You are here
Menantu Allah ARTIKEL 

Menantu Allah

Amarzan Loebis

Garut News ( Selasa, 19/11 ).

Ilustrasi. (ist).
Ilustrasi. (ist).

PADA suatu malam, seseorang menggedor pintu rumah Nasruddin Hoja.

Dari dalam rumah Nasruddin menyergah, “Siapa?!”

Yang di luar tak kalah galak, “Saya menantu Allah!”

Tercenung sejenak, Nasruddin melanjutkan pertanyaan, “Ada apa menantu Allah datang ke sini?”

Terdengar jawaban, “Hendak menumpang bermalam.”

Terdiam sekejap, Nasruddin berseru, “Tunggu sebentar!”

Tokoh cerdik cendekia yang di dunia kesufian Timur Tengah dipanggil Mullah Nasruddin itu segera merapikan kemejanya, mengenakan jubahnya, memasang tarbusnya, kemudian ke luar rumah.

Dibimbingnya tangan “menantu Allah” itu ke suatu arah, sampai mereka berhenti di depan masjid.

“Bermalamlah di sini,” kata Nasruddin.

“Ini rumah mertuamu.”

Sudah mulai banyak pelaku politik yang menyebut tahun yang akan datang, 2014, sebagai “tahun politik”.

Ini tak ubahnya membuka kedok sendiri: bagi mereka, berpolitik hanya cukup lima tahun sekali.

Selebihnya apa?

Kalau melihat gelagat belakangan ini, selebihnya mungkin diisi oleh kesibukan menyembunyikan harta curian, menceraikan istri simpanan, mengatur persekongkolan yang kian terpendam, membayar lembaga survei yang bisa diajak meningkatkan “elektabilitas seolah-olah”, atau malah mulai berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Ada juga kesibukan yang tak kalah mulia: membentuk perkumpulan baru non-partai, meski tak jelas tujuannya apa.

Perkumpulan jenis ini bukan main tangguhnya.

Begitu terbentuk, misalnya, langsung terkumpul dana operasional Rp1 miliar untuk aktivitas setahun ke depan.

Bahwa dana itu kemudian “tersita” oleh para penggeledah Komisi Pemberantasan Korupsi, tentulah itu urusan kecelakaan belaka.

Pada saat-saat menyongsong “tahun politik” itulah kita tiba-tiba bersirobok dengan sejumlah “menantu Allah” yang tak tahu di mana rumah mertuanya.

Wajah mereka muncul dalam berbagai cara yang didesak-desakkan, masuk ke ruang pribadi kita tanpa diundang karena sebagian mereka menguasai perangkat penyiaran yang frekuensinya sesungguhnya milik kita pula.

Tanpa rasa malu, mereka berusaha merobek akal sehat dan nalar kritis kita-bahkan sering dengan cara yang bisa dikategorikan sebagai kampungan.

Seorang “menantu Allah”, misalnya, berjanji jika terpilih sebagai presiden akan mengutamakan pendidikan.

Padahal, semua orang tahu berapa banyak anak yang telantar pendidikannya karena rumah dan gedung sekolah mereka terbenam oleh lumpur yang menyembur akibat hasrat serakah mengeduk perut bumi di bagian timur Pulau Jawa sana.

Ada pula “menantu Allah” yang bercita-cita menggerakkan segenap potensi rakyat demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam naungan Indonesia Raya.

Alhamdulillah.

Cuma, ingatan kolektif kita masih terlalu singkat untuk melupakan “hal-hal yang belum selesai” dari rekam jejak “menantu Allah” yang satu ini.

Kalau perkara cita-cita, mana ada “menantu Allah”yang berani menguar-uarkan cita-citanya yang tidak terpuji?

Makin dekat dengan “hari-H” pemilu, akan semakin banyak pula “menantu Allah” yang berseliweran di depan ruang kesadaran kita, mencumbu dengan berbagai rayuan gombal dan rayuan maut, pokoknya dengan tujuan yang menghalalkan segala cara.

Pohon dan taman kota akan dipenuhi foto-foto raksasa orang-orang yang tidak kita kenal, atau kita kenal tapi lebih sering kita gunakan sebagai bahan lelucon sontoloyo.

Adapun cita-cita kita sendiri sangatlah sederhana, yakni menuntun tangan mereka, seperti yang dilakukan Nasruddin terhadap “menantu Allah” yang mengetuk rumahnya tanpa diundang, dan menunjukkan kepada mereka rumah “mertua”-nya.

**** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment