apapun bentuk medianya, baik bentuk blog maupun web, faktor terpenting ada pada konten, distribusi, jaringan, hingga konsistensi.

Pada tulisan berikutnya kita akan bahas bagaimana media kita bisa memikat pembaca hingga memiliki trafik tinggi.

*Elba Damhuri, Managing Editor Republika.co.id

*******

Republika.co.id./Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here