Memotret Sapi Pameungpeuk Terdampak Terjangan Kekeringan

0
23 views
Koloni Sapi Pameungpeuk Mencari Pakan.
Mengonsumsi Pakan di Areal Persawahan Gagal Panen.

“Tak hanya Berdampak Pada Petani Gurem”

Garut News ( Kamis, 26/09 – 2019 ).

Areal Persawahan di Kecamatan Pameungpeuk sejak 31 Agustus 2019 mengalami gagal panen mencapai 310 hektare lantaran diranggas kekeringan kemarau panjang, yang paling parah di Kabupaten Garut, Jabar.

Tersebar pada delapan desa, yang penanganannya tak bisa dilakukan dengan upaya gilir giring. Berdampak pula pada sapi peliharaan masyarakat, semakin sulit terpenuhinya kebutuhan pakan secara memadai.

Diterjang Kekeringan Sejauh Mata Memandang.

Terdapat sekitar 11.959 penduduk dari 3.013 KK terdampak kekeringan di kabupaten ini, sekarang terancam rawan pangan lantaran mereka mengalami rawan daya beli akibat hilangnya penghasilan, mendapatkan bantuan 33.482,2 kg beras guna memenuhi kebutuhan pokok pangannya.

Buruh tani tersebut tersebar pada 15 desa, dan dua kelurahan di tujuh wilayah kecamatan. Umumnya berada di wilayah selatan Garut, terdiri Kecamatan Pameungpeuk, Cisompet, Cikelet, Mekarmukti, dan Kecamatan Pakenjeng.

Sumber Air Sungai Utama di Kecamatan Pameungpeuk Menyusut Drastis.

Sedangkan dua kecamatan lainnya di wilayah tengah meliputi Kecamatan Garut Kota, dan Kecamatan Karangpawitan.

“Kita mengambil beras cadangan pemerintah di Gudang Bulog, diambil masing-masing kepala desa untuk disalurkan ke warganya benar-benar berkondisi mengkhawatirkan,” ungkap Kabid Jaminan Perlindungan Sosial Dinsos Garut Heri Gunawan didampingi Kasi Perlindungan Sosial Budiyana, Rabu.

Dikepung Kekeringan.

Total bantuan beras itu 33, 5 ton atau 33.482,2 kilogram. Dengan asumsi setiap orang mendapatkan bantuan 0,4 kilogram per hari untuk selama tujuh hari.

“Sebenarnya penderita rawan daya beli di Garut jumlahnya lebih dari yang baru bisa kita tangani. Kita pun berupaya selektif , mereka benar-benar rawan daya beli, dan memang mendesak membutuhkan bantuanlah diberikan bantuan beras pemerintah,” ujar Budiyana.

Nyaris Menyerupai Padang Pasir.

Dinas pertanian mencatat hingga 15 September 2019 terdapat sedikitnya 15.645 KK petani, setara 78.225 orang, di Garut terdampak kekeringan mengalami rawan daya beli.

Dari seluas 42.663 hektare lahan sawah di Garut, seluas 3.129 hektare di antaranya diterjang kekeringan bahkan seluas 1.940 hektare gagal panen. Sedangkan luas areal sawah terancam mencapai 2.525 hektare.

Miris.

“Wilayah selatan paling parah dirangga kekeringan, juga sebagian wilayah utara,” ungkap Kepala Seksi Serelia Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Garut, Endang Junaedi.

Dikatakan, areal pertanian terdampak kekeringan tak hanya tanaman padi sawah persawahan, melainkan pula komoditas lain seperti jagung, kedelai, cabe, bawang merah, dan lainnya.

Produk Semangka Pameungpeuk pada Kemarau Panjang.

Hingga akhir Agustus 2019, tercatat tanaman jagung gagal panen mencapai 1.196 hektare dari total lahan tanaman terserang kekeringan 1.602 hektare, kedelai diranggas kekeringan mencapai 313 hektare, cabe merah kekeringan 13 hektare, serta bawang merah 20 hektare.

Menyusul raibnya produksi 15.531.375 Kg GKG menjadikan petani padi sawah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga 13 September 2019 kehilangan  penghasilannya mencapai  Rp85.422.563.050 dengan asumsi harga GKG Rp5.500 per kilogram,-

Besarnya kehilangan penghasilan petani itu, berdampak sosial penurunan daya beli terutama bagi 15.645 KK petani gurem yang tergabung dalam 209 kelompok, mereka menghidupi 78.225 anggota keluarga.

Nelayan Pameungpeuk Masih Menunggu Perkembangan Ketinggian Ombak, Kerap Mencapai Ketinggian Tiga Hingga Delapan Meter.

Dampak kekeringan juga diperparah serangan hama tikus meranggas 135 hektare dengan menghilangkan produksi 119.900 kilogram GKG bernilai Rp659.451.000 namun 96 hektare gencar dilakukan gerakan pengendalian serangan pololasi hama tikus pada 20 wilayah kecamatan.

Akibat kekeringan ini pun belum termasuk kehilangan penghasilan dari jenis tanaman hortikultura, juga besarnya kehilangan penghasilan 15.531.375 kilogram GKG disetarakan dengan 9.629.452 kilogram beras bernilai Rp105.923.972.000 dengan asumsi harga setiap kilogram beras Rp11 ribu.

Demikian pula akibat serangan tikus menerjang 119.900 kilogram GKG dengan kerugian Rp659.451.000 disetarakan dengan 74.538 kilogram beras bernilai Rp817.718.000,-

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here