Memotret Kemunafikan dan Watak Lemah Kita

0
43 views
Lintasan Jalan Patriot hingga Jalan Pahlawan (Kompleks) Kantor Bupati Garut, Jabar, Mendadak - Sontak Menjadi Kawasan Bebas Ragam Aktivitas PKL.

Garut News ( Sabtu, 19/01 – 2019 ).

Lintasan Jalan Patriot hingga Jalan Pahlawan (Kompleks) Kantor Bupati Garut, Jabar, Mendadak – Sontak Menjadi Kawasan Bebas Ragam Aktivitas PKL.

Foto berita Garut News pada akhir pekan ini, Sabtu ( 19/01 – 2019 ), memotret kemunafikan kita sebagai individu maupun lembaga yang antara lain kerap tak terbiasa mau berpenampilan apa – adanya.

Padahal kemunafikan yang diperparah watak yang lemah tersebut, bisa mewujudkan kebijakan yang sangat “instan” maupun “tabrak lari”. Sehingga tak lagi berpikir pentingnya menjalani proses upaya yang visioner.

Mendadak Sontak Pula Trotoar Bisa Kembali Dinikmati Fungsinya.

Indikasinya pada seputar kawasan Kota Garut dan sekitarnya, yang selama ini berantakan nyaris menyerupai kapal pecah akibat disesaki para “pedagang kaki lima” (PKL) bisa mendadak sontak lengang, rapih dan bersih.

Lantaran adanya Kunjungan Kerja Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) beserta rombongan menteri kabinetnya, selama dua hari di Kabupaten Garut, Jum’at – Sabtu (18 – 19 Januari 2019).

Seputar Bundaran Simpang Lima Juga Bebas Aktivitas PKL.

Ternyata keberagaman Bangsa Indonesia memiliki sifat melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Menurut Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977 silam, setidaknya ada enam ciri manusia Indonesia yang hingga kini masih melekat.

Pertama, Hipokritis dan Munafik cukup menonjol di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Sistem feodal masa lalu menekan rakyat Indonesia menjadi sumber hiprokisi yang dahsyat, banyak orang menentang korupsi namun juga turut melakukan korupsi.

Pengkolan, Pusat Kota Garut pun Menjadi Tertib, Tak Semrawut.

Kedua, Enggan Bertanggungjawab atas Perbuatannya. Menurut Mochtar Lubis, kata “Bukan saya” adalah kalimat paling populer di mulut Manusia Indonesia. Kesalahan dilakukan atasan digeser ke bawahannya, dan terus dilakukan sampai pemegang jabatan paling bawah.

Ketiga, Jiwa Feodal. Salah satu tujuan revolusi Kemerdekaan Indonesia membebaskan manusianya dari feodalisme. Namun kenyataannya, bentuk-bentuk feodalisme baru, kian bermunculan hingga kini.

Sikap-sikap feodalisme bisa kita lihat dari bagaimana pemerintah kita dalam urusan jabatan, banyak yang masih mengutamakan hubungan atau kedekatan ketimbang kecakapan, pengalaman, maupun pengetahuannya. Jiwa feodal ini tumbuh subur tak hanya di kalangan atas, namun juga bawah.

Masalah feodalisme ini tak lepas dalam kenyataan hidup berbangsa, dan bernegara di Indonesia ini. Politik ‘bagi kursi’ atau bagi-bagi jabatan yang terjadi dalam kancah politik Indonesia adalah salah satunya.

Keempat, Percaya Takhayul. Tak lepas dari kebudayaan dan tradisi Bangsa Indonesia. Mereka masih percaya benda-benda disembah untuk memeroleh berkah. Tak jarang nyawa pun dipertaruhkan sebagai bagian dari persembahan.

Hingga kini, kita masih melihat secara nyata banyak program televisi menayangkan hal berbau magis dan gaib. 

Kelima, Artistik. Kepercayaan menjadi bagian dari budaya Manusia Indonesia rupanya membawa mereka tumbuh menjadi manusia dekat dengan alam.

Banyak hasil kerajinan masyarakat Indonesia diakui dunia. Sebut saja tembaga, batik, tenun, patung kayu dan batu, hingga ukirannya. Mereka bagian dari daya imaginasi yang tumbuh subur di tengah masyarakat Indonesia.

Keenam, Watak Lemah. Manusia Indonesia memiliki watak lemah serta karakter kurang kuat. Dalam sejarah Indonesia, Presiden Soekarno sosok yang mampu memberikan contoh ciri ini.

Terkait masalah inflasi pernah menyerang Indonesia, Soekarno pernah mengatakan inflasi itu baik demi ‘revolusi Indonesia’. Dampaknya, inflasi di Indonesia mencapai 650 persen dalam setahun setelah ia lengser dari kursi presiden.

Kegoyahan watak akibat dari ciri masyarakat, dan manusia feodal juga. Hal itu hingga kini masih terus ditemukan dalam manusia Indonesia untuk menyenangkan atasan atau menyelamatkan diri sendiri.

Sumber Utama: Manusia Indonesia, Mochtar Lubis (1990).

*********

Fotografer : John Doddy Hidayat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here