Memotret Wajah Wilayah Cihurip Dikepung Perbukitan Terjal

Cihurip, Garut News ( Ahad, 04/05 – 2014 ).

Salah Satu Tebing Tinggi, dan Terjal di Wilayah Kecamatan Cihurip.
Salah Satu Tebing Tinggi, dan Terjal di Wilayah Kecamatan Cihurip.

Memotret wajah wilayah kecamatan Cihurip di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kawasan selama ini cukup terpencil berjarak sekitar 60 km arah selatan dari pusat Kota Garut.

Selain terpencil, juga masih dilintasi ruas badan jalan berkondisi terjal, sarat bebatuan bahkan nyaris sepanjang perjalanan menyisir tebing curam, serta sarat jurang menganga dalam.

Wilayah ini, antara lain memiliki potensi produk unggulan gula aren benar-benar asli.

Berbahan baku air nira yang disadap dari pohon enau.

Menyusuri Sarat Lintasan Ruas Jalan Terjal, Berbatu, Bertebing serta Jurang Curam.
Menyusuri Sarat Lintasan Ruas Jalan Terjal, Berbatu, Bertebing serta Jurang Curam.

Sedangkan pohon enau tersebut, sejak puluhan hingga ratusan tahun lalu, bisa berkembang biak dengan budidaya alami melalui media “careuh”, atawa musang.

Buah enau yang dikonsumsi musang tersebut, kemudian bijinya tersebar di mana pun dari kotoran jenis satwa ini.

Kecamatan itu seluas sekitar 4.042 hektare, dengan sekurangnya memiliki empat desa, terdiri Desa Cihurip, Cisangkal, Jayamukti, dan Desa Mekarwangi.

Dalam pada itu, Kabupaten Garut pada awal 2004 dilaksanakan pemekaran dua wilayah kecamatan, sehingga seluruh wilayah kecamatan menjadi 42, dengan 19 kelurahan, dan 400 desa.

Rumah Sederhana Penduduk Tetapi Berparabola.
Rumah Sederhana Penduduk Tetapi Berparabola.

Seluruhnya terbaring bisa pada wilayah seluas 306.519 Ha.

Hingga 2013 Kabupaten Garut memiliki 42 Kecamatan, dengan 21 Kelurahan dan 403 Desa.

Kecamatan Cibalong, kecamatan berwilayah terluas atawa mencapai 6,97% wilayah Kabupaten Garut maupun seluas 21.359 hektare.

Sedangkan kecamatan Kersamanah, wilayah terkecil atawa 1.650 hektar maupun 0,54 persen.

Sebagai Kabupaten areal wilayahnya cukup luas, tentu memiliki banyak permasalahan intern, dan ekstern pada penyelenggaraan pemerintahannya.

Inilah Wajah Pemukiman Sebagian Besar Penduduk Cihurip.
Inilah Wajah Pemukiman Sebagian Besar Penduduk Cihurip.

Dengan segala kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Sehingga patut diterapkan arah kebijakan pembangunan, dan strategi tepat, dengan komitmen meningkatkan daya guna, dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan pada masyarakat.

Pada periode Kabupaten Balubur Limbangan beribukota di Suci, cikal bakal Kabupaten Garut hingga periode setelah muncul nama resmi “Kabupaten Garut”, terdapat 24 bupati.

Seperti dijelaskan pada Sejarah Singkat Garut, pembentukan Kabupaten Limbangan-baru berdasar Surat Keputusan Raffles, Letnan Gubernur (Lieutenant Governor) di Indonesia, 16 Februari 1813.

Kantor Kecamatan Cihurip. (Jum'at, 02/05-2014).
Kantor Kecamatan Cihurip. (Jum’at, 02/05-2014).

Bupati saat itu, RAA Adiwijaya (1813-1831), karena itu jika perhitungan masa pemerintahan Kabupaten Garut berawal dari sini maka RAA Adiwijaya, Bupati Garut pertama.

Sejak 1 Juli 1913 Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut, pada masa pemerintahan periode keempat sejak 1813, yakni masa Bupati RAA Wiratanudatar (1871-1915), berdasar Surat Keputusan Gubernur Jenderal, 7 Mei 1913 (Staatsblad Van Nederlandsch-Indie No.356: Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch-Indie van 7 Mei 1913 No. 60).

Dengan demikian, bisa dikatakan RAA Wiratanudatar, Bupati pertama memimpin wilayah pemerintahan bernama Kabupaten Garut.

Lintasan Ruas Badan Jalan Rusak Berat pun Terpaksa Dilalui.
Lintasan Ruas Badan Jalan Rusak Berat pun Terpaksa Dilalui.

Pada 14 Agustus 1925, berdasar keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan daerah pemerintahan berdiri sendiri (otonom).

Ini terjadi pada masa pemerintahan RAA Soeria Kartalegawa menjadi Bupati kelima sejak 1813 atawa Bupati kedua sejak muncul nama Kabupaten Garut.

Sehingga, RAA Soeria Kartalegawa bupati pertama memimpin Kabupaten Garut sebagai  daerah otonom.

Pada zaman kolonial Belanda, pergantian bupati berlaku di Kabupaten Garut identik dengan berlaku di kerajaan-kerajaan kuno Indonesia, apabila Bupati meninggal atawa berhenti karena, maka berhak menggantikan putera laki-laki tertua atawa menantu laki-laki.

Guru Sukwan di Cihurip.
Guru Sukwan di Cihurip.

Kalau pun tak demikian, penggantinya masih memiliki hubungan darah atawa kekerabatan dekat.

Dari masa ke masa, tercatat bupati pertama RAA Adiwijaya (1813-1831) digantikan puteranya RAA Kusumadinata (1831-1833) bupati kedua.

Kemudian bupati kedua diteruskan menantunya Tumenggung Jayadiningrat (1833-1871) bupati yang ketiga.

Masih memiliki ikatan kekeluargaan, bupati ketiga digantikan RAA Wiratanudatar (1871-1915) bupati keempat.

Kemudian bupati keempat digantikan keponakannya, Adipati Suria Kartalegawa (1915-1929) menjadi bupati kelima.

Para Pendidik di Cihurip.
Para Pendidik di Cihurip.

Selanjutnya, ia diteruskan puteranya Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa (1929-1944)  bupati keenam.

Dalam sejarah Garut, tercatat periode Bupati terlama memimpin hingga mencapai lebih 40 tahun yakni RAA Wiaratanudatar (1971-1915).

Sedikitnya terdapat tiga Bupati memimpin kurang dari satu atawa dua tahun seperti R. Tumenggung Endung Suriaputra (1944-1945) maupun Letkol Akil Ahyar Masyur (1966-1967).

Pohon Enau Atawa Aren, Juga Menghasilkan Kolang-Kaling.
Pohon Enau Atawa Aren, Juga Menghasilkan Kolang-Kaling.

Sejarah juga mencatat, sejak pemilihan bupati berdasar periode waktu, belum terdapat Bupati Garut memegang masa jabatan lebih dari satu periode.

 

 

Esay : Pelbagai Sumber/JDH.

Fotografer : John Doddy Hidayat.

Related posts