Mendidik Generasi Toleran

– Paulus Mujiran,Penulis

Jakarta, Garut News ( Selasa, 10/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Babancong. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Babancong. (Foto : John Doddy Hidayat).

Menggejalanya praktek intoleransi keagamaan belakangan ini terjadi karena dilupakannya pendidikan toleransi bagi generasi muda.

Berdasarkan kovenan Agama dan Kepercayaan PBB 1981, diskriminasi dan intoleransi diartikan sebagai pembedaan, pengecualian, dan pembatasan yang didasarkan pada keyakinan yang mengakibatkan terganggunya penikmatan, pengakuan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan fundamental secara setara.

Intoleransi, karena itu, berada dalam ranah pengetahuan, pembatinan nilai yang mempribadi, sementara prakteknya berupa aksi kekerasan yang terungkap terhadap orang lain.

Generasi yang toleran dan empati kepada orang lain dibentuk melalui proses panjang pendidikan dan campur tangan banyak orang.

Sering ada anggapan, menghormati mereka yang berbeda pandangan dan keyakinan terjadi secara otomatis seiring dengan perkembangan kedewasaan seseorang.

Ternyata tidak demikian.

Menjadi sosok yang toleran harus dibudayakan melalui kebiasaan yang ditanamkan dalam praksis pendidikan.

Hidup bersama orang lain tidak otomatis menjadi rukun manakala masing-masing pihak tidak pernah mengusahakannya.

Yang menjadi persoalan, pendidikan kerap kali justru memicu bibit-bibit intoleransi kepada orang lain.

Praktek intoleransi tidak hanya berakar pada persoalan agama, tapi juga berurat-berakar pada kesenjangan sosial, ekonomi, serta perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh modernisasi/globalisasi.

Pertama, mendidik generasi toleran dapat dimulai dengan pendidikan di bangku sekolah.

Kurikulum pendidikan dan tenaga pengajar perlu disiapkan sejak dini untuk membentuk generasi baru yang toleran.

Sekolah dengan komunitas heterogenitasnya menjadi tempat yang paling memungkinkan.

Eksplorasi perbedaan sebagai kekayaan hidup bersama dapat dimulai di sekolah.

Perjumpaan dengan keyakinan lain, sosial-ekonomi orang lain, dapat diarahkan untuk menyemaikan penghargaan bahwa perbedaan itu indah.

Perbedaan itu memperkuat dan memperkaya hidup bersama.

Keterampilan guru dalam mendidik generasi toleran akan berbuah manis di masa depan.

Kedua, generasi muda toleran juga dapat dibentuk dalam kehidupan masyarakat.

Lembaga-lembaga yang sudah ada, seperti karang taruna, forum anak desa, dan perkumpulan-perkumpulan remaja, dapat dipergunakan untuk menyemaikan toleransi di antara sesama.

Perjumpaan antar-anak muda perlu dipikirkan melibatkan orang lain lintas iman.

Kegiatan yang hanya melibatkan orang seagama, seperti yang selama ini dikembangkan, justru semakin memperkuat kesenjangan dengan agama-agama lain.

Harus disediakan forum-forum lintas iman sejak masih muda.

Ketiga, forum lintas iman yang selama ini sudah ada perlu lebih diberdayakan.

Selama ini, gerakan-gerakan semacam ini baru dipandang penting setelah ada kejadian buruk. Masalah yang sebenarnya sepele dibesar-besarkan, karena besarnya kesenjangan dan tiadanya jembatan.

Pendidikan generasi toleran memang harus disiapkan secara lebih sungguh-sungguh.

Memelihara iman anak-anak muda penting, tapi jangan dilupakan untuk membentuknya menjadi generasi yang lebih peduli dan toleran.

Generasi toleran adalah kekuatan bagi bangsa masa depan.

Investasi dalam mendidik anak-anak muda ini akan sangat bermanfaat di masa mendatang.

Karena itu, gerakan-gerakan mendidik generasi toleran yang mulai berkembang perlu terus didukung. *

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts