Mencari Makna Dukungan UAS kepada Prabowo

0
15 views
Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bertemu dengan Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam pertemuan tersebut, UAS memberikan doa, nasihat dan hadiah berupa minyak wangi serta sebuah tasbih kesayangan UAS. (Foto: Dok. Tangkapan Layar/Istimewa).

Jum’at 12 Apr 2019 07:17 WIB
Red: Hasanul Rizqa

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bertemu dengan Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam pertemuan tersebut, UAS memberikan doa, nasihat dan hadiah berupa minyak wangi serta sebuah tasbih kesayangan UAS. (Foto: Dok. Tangkapan Layar/Istimewa).

“Pilihan politik Ustaz Abdul Somad hendaknya dihormati”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Oleh: Hasanul Rizqa

Kabar itu tiba menjelang azan waktu maghrib kemarin, Kamis (11/4). Stasiun televisi TvOne menyiarkan rekaman video yang menampilkan Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Prabowo Subianto. Kedua tokoh itu bertemu di suatu ruangan sederhana, yang berisi dua buah kursi, sebuah meja, dan tirai berwarna krem.

Hingga berita ini ditulis, Republika.co.id belum berhasil menghubungi UAS. Maka dari itu, maksud pertemuan tersebut juga belum dapat ditegaskan langsung. Demikian halnya dengan lokasi di mana keduanya berjumpa—juga belum dapat ditegaskan.

Di atas itu semua, pesannya jelas. UAS mendukung calon presiden nomor urut 02. Menjelang hari pencoblosan nanti, Rabu (17/4), dukungan UAS jelas memompa semangat para penyokong pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Melansir dari akun YouTube TvOne, Jumat (12/4), video berdurasi 13 menit 52 detik itu berjudul “Dialog Prabowo-Ust Somad.” Hingga kini, video tersebut telah dilihat sebanyak 1.567.346 kali. Adapun para penyuka (like) sebanyak 110 ribu klik, sedangkan yang tidak menyukainya (dislike) sebesar 3.900 klik.

Dialog itu sendiri dibuka oleh Prabowo yang menghaturkan terima kasih lantaran UAS bersedia menerimanya sebagai tamu. Kemudian, ketua umum Partai Gerindra itu mengakui dai tersebut sudah sering keliling Tanah Air untuk menyampaikan ceramah agama. Lantas, Prabowo meminta UAS untuk menceritakan, apa saja pengalamannya selama safari dakwah akhir-akhir ini.

Yang ditanya kemudian menyampaikan pengalamannya. UAS mengungkapkan, betapa banyak jamaah yang mengacungkan “dua jari”, yakni penanda dukungan terhadap pasangan calon nomor urut 02.

“Saya bilang, kalian kan punya jari 10. Kenapa yang diangkat cuma dua? Itu saya ucapkan untuk menetralisir. Karena ini kan ada Panwaslu, Banwaslu. Saya tak ingin tabligh akbar menjadi politik. Sampai protokol bilang, ‘Jamaah, jangan acungkan jari,’” papar UAS.

“Itu di mana-mana, Ustaz?”

“Di mana-mana,” sambung Ustaz Abdul Somad.

Alumnus Universitas al-Azhar (Mesir) itu pun meneruskan ceritanya. Untuk menetralkan suasana, supaya tak kian politis, UAS pun mengajak segenap hadirin untuk bershalawat. Namun, apa daya, toh sejumlah jamaah tetap mengacungkan “dua jari.” UAS pun mengungkapkan—ketika ditanya lagi oleh Prabowo—kejadian semisal itu terjadi rata-rata di tiap lokasi ceramahnya. “Dari mulai ujung Aceh, sampai Pulau Madura, sampai ke Sorong,” kata sang penceramah.

Sampai di sini, terkenang posting teranyar Ustaz Abdul Somad melalui akun Instagram resminya. Dalam itu, ditampilkan jalinan gambar-gambar foto hasil jepretan drone. “(Di) Palu, Sorong, Tangerang, Banjarbaru, Aceh, Tasikmalaya, Jambi, Solok, Jakarta, Ketapang, Probolinggo, Batusangkar, Inhu (Riau), Bukittinggi, Pandeglang, Medan, Pasaman, Pasaman Barat, Perak – Kuala Lumpur – Kelantan (Malaysia), Tebingtinggi, Bandung, Gorontalo, Tenggarong, Banjarmasin, Lubuklinggau, Sijunjung, Semarang, Bengkalis, Dumai, dan lain-lain,” tulis UAS, Selasa (9/4).

“Ya Allah, beri kami kemampuan untuk mengubah kerumunan menjadi kekuatan ekonomi dan politik,” sambung tulisan yang sama.

Maka, postingan Instagram tersebut boleh jadi sinyal tentang arah dukungan politik UAS, yakni sebelum pertemuan dengan Prabowo yang disiarkan kemarin.

Kembali ke dialog UAS-Prabowo. Alumnus Darul Hadis (Maroko) itu lantas menyampaikan bagaimana dirinya bisa mendukung mantan Komandan Jenderal Koppasus itu.

Pertama-tama, Ijtima Ulama. Seperti diketahui, Ijtima Ulama I, yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menyodorkan nama Prabowo Subianto sebagai calon presiden, sedangkan dua nama—politikus PKS Salim Segaf dan UAS—sebagai calon wakil presiden. Atas saran GNPF Ulama itu, UAS sendiri menyatakan menolak maju sebagai cawapres, meski menyatakan dukungan tersirat atas pencalonan Prabowo-Salim Segaf.

Namun, belakangan Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno, yang saat itu duduk sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Toh Ijtima Ulama II GNPF Ulama menyetujui pencalonan Prabowo-Sandiaga, pada Ahad (16/9/2018) silam.

Bagi UAS kini, dua ijtima tersebut merupakan amanat. Kepada Prabowo langsung, dia menyampaikan pentingnya menjaga amanat. “Jadi saran Pak Ustaz, apa yang harus saya lakukan?” tanya Prabowo kemudian.

UAS menasihati, ujian hidup yang paling besar ialah menjadi pemimpin. Diceritakannya, Imam Ahmad bin Hambal pernah menuturkan, seandainya satu saja doanya dikabulkan oleh Allah, maka bunyi doa itu adalah meminta pemimpin yang adil bagi umat Islam.

UAS menyinggung pentingnya pemimpin dalam mewujudkan keadilan distributif. Jika seorang pemimpin adil, maka seluruh rakyat mendapatkan keadilan.

Toh ijtima ulama masih belum meyakinkan UAS saat itu. Dia masih sangat berhati-hati.

Hingga akhirnya UAS berkesempatan menemui para ulama sufistik, yang tak disebutkan namanya.

“Saya khawatir, jangan-jangan saya tertipu oleh Pak Prabowo. Oleh karena itu, saya mencari ulama yang tidak masyhur, tidak populer. (Ada) ulama yang masyhur yang di Youtube, yang di TV, tapi ini ulama yang tak dikenal orang, tapi mata batinnya bersih. (Kepada mereka) Allah bukakan hijab kepada dia, (yakni) ulama-ulama yang tidak perlu materi,” tutur Ustaz Abdul Somad.

“Mungkin Bapak (Prabowo) tak kenal mereka. Dan saya tak pernah tanya ke mereka, ‘kira-kira saya pilih yang mana?’ Tidak. Saya biarkan mereka membaca hati saya. Mengertikah dia? Ketika datang, saya dekatkan telinga, apa kata dia? (Ulama sufi mengatakan) ‘Saya mimpi lima kali ketemu dia.’ Saya tanya, ‘Siapa?’ Prabowo,” sambung Ustaz Abdul Somad lagi.

“Kalau mimpi satu kali, boleh jadi itu dari setan. Ini lima kali. Dia mimpi, dia melihat Bapak (Prabowo), itu signal dari Allah,” lanjutnya.

Ulama-sufi berikutnya yang dikunjungi diceritakannya memiliki kecenderungan wara’, yaitu berhati-hati terhadap perkara duniawi. Misalnya, ulama yang lagi-lagi tak disebutkan namanya itu hanya mau makan dan minum dari hasil jerih payah tangannya sendiri.

Dia juga hanya menerima kunjungan orang-orang yang nirpamrih. Karena itu, cerita UAS, dirinya sempat merasa takut kedatangannya tidak akan diterima. Ternyata, bukan hanya diterima, tuan rumah juga mengajaknya berbincang-bincang 30 menit lamanya.

“Di akhir pertemuan, dia bilang, ‘Prabowo,'” kenang UAS.

Karena pengalaman-pengalaman itulah, sambung Ustaz Abdul Somad, dirinya sempat merasa gamang. Kecenderungannya sudah memilih Prabowo, tetapi apakah perlu menyampaikannya langsung kepada capres tersebut dan publik?

