Mendung Bernama Munafik dan Islamofobia

by
Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

Sabtu , 30 September 2017, 04:35 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

Semula namanya Samir Tahar, asli Muslim. Identitas Arab membuat berbagai perusahaan menolak lamaran kerjanya. Ketika namanya diubah Samuel, membajak nama teman akrabnya yang Yahudi, perusahaan terkenal menerimanya. Itu terjadi di Paris sekitar akhir 1980-an. Otaknya yang brilian menerbangkan kariernya ke Kanada, lalu menjadi pengacara terkenal di New York. Tidak tanggung-tanggung, ia nikah dengan gadis cantik, anak pengusaha kaya, berpengaruh dan sangat Yahudi. Mendapat dua anak dari pernikahan itu.

Itu sebagian kisah novel “The Age of Reinvention”. Menarik perhatian karena menguras pikiran dan emosi pembaca. Sekitar 20 tahun kemudian, pengacara terkenal itu masuk acara CNN. Teman Yahudi yang identitasnya dibajak mengenalinya. Samuel asli menunjukkan dirinya dengan nada pemerasan. Nina, gadis yang dulu dicintai Samir tapi direbut dan dinikahi Samuel asli, ikut nimbrung. Ibunya yang masih sengsara di pinggiran Paris hanya mengirim pesan, seperti berharap, seperti berdoa, semoga menjadi Muslim yang baik.

Berbagai media, termasuk Guardian dan Washingtonpost menyebutnya sebagai novel bertema kebohongan dan Islamofobia. Selain berkisah cinta segi tiga, glamor yang memuakkan, juga kontroversi tentang teroris ketika saudara tiri Samir pernah mengikuti pelatihan militer di Afghanistan. Tak pelak lagi Polisi Amerika menghujani pengacara terkenal itu dengan berbagai pertanyaan yang menusuk. Anda seorang Yahudi? Masuk Islam? Apa hubungan anda dengan gerakan Islam?

Novel yang suram dan getir. Islamofobia yang dilakukan pemerintah dan lingkungan budaya barat ditegaskan dalam novel garapan Karine Tuil ini. Meski demikian di negeri barat sana masih ada ibu Samir yang selalu berharap anaknya menjadi muslim yang baik. Lalu Samir? Ia muslim rusak yang tak ditutup-tutupi. Bukan hanya keserakahan harta dengan syahwat yang meluber kemana-mana. Ia juga mengumbar balas dendam merebut kembali Nina dari Samuel. Samir mendapatkannya, lalu menjadikan Nina sebagai piala, menjadi simpanannya. Sudah bisa diduga, banyak persoalan yang membelit sehingga Samir terhuyung-huyung di kemegahan New York, lalu jatuh.

***

Islamofobia. Para peneliti sosial mengemukakan esensinya : Adanya rasa takut, kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan muslim. Apakah Samir Tahar mengidap lalu membuang keislamannya ?

Seperti iman, kafir dan munafik, detail dan tingkatan Islamofobia sulit didefinisikan. Apakah Samil Tahar memusuhi Islam, tampaknya tidak. Apakah membenci Islam, agak sulit dijawab. Ia mengubah diri hanya untuk meraih harta dunia. Boleh jadi, penolakan lamaran kerja membuat ia membenci asal usulnya, membenci lingkungan dan agamanya, ia menganggap itu yang membuatnya terpuruk di dunia. Tapi jelas ia mengkhianati syahadatnya, mengkhianati Islam.

Apakah Samir takut kepada Islam? Islamofobia selalu dikaitkan dengan Barat yang takut dan benci kepada Islam. Itu didasari bingung, gelisah, dan tidak tahu bagaimana cara untuk menang, khawatir kalah.

Samir tidak takut Islam. Ia sudah melamar pekerjaan dengan identitas islam, tapi lingkungan perusahaan menolak. Ia lalu menukar agamanya dengan gemerlap dunia (kedudukan, uang, istri, plus istri gelapnya). Islamofobia Samir muncul seiring perolehan duniawinya, seiring zina yang dilakukan sebagai suka-suka. Ia tahu, Islam pasti akan menghukum keras perangainya.

***

Pasti banyak orang-orang semacam Samir Tahar, takut miskin dengan bergerak di lapisan yang agak rendah. Tidak menukar agamanya seperti Samir Tahar, tapi menukar beberapa sistem ideologi dalam hidupnya. Ia shalat, ia berpuasa, tetapi bisnisnya tetap bergelut dengan riba. Hotel yang dikelola tetap mempersilakan minuman keras dan kemesuman. Dalam keluarga ia bersikap liberal.

Sejak kecil anak-anak sudah dilatih mandiri, silakan memilih mode pakaian, sampai tontonan. Ketika remaja : Tak apa-apa pulang larut malam. Padahal sistem kehidupan sangat beragam, bukan hanya berbisnis dan berkeluarga, tapi juga berpolitik, berkomunikasi, menuntut ilmu yang islami, berteknologi, berbudaya sampai berdakwah. Berdakwah? Ya, bisa jadi. Bila tidak hati-hati, isinya menyampaikan rukun islam, tapi niat dan prosesnya tidak islami.

Untuk Samir Tahar sangat jelas. Dia menukar Islam dengan gemerlap dunia, saat itu Allah menyatakannya dalam Al Quran : “…. Ia lebih dekat dengan kekafiran daripada keimanan…” (QS. 3: 167). Kalimat ini berada dalam untaian beberapa ayat bertopik munafik. Lebih jelas lagi ditegaskan dalam (QS.4:138-139), Samir Tahar yang bermesraan dengan Yahudi sebagai penolong. Dia mendapat vonis munafik.

***

Kita memang bukan Samir Tahar. Tapi bukankah kita juga selalu berada di antara kekafiran dan keimanan?

Ketika boros membeli makanan, menerobos lampu merah, membiarkan keluarga menonton sinetron tak berguna. Acuh ketika akidah di liberalkan, kita bachil ketika muslim di Rohingya kelaparan dan tersiksa. Dihias dengan ideologi : Kapitalis, komunis, pagan, sekuler sampai pragmatis. Saat-saat seperti itu : Di manakah posisi keimanan kita?

Ketika detail serta tingkatan munafik berlapis-lapis, yang batas-batas mendungnya tumpang tindih, kekafiran dan kemunafikan bukan hanya mengincar kita, jangan-jangan kita sudah tegak bermegah-megah di dalamnya.

“Ya. Allah ampuni kami.”

*) Penyuka sastra dan teknologi, di Jember.

*******

Republika.co.id