Memotret Saatnya Kini Berperang Melawan Kemiskinan/Kebodohan

0
17 views
Warisan Kaum Penjajah.

“Dirgahayu Hari Pahlawan 10 November 1945 – 10 November 2017”

Garut News ( Sabtu, 11/11 – 2017 ).

Warisan Kaum Penjajah.

*********** Foto berita Garut News pada akhir pekan ini, Sabtu (11/11-2017), menampilkan rangkaian gerbong panjang dari moda angkutan penumpang, dan barang berjenis “Kereta Api” (KA) bermesin Diesel saat melintasi jembatan yang menghubungkan lembah Lingkar Nagreg.

Harus Bisa Menyejahterakan.

********** Jembatan kokoh berkonstruksi beton bertulang tersebut, dibangun sejak ratusan tahun lalu oleh kolonial Belanda untuk menunjang kelancaran juga kecepatan mobilisasi transfortasi angkutan bagi kepentingan ekonomi maupun pertahanan kaum penjajah.

Lantaran lintasan rel KA tersebut, antara lain membentang dari Batavia (Jakarta) hingga Soerabaya (Jawa Timur) melewati tiga wilayah provinsi, serta puluhan kabupaten, dan kota.

Sehingga ketersediaan infrastruktur jalan dan jembatan KA itu, kian menjadikan kaum penjajah pada jamannya semakin mudah juga cepat memerluas penguatan cengkeraman kekuasaannya pada setiap jengkal seluruh tanah jajahannya khususnya di Pulau Jawa.

Menjangkau Bentangan.

*********** Selain sangat memudahkan maupun memerlancar mereka mengangkut ragam jenis hasil bumi dari tanah jajahan untuk dibawa ke pelabuhan – pelabuhan, kemudian diperjual-belikan atau diekspor. Juga termasuk diangkut ke negeri kincir angin untuk kesejahteraan kaum penjajah.

“Kini Saatnya, Kita Berperang Melawan Kemiskinan/Kebodohan”

Pada momentum memeringati Hari Pahlawan, 10 November 1945 – 10 November 2017. Berawal peristiwa pertempuran para pahlawan di Surabaya. Dengan tekad kuat Para Pahlawan memertahankan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

*********** Tentara Inggris menyerang Surabaya dan membombardirnya, mereka kira Indonesia bisa di taklukkan dalam waktu tiga hari, ternyata di bawah kepemimpinan Bung TOMO, Indonesia tak gentar melawan tentara Inggris. Pertempuran redam dalam waktu tiga pekan dengan mengorbankan enam ribu hingga 16 ribu pejuang. Sehingga Surabaya disebut sebagai Kota Pahlawan.

Perjuangan saat itu, selain Bung Tomo ada beberapa tokoh ikut bergabung dari latar belakang Agama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan kyai-kyai yang diikuti santri lainnya serta masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa perang besar antara Pasukan Indonesia dengan Pihak Asing setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.

*********** Perang ini menjadi Perang terbesar, dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

“Maka kini, saatnya kita melawan kemiskinan dan kebodohan khususnya pada era pasca reformasi ini, Sekaligus melawan ragam jenis penjajahan yang bisa memiskinkan juga pembodohan”

**********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.