Untuk diketahui, setidak-tidaknya sejak akhir Maret 2019, peraih anugerah Tokoh Perubahan Republika 2017 tersebut cenderung menghindari awak media, terlebih dalam konteks pilpres. Dalam perbincangan dengan Republika.co.id pada 30 Maret 2019, UAS berkata, “Kucing-kucingan menjelang Pilpres. Harap maklum.”

Akan tetapi, pada faktanya, kini UAS telah bertemu Prabowo dan membolehkan salah satu media TV nasional menyiarkannya. Boleh jadi, segenap kunjungan ke para ulama-sufistik itu mengubah pendiriannya untuk “kucing-kucingan” terhadap media, yakni enggan menyebutkan pilihan politiknya.

“Jadi, saya berpikir lama. Ini kalau saya diamkan sampai pilpres (17 April 2019), (tapi) kenapa mereka (para ulama sufi) cerita ke saya? Tiap malam saya berpikir, berarti saya harus sampaikan. Kalau tidak, berarti seumur hidup nanti saya (kemudian) mati dalam penyesalan, ‘Abdul Somad, kenapa kau tidak ceritakan?’” papar UAS.

“Setelah ketemu ini, selesai. Kuserahkan semua kepada Allah SWT. Apa y

Pesan terkait Pribadi

Dalam pertemuan ini, terlihat sesekali Prabowo menyeka matanya. Tampak mantan Komandan Jenderal Koppasus itu terharu dengan doa dan kata-kata Ustaz Abdul Somad tentang makna keikhlasan dan kepemimpinan.

Sempat pula UAS menyampaikan pesan kepada Prabowo bila calon presiden yang didampingi Sandiaga Uno itu menjadi presiden Republik Indonesia 2019-2024.

“Kalau Bapak duduk jadi presiden, terkait saya pribadi, dua saja. Pertama, jangan Bapak undang saya ke istana. Biarkan saya berdakwah, masuk ke hutan, karena memang dari awal saya orang kampung, saya (sering) masuk ke hutan-hutan. Kedua, jangan Bapak beri saya jabatan, apa pun,” UAS menegaskan.

Sebelum pertemuan itu ditutup doa bersama, Ustaz Abdul Somad memberikan hadiah kepada Prabowo. Salah satunya berupa minyak wangi kayu gaharu. Itu baginya menyimbolkan, “Supaya Bapak (Prabowo) menebarkan keharuman di negeri ini (Indonesia).” Hadiah kedua ialah tasbih. Dengan itu, UAS mengajak Prabowo agar gemar berzikir, terutama di kala sepi atau shalat malam.

Makna Dukungan UAS kepada Prabowo?

Sebelum “geger” siaran video TvOne kemarin, sebenarnya sudah ada pula tayangan video lain yang mengisyaratkan dukungan “UAS” (dalam tanda petik) kepada calon presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah ceramahnya.

Potongan video tentang ceramah UAH tersebut sudah ramai di jagad media sosial setidaknya sejak awal pekan lalu. Di dalamnya, UAH mengimbau agar jamaah tidak menyudutkan ulama-ulama yang punya pilihan politik ke pasangan tertentu, baik 01 maupun 02.

Secara kelakar, UAH juga menuturkan bahwa seorang (Ustaz) Ahmad Heryawan–disingkat “UAH”--cenderung memilih capres Prabowo Subianto. Demikian pula dengan (Ustaz) Ahmad Syaikhu, yang disingkat UAS.

“UAH sama UAS sahabatan, pilih nomor 02, ya enggak apa-apa,” tutur Ustaz Adi Hidayat dalam potongan video itu.

Tentu saja, “UAH” tersebut merujuk pada mantan gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Namun, kini jelas publik dapat merujuk “UAS” bukan hanya pada politikus PKS Ahmad Syaikhu, tetapi juga Ustaz Abdul Somad.

Mengikuti nasihat dari UAH, alangkah baik bila makna dukungan UAS tidak ditanggapi secara frontal, apalagi sampai menyudutkan atau menjelek-jelekkannya. Tidak ada alasan untuk merundung sosok kelahiran Asahan (Sumatra Utara) 41 tahun silam ini hanya lantaran pilihan politiknya.

Sebab, UAS tidak beda dengan publik pada umumnya, yakni sama-sama warga negara Indonesia. Tiap warga berhak memiliki pilihan politik masing-masing dan menyiarkan pilihan politiknya itu bebas, tanpa tekanan siapapun. Terlebih, di dalam alam demokrasi “one man one vote” semisal saat ini.

******

Republika.co.id

SHARE
Previous articleJangan Curang
Next articleDebat Pilpres tanpa Perempuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